Memahami Quarter-Life Crisis dan Pencarian Makna Hidup Gen Z

Editor: Bahiyyah Azzahra
Kabar Baru, Opini – Pernahkah kamu merasa kesepian meskipun sedang dikelilingi banyak orang? Atau merasa hampa di tengah derasnya notifikasi yang terus berdatangan di ponsel? Kondisi ini menjadi salah satu ironi yang banyak dialami Generasi Z. Kemajuan teknologi memang membuat kita selalu terhubung, tetapi kedekatan secara digital tidak selalu diikuti dengan kedekatan secara emosional. Akibatnya, rasa sepi tetap muncul, bahkan ketika interaksi terjadi hampir setiap saat.
Bagi banyak anak muda berusia sekitar 18–27 tahun, situasi tersebut sering kali beriringan dengan fase quarter-life crisis. Pada fase ini, seseorang mulai mempertanyakan arah hidup, tujuan masa depan, pilihan karier, hingga jati dirinya. Tekanan untuk segera berhasil, memenuhi ekspektasi sosial, dan mengejar berbagai pencapaian membuat masa transisi menuju dewasa terasa semakin berat.
Lalu, mengapa ada orang yang mampu melewati fase ini dengan lebih tenang, sementara yang lain merasa semakin terpuruk? Berbagai penelitian menunjukkan bahwa jawabannya tidak hanya terletak pada kondisi di luar diri, tetapi juga pada bagaimana seseorang menemukan makna hidup, membangun dukungan sosial, dan memiliki pegangan ketika menghadapi ketidakpastian.
1. Tidak Semua Gen Z Memulai dari Titik Awal yang Sama
Perjalanan menuju dewasa tidak selalu dimulai dari kondisi yang setara. Sebagian anak muda harus menghadapi tantangan yang lebih berat karena kehilangan figur orang tua, terutama ayah.
Penelitian yang dilakukan oleh Jolanda dan Riana terhadap 392 responden Generasi Z menunjukkan bahwa partisipan yang berstatus yatim (kehilangan ayah) cenderung mengalami quarter-life crisis yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Pengalaman kehilangan tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga berkaitan dengan berkurangnya rasa aman, hilangnya dukungan instrumental, serta menurunnya keyakinan dalam menghadapi masa depan.
Bagi banyak orang, sosok ayah tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga menjadi sumber rasa aman, tempat meminta arahan, dan figur yang membantu anak mempersiapkan diri memasuki kehidupan dewasa. Ketika dukungan tersebut tidak lagi ada, proses menuju kemandirian dapat terasa lebih berat. Karena itu, mereka membutuhkan lingkungan yang suportif, bukan sekadar tuntutan untuk segera bangkit dan terlihat baik-baik saja.
2. Spiritualitas Bukan Cuma Soal Ibadah, tetapi Juga Cara Menenangkan Pikiran
Di tengah berbagai tekanan tersebut, banyak Gen Z mulai menemukan sumber kekuatan dari dalam diri melalui spiritualitas. Spiritualitas tidak lagi dipahami hanya sebagai rutinitas ibadah, tetapi juga sebagai ruang untuk berhenti sejenak, menenangkan pikiran, dan kembali mengingat apa yang benar-benar penting dalam hidup.
Dalam sebuah penelitian, salah satu partisipan, Ms. Surana, menggambarkan spiritualitas sebagai reset button bagi dirinya. Saat pikiran terasa penuh dan hidup terasa begitu bising, spiritualitas membantunya kembali fokus serta melihat persoalan dengan lebih jernih.
Cara setiap orang menjalani spiritualitas pun tidak selalu sama. Ada yang menemukan ketenangan melalui doa, meditasi, membaca kitab suci, datang ke tempat ibadah, maupun meluangkan waktu untuk refleksi diri. Berbagai penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa praktik-praktik tersebut dapat menjadi bentuk spiritual coping yang membantu mengurangi stres, meningkatkan ketenangan batin, dan memperkuat kesejahteraan psikologis. Dengan kata lain, spiritualitas bukan hanya berbicara tentang ritual, tetapi juga tentang menemukan ruang untuk bernapas di tengah berbagai tuntutan kehidupan.
3. Teknologi Tidak Selalu Menjauhkan, Justru Bisa Mendekatkan
Teknologi yang sering dianggap sebagai penyebab meningkatnya kesepian juga dapat menjadi bagian dari solusinya.
Kini semakin banyak anak muda memanfaatkan video meditasi terpandu di YouTube, mengikuti komunitas doa secara daring, mendengarkan renungan, atau menggunakan aplikasi yang membantu melatih mindfulness. Bagi sebagian orang, teknologi justru menjadi jembatan untuk tetap menjaga kesehatan mental dan kehidupan spiritual, terutama ketika mereka tidak dapat bergabung secara langsung dengan komunitas.
Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa praktik spiritual, baik dilakukan secara langsung maupun melalui media digital, sama-sama dapat memberikan manfaat psikologis. Keduanya membantu seseorang merasa lebih tenang, memiliki pegangan hidup, serta menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar. Dengan penggunaan yang bijak, teknologi tidak hanya menghubungkan kita dengan orang lain, tetapi juga dapat membantu kita lebih dekat dengan diri sendiri.
4. Makna Hidup Menjadi Kunci Menghadapi Quarter-Life Crisis
Pada akhirnya, benang merah dari berbagai temuan tersebut bermuara pada satu hal, yaitu makna hidup (meaning in life). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang merasa hidupnya memiliki tujuan cenderung lebih mampu menghadapi tekanan dan ketidakpastian, sehingga gejala quarter-life crisis yang dirasakan menjadi lebih ringan.
Hal ini juga terlihat dari pengalaman salah satu partisipan penelitian, Mr. D. Ia membedakan antara loneliness (kesepian) dan solitude (kesendirian). Kesepian membuat seseorang merasa terputus dari orang lain, sedangkan kesendirian justru dapat menjadi kesempatan untuk mengenal diri sendiri, merenung, dan bertumbuh. Artinya, tidak semua waktu yang dihabiskan sendirian merupakan sesuatu yang negatif.
Lalu, bagaimana mulai menemukan makna hidup? Tidak harus dengan langkah yang besar. Kamu bisa memulainya dari kebiasaan sederhana, seperti menulis jurnal untuk memahami apa yang sedang dirasakan, mengenali nilai-nilai hidup yang benar-benar kamu yakini, bukan sekadar mengikuti standar media sosial, serta melakukan aktivitas yang memberi manfaat bagi orang lain. Langkah-langkah kecil ini dapat membantu membangun rasa tujuan, memperkuat ketahanan diri, dan membuatmu lebih siap menghadapi berbagai tantangan di masa dewasa awal.
Penutup: Selalu Ada Harapan di Tengah Ketidakpastian
Menjadi bagian dari Generasi Z bukanlah hal yang mudah. Tekanan untuk segera sukses, tuntutan media sosial, pengalaman kehilangan, hingga ketidakpastian masa depan dapat membuat perjalanan menuju dewasa terasa begitu melelahkan. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa setiap orang memiliki sumber kekuatan dari dalam diri. Dukungan sosial, spiritualitas, dan makna hidup dapat membantu seseorang bertahan, bangkit, dan menjalani masa-masa sulit dengan lebih tenang.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir, tetapi tentang bagaimana kita menemukan alasan untuk terus melangkah. Di dunia yang membuat kita selalu terhubung secara digital, mungkin tantangan terbesar bukanlah mencari lebih banyak koneksi, melainkan membangun hubungan yang lebih dalam dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan makna hidup.
Jadi, jika hari ini kamu merasa sedang kehilangan arah, jangan buru-buru menganggap dirimu gagal. Bisa jadi, kamu sedang berada dalam proses menemukan makna hidup yang kelak akan menjadi kompas dalam perjalananmu menuju kedewasaan.
Penulis:
Eunike Lisi Cintani Putri, S.Psi
Religiusitas dan Kesehatan Mental
Magister Sains Psikologi, Universitas Katolik Soegijapranata
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
