UTM Tambah 4 Guru Besar, Total 35 Profesor, Rektor Minta Gelar Tinggi Harus Berdampak Nyata

Jurnalis: Khotibul Umam
Kabar Baru, Bangkalan – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali menambah kekuatan akademiknya dengan mengukuhkan empat guru besar baru, Rabu (22/4/2026). Dengan penambahan ini, jumlah profesor di lingkungan UTM kini mencapai 35 orang.
Pengukuhan tersebut tidak sekadar menjadi capaian akademik, namun juga ditegaskan sebagai titik awal tanggung jawab yang lebih besar. Rektor UTM, Safi’, menekankan bahwa gelar guru besar harus menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
“Ini menjadi kebanggaan bagi kami dengan bertambahnya empat guru besar. Namun gelar tinggi tidak boleh berhenti pada simbol akademik, melainkan harus memberi kontribusi nyata,” ujarnya.
Menurutnya, profesor memiliki peran strategis dalam menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan publik, baik melalui riset, inovasi, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Empat guru besar yang dikukuhkan berasal dari bidang keilmuan yang berbeda, yakni hukum, pertanian, kelautan, dan rekayasa sistem manufaktur. Masing-masing membawa gagasan inovatif yang diarahkan untuk menjawab persoalan nasional.
Di bidang hukum, Eny Suastuti menyoroti korupsi dalam perizinan pertambangan yang dinilai semakin kompleks dan sistemik. Ia menekankan pentingnya pembaruan regulasi serta penguatan pengawasan untuk menutup celah penyimpangan.
Sementara itu, Elys Fauziyah mengangkat transformasi pertanian lahan kering sebagai strategi memperkuat ketahanan pangan. Ia mendorong perubahan paradigma dari keterbatasan menuju pemanfaatan potensi melalui inovasi berbasis efisiensi dan keberlanjutan.
Dari bidang kelautan, Insafitri memperkenalkan konsep “Samudra Harmoni” yang menekankan keseimbangan antara eksploitasi dan konservasi dalam pengelolaan sumber daya laut.
Sedangkan di bidang rekayasa manufaktur, Mohamad Imron Mustajib mengusung transformasi industri perkapalan berbasis teknologi melalui digitalisasi dan otomasi untuk meningkatkan daya saing.
Rektor UTM kembali mengingatkan bahwa capaian sebagai guru besar bukanlah titik akhir dalam perjalanan akademik. Ia berharap para profesor mampu terus melahirkan inovasi dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan.
“Gelar ini harus menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar, terutama dalam menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat,” tegasnya.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

