Empat Organisasi Mahasiswa Kolaborasi Bangun Kepekaan Sosial Lewat Nobar Film Pesta Babi

Jurnalis: Imam Buchori
Kabar Baru, Pamekasan – Sejumlah organisasi mahasiswa menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita di Rumah Pengabdian, Jalan Mak Gang I Taman Laden, Kecamatan Pamekasan, Sabtu (23/5).
Kegiatan yang terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya tersebut merupakan kolaborasi Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (DPP FKMSB), BEM FKIP UIM, Bengkel Sastra UIN Madura, dan HMPS KPI UIN Madura.
Lebih dari 60 peserta dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum hadir dalam agenda tersebut.
Selain pemutaran film, kegiatan juga diisi dengan pengantar diskusi oleh Ach. Faisol, S.H. Ia memaparkan sejumlah persoalan sosial dan kemanusiaan yang diangkat dalam film dokumenter tersebut.
Ketua pelaksana kegiatan, Nurisul Anwar, mengatakan bahwa kegiatan nobar tidak semata menjadi ruang hiburan, melainkan media refleksi sosial bagi kalangan muda, khususnya mahasiswa.
“Malam ini kita kumpul bukan buat cari hiburan. Kita kumpul karena percaya bahwa anak muda harus jadi orang yang matanya melek dan hatinya hidup,” ujarnya.
Menurutnya, film Pesta Babi menampilkan realitas yang berkaitan dengan ruang hidup masyarakat adat, budaya, hingga persoalan masa depan mereka.
“Film ini berjudul ‘Pesta Babi’. Tapi ini bukan pesta yang bikin kenyang. Ini pesta yang mengorbankan rumah, budaya, dan masa depan orang lain,” katanya.
Dalam sambutannya, Nurisul juga mengajak peserta untuk lebih peka terhadap suara kelompok masyarakat yang selama ini dinilai kurang mendapat perhatian.
“Pertama, jadi pendengar yang baik. Nonton film ini bukan buat cari siapa salah siapa benar. Tapi buat dengerin suara yang jarang kita dengar. Dengerin rasa takut, marah, dan harapannya masyarakat adat,” tuturnya.
Ia berharap pesan yang disampaikan melalui film tersebut tidak berhenti sebatas tontonan.
“Kedua, bawa pulang rasa peduli itu. Jangan biarin film ini berhenti di layar. Bawa pulang ke kos, ke kampus, ke obrolan kalian. Tanya diri sendiri: kalau bukan kita yang peka, siapa lagi?” lanjutnya.
Nurisul menilai kepedulian sosial perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Ketiga, ubah rasa jadi aksi. Peka sosial itu nggak cukup cuma nangis nonton. Peka sosial itu gerak. Bisa dengan diskusi kecil, nulis, atau bikin program yang nyentuh realitas masyarakat di sekitar kita,” ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk merespons persoalan sosial dan tidak bersikap apatis terhadap ketidakadilan.
“Anak muda dan mahasiswa itu ditempa buat jadi manusia yang nggak apatis. Kita boleh beda pendapat setelah ini, tapi satu yang harus sama: kita nggak boleh diam melihat ketidakadilan,” tegasnya.
Di akhir sambutannya, Nurisul menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut.
“Saya bangga kalian ada di sini malam ini. Karena kehadiran kalian itu tanda, kita masih punya anak muda yang berani peduli,” katanya.
“Selamat menonton. Semoga setelah ini, kita semua pulang bukan sebagai penonton, tapi sebagai manusia yang sedikit lebih peka, sedikit lebih berani, dan sedikit lebih peduli,” pungkasnya.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Seedbacklink

