Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Dari Desa ke Jurnal: Mengapa Mahasiswa KKN Harus Menulis

75cfd2b4-e9e8-4d3d-8c0e-3a4d80ce50f1
Ilustrasi: Bahruni / AI-Generated (Gemini).

Editor:

Kabar Baru, Opini – Ada momen yang selalu saya tunggu setiap kali membimbing mahasiswa KKN: ketika mereka pulang dari desa dengan mata berbinar, cerita mengalir deras, dan catatan lapangan yang penuh coretan. Mereka baru saja mengalami sesuatu yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah — realitas yang keras, kompleks, dan penuh kejutan.

Lalu saya bertanya: “Apa yang akan kamu lakukan dengan semua pengalaman ini?”

Sebagian besar menjawab dengan polos: “Ya sudah, Pak. Tinggal bikin laporan, terus selesai.”

Dan di situlah masalahnya dimulai.

Laporan Bukan Akhir, Ia Adalah Awal

Selama puluhan tahun, kita memperlakukan laporan KKN sebagai titik akhir. Mahasiswa menulis, dosen menandatangani, laporan dijilid dengan sampul biru atau merah, lalu disimpan di perpustakaan kampus. Tidak ada yang membacanya lagi. Tidak ada yang mengutipnya. Tidak ada yang belajar dari kesalahan atau keberhasilan yang terdokumentasi di dalamnya.

Padahal, di dalam laporan-laporan itu tersimpan pengetahuan yang sangat berharga. Bagaimana cara mendekati tokoh adat yang skeptis terhadap program luar. Bagaimana mengatasi konflik internal tim di tengah tekanan lapangan. Bagaimana mengidentifikasi kebutuhan riil masyarakat yang berbeda jauh dari asumsi awal. Semua ini adalah pengetahuan praktis yang tidak akan pernah Anda temukan di buku teks manapun.

Pertanyaannya: mengapa kita membiarkan pengetahuan itu mati begitu saja?

Menulis untuk Jurnal Bukan Soal Prestise, Tapi Tanggung Jawab

Saya sering mendengar keberatan: “Ah, Pak, kami kan cuma mahasiswa. Menulis di jurnal itu untuk dosen atau peneliti senior.”

Ini adalah mitos yang perlu kita hancurkan hari ini juga.

Menulis di jurnal pengabdian masyarakat bukan soal gelar atau senioritas. Ia soal tanggung jawab intelektual. Ketika Anda turun ke desa, Anda tidak hanya membawa program — Anda membawa nama institusi, menggunakan anggaran publik (langsung atau tidak langsung), dan mengintervensi kehidupan orang lain. Dengan semua itu datang kewajiban moral: mendokumentasikan apa yang Anda lakukan, apa yang berhasil, apa yang gagal, dan apa yang bisa dipelajari orang lain dari pengalaman Anda.

Publikasi di jurnal adalah cara paling demokratis untuk memenuhi kewajiban itu. Artikel Anda yang diterbitkan di Jurnal Pengabdian Nasional (JPN Indonesia), PASAI, atau KJPKM Kawanad — meski “hanya” SINTA 5 — bisa dibaca oleh mahasiswa lain di Sulawesi, dosen di Kalimantan, atau petugas dinas di Nusa Tenggara. Mereka bisa belajar dari kesalahan Anda tanpa harus mengulanginya. Mereka bisa mereplikasi keberhasilan Anda tanpa harus memulai dari nol.

Itulah kekuatan publikasi: ia mengubah pengalaman personal menjadi pengetahuan kolektif.

Jurnal Nasional: Pintu yang Lebih Terbuka dari yang Anda Kira

Salah satu alasan mahasiswa enggan menulis untuk jurnal adalah persepsi bahwa prosesnya rumit, mahal, dan eksklusif. Mari kita luruskan fakta ini.

Jurnal-jurnal pengabdian masyarakat nasional seperti JPN Indonesia, PASAI, atau KJPKM Kawanad dirancang justru untuk membuka akses, bukan menutupnya. Biaya publikasi berkisar nol hingga satu juta rupiah — jauh lebih murah daripada biaya transportasi selama KKN. Waktu review berkisar satu hingga tiga bulan — cukup cepat untuk memenuhi tenggat kelulusan. Dan yang terpenting: editor jurnal-jurnal ini memahami bahwa penulis pemula membutuhkan bimbingan, bukan penolakan mentah-mentah.

Bahkan untuk mahasiswa yang ingin publikasi dengan bobot lebih tinggi, ada AJAD atau Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara (JPMN) yang sudah terakreditasi SINTA 4. Kedua jurnal ini tetap terjangkau dari segi biaya dan waktu, namun memberikan nilai tambah yang signifikan — terutama jika artikel tersebut akan digunakan untuk melanjutkan studi atau melamar beasiswa.

Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak mencoba.

Apa yang Harus Ditulis?

Ini pertanyaan yang paling sering saya terima: “Pak, KKN saya kan biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Apa yang mau ditulis?”

Jawaban saya selalu sama: justru yang “biasa” itulah yang paling berharga.

Anda tidak perlu menemukan inovasi revolusioner atau menyelesaikan masalah kemiskinan struktural dalam empat puluh hari. Yang Anda butuhkan adalah kejujuran dalam mendokumentasikan proses. Tulis tentang bagaimana Anda melakukan analisis kebutuhan masyarakat. Tulis tentang hambatan yang Anda hadapi dan bagaimana Anda mengatasinya (atau tidak mengatasinya). Tulis tentang respons masyarakat terhadap program Anda — baik yang positif maupun yang mengecewakan.

Artikel yang baik bukan artikel yang hanya melaporkan keberhasilan. Artikel yang baik adalah artikel yang jujur, reflektif, dan memberikan pembelajaran yang bisa diambil orang lain.

Menulis Adalah Cara Menghormati Masyarakat yang Anda Layani

Terakhir, saya ingin mengajak Anda melihat publikasi dari sudut pandang yang berbeda: sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat yang telah menerima Anda.

Ketika warga desa menyambut Anda, memberi Anda tempat tinggal, berbagi cerita, dan mempercayai Anda dengan masalah mereka — mereka sedang memberikan sesuatu yang sangat berharga: waktu dan kepercayaan. Sebagai balasannya, Anda tidak hanya memberikan program yang mungkin berdampak sementara. Anda juga bisa memberikan sesuatu yang lebih permanen: dokumentasi yang memastikan suara mereka, masalah mereka, dan pengetahuan lokal mereka tidak hilang begitu saja setelah Anda pergi.

Publikasi adalah cara Anda mengatakan kepada mereka: “Apa yang saya pelajari dari kalian terlalu berharga untuk disimpan sendiri. Saya akan memastikan orang lain juga bisa belajar dari pengalaman ini.”

Itu adalah bentuk penghormatan tertinggi yang bisa Anda berikan.

Mulai dari Mana?

Jika Anda adalah mahasiswa yang baru saja menyelesaikan KKN, atau dosen pembimbing yang ingin mendorong mahasiswa Anda untuk publikasi, mulailah dengan langkah sederhana:

Pertama, pilih satu kegiatan atau satu temuan yang paling berkesan dari KKN Anda. Kedua, tulis narasi jujur tentang apa yang terjadi: konteks, proses, hasil, dan refleksi. Ketiga, pelajari template artikel dari jurnal yang Anda tuju — sebagian besar jurnal nasional menyediakan panduan penulisan yang sangat jelas. Keempat, kirimkan. Jangan tunggu sempurna. Proses review adalah bagian dari pembelajaran.

Dan yang terpenting: jangan biarkan pengalaman berharga Anda berakhir di rak perpustakaan. Dunia membutuhkan pengetahuan yang Anda miliki — bahkan jika Anda sendiri belum menyadarinya.

Penulis: Bahruni, Penulis adalah Dosen, STMIK Indonesia Banda Aceh. Telah membimbing lebih dari 135 mahasiswa KKN dan mendorong publikasi ilmiah sebagai bagian integral dari pembelajaran lapangan.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store