Women’s Gold ke Pasar Global: Praktik Fair Trade Shea Butter L’Occitane

Editor: Bahiyyah Azzahra
Kabar Baru, Opini – Ketika konsumen membeli produk perawatan tubuh yang mengandung shea butter, mereka biasanya tertuju pada manfaat produk atau reputasi merek. Namun, ribuan perempuan di pedesaan Burkina Faso berkontribusi pada rantai pasokan global komoditas ini. Bagi masyarakat setempat, terutama perempuan, shea bukan hanya bahan baku kosmetik, tetapi juga sumber penghidupan yang diwariskan lintas generasi.
Semakin meningkatnya permintaan untuk produk kecantikan berbahan alami di seluruh dunia telah mengubah shea dari komoditas lokal menjadi produk yang dijual di pasar global. Menurut Wardell et al. (2021), industri shea membentuk rantai nilai global yang menghubungkan produsen lokal dengan perusahaan multinasional dan konsumen di berbagai negara. Meskipun kemajuan ini membuka akses pasar internasional, ada pertanyaan tentang sejauh mana manfaat perdagangan tersebut dirasakan oleh para produsen lokal.
Di Burkina Faso, shea sering disebut “women’s gold” julukan tersebut muncul karena sebagian besar aktivitas pengumpulan dan pengolahan shea secara tradisional dilakukan oleh perempuan. Shea menjadi salah satu sumber pendapatan utama bagi rumah tangga pedesaan dan memberikan ruang bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi.
Namun, dinamika sosial yang mendukung komoditas ini berubah seiring dengan masuknya komoditas ini ke pasar global. Menurut Friman (2022), meningkatnya nilai ekonomi shea telah memengaruhi relasi gender dan penguasaan sumber daya di tingkat lokal. Dengan kata lain, tidak hanya ekonomi yang mengalami perubahan, tetapi globalisasi juga berdampak pada struktur sosial masyarakat yang terlibat dalam produksi shea.
L’Occitane en Provence adalah Salah satu perusahaan yang paling sering dikaitkan dengan industri shea Burkina Faso. Sejak awal 1980-an, perusahaan kosmetik asal Prancis ini menjalin kemitraan bekerja sama dengan perempuan produsen shea butter di Burkina dan menggunakan shea butter sebagai bahan utama dalam berbagai produknya (L’Occitane en Provence, 2025).
Selama lebih dari empat puluh tahun, hubungan ini sering dianggap sebagai praktik perdagangan etis karena dibangin melalui kemitraan jangka panjang dengan komunitas produsen. Kasus ini menarik karena menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan multinasional berusaha untuk menerapkan prinsip etika ke dalam kompleksitas rantai pasokan global.
Disinilah konsep Fair Trade menjadi relevan untuk menjelaskan hubungan antara perusahaan global dan komunitas produsen lokal. Dalam menanggapi kritik terhadap sistem perdagangan internasional yang seringkali menempatkan produsen di negara berkembang pada posisi yang lemah, Fair Trade muncul. Menurut Fair Trade USA (2021), Fair Trade bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan produsen dan kesetaraan gender hubungan yang lebih berkelanjutan.
Pendekatan ini, perdagangan tidak hanya dinilai dari kemampuan menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga dari kontribusinya terhadap kesejahteraan sosial dan pembangunan komunitas. Fair Trade juga mendorong perempuan untuk memperoleh pengetahuan, peluang, dan kepercayaan diri dalam meningkatkan pendapatan serta partisipasi dalam pengambilan keputusan ekonomi yang memengaruhi kehidupan mereka.
Kasus L’Occitane juga dapat dianalisis melalui konsep Ethical Supply Chain. Berdasarkan Sharma et al. (2023), rantai pasok yang etis dibangun atas prinsip, transparansi, akuntabilitas, dan kemampuan menelusuri asal-usul produk (Traceability) sehingga seluruh proses produksi dapat dipertanggungjawabkan kepada konsumen maupun pemangku kepentingan lainnya.
Kemitraan L’Occitane dengan koperasi perempuan penghasil shea butter menunjukkan implementasi prinsip rantai pasok etis. Menurut L’Occitane Group (2025), kemitraan yang berkelanjutan memungkinkan perempuan produsen memperoleh akses yang lebih stabil terhadap pasar global sementara bisnis memperoleh pasokan bahan baku yang berkualitas tinggi dan dapat dilacak dari mana mereka berasal. Kondisi ini menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial dan kepentingan ekonomi tidak selalu harus diposisikan sebagai saling bertentangan.
Praktik perdagangan etis juga berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan karena industri shea sangat bergantung pada pohon shea di Afrika Barat. Menurut World Business Council for Sustainable Development (2024), Perempuan pengumpul shea tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan, tetapi juga sebagai penjaga ekosistem yang mendukung keberlanjutan produksi shea.
Kerusakan ekosistem tidak hanya mengancam keberadaan pohon shea, tetapi juga mengancam sumber penghidupan ribuan perempuan yang bergantung pada komoditas tersebut. Keberhasilan perdagangan adil tidak berarti bahwa semua masalah perdagangan global telah diselesaikan. Meskipun ada banyak keuntungan, masih ada beberapa masalah yang perlu diperhatikan.
Friman (2022) menunjukan bahwa meningkatnya nilai ekonomi shea butter juga dapat memengaruhi relasi gender dan penguasaan sumber daya di Burkina Faso. Ketika harga shea meningkat, laki-laki mulai lebih aktif menguasai lahan dan sumber daya yang sebelumnya banyak dikelola oleh perempuan. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan posisi sosial perempuan tidak selalu berjalan seiring dengan peningkatan pendapatan.
Namun, pertanyaan pentingnya adalah Apakah praktik Fair Trade Shea Butter L’Occitane benar-benar etis? Dengan mempertimbangkan tujuan dan program yang dijalankan, praktik ini telah benar-benar membantu komunitas produsen. Fair Trade USA (2021) menekankan bahwa perdagangan yang adil harus meningkatkan kesejahteraan produsen dan masyarakat mereka.
Dalam hal ini, L’Occitane Foundation (2025) menjelaskan bahwa berbagai program yang didukung yayasan tersebut berfokus pada pendidikan, pelatihan profesional, dan kewirausahaan untuk meningkatkan kondisi hidup perempuan dan anak di Burkina. Dari perspektif ini, tindakan perusahaan dapat dianggap memenuhi prinsip perdagangan etis. Meski demikian, Hubungan antara perusahaan multinasional dan komunitas produsen tetap menyisakan persoalan ketimpangan kekuasaan.
Sebagai perusahaan global, L’Occitane memiliki akses yang jauh lebih besar terhadap modal, teknologi, informasi pasar, dan jaringan distribusi internasional. Sharma et al. (2023) mengatakan bahwa ketimpangan posisi tawar masih menjadi masalah besar bagi banyak rantai pasokan global, termasuk yang mengadopsi prinsip etis.
Sehingga produsen mendapatkan keuntungan ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan perdagangan konvensional, mereka mungkin tidak memiliki kekuatan yang sama besar untuk menentukan aturan dan arah perdagangan. Praktik perdagangan etis ini memberikan manfaat bagi berbagai pihak yang terlibat.
Menurut L’Occitane Group (2025), perempuan produsen mendapatkan akses pasar yang lebih stabil serta berbagai peluang pendidikan, pelatihan, dan pengembangan kapasitas melalui program yang didukung oleh L’Occitane. Di sisi lain, L’Occitane memperoleh pasokan bahan baku yang berkelanjutan sekaligus memperkuat reputasinya perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.
Secara keseluruhan, praktik Fair Trade Shea Butter melalui L’Occitane di Burkina Faso menunjukkan bahwa perdagangan global dapat membawa perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang baik. Prinsip Fair Trade dan Ethical Supply Chain dapat diterapkan dalam praktik bisnis global melalui pemberdayaan perempuan, hubungan dagang jangka panjang, dan perhatian terhadap keberlanjutan lingkungan.
Namun, ketimpangan kekuatan dan hubungan gender dalam rantai nilai global terus menunjukkan bahwa keadilan perdagangan masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, Fair Trade sebaiknya dipahami sebagai proses yang terus berkembang dalam mengurangi ketidakadilan perdagangan global daripada sebagai solusi yang telah menyelesaikan semua masalah.
Pada akhirnya, kasus shea butter L’Occitane di Burkina Faso menunjukkan globalisasi tidak selalu identik dengan eksploitasi, tetapi juga menjadi sarana peningkatan kesejahteraan sosial dan peluang ekonomi. Tantangan yang masih ada perlu menjadi dorongan untuk terus memperbaiki praktik perdagangan global agar manfaatnya dapat dirasakan lebih adil.
Daftar Pustaka
Fair Trade USA. (2021). Gender Equity and Women’s Empowerment. https://www.fairtradecertified.org/wp-content/uploads/2023/03/Gender-Equality-and-Womens-Empowerment-Report-Fair-Trade-USA.pdf
Friman, J. (2022). Challenging shea as a woman’s crop – masculinities and resource control in Burkina Faso. Gender, Place & Culture, 1–20. https://doi.org/10.1080/0966369x.2022.2078282
L’Occitane en Provence. (2025). Shea Butter | Natural ingredients | L’Occitane En Provence Malta. L’Occitane En Provence Malta. https://mt.loccitane.com/pages/shea-butter?
L’Occitane Foundation. (2025). Empowering Women. Loccitane.com. https://fondation.loccitane.com/actions/empowering-women/2025-2026
L’Occitane Group. (2025). From Shea tree to sustainability: a story of impact and hope | L’occitane. Group L’OCCITANE. https://group.loccitane.com/group/news/shea-tree-sustainability-story-impact-and-hope-0
Sharma, H., Garg, R., Sewani, H., & Kashef, R. (2023). Towards A Sustainable and Ethical Supply Chain Management: The Potential of IoT Solutions. ArXiv.org. https://arxiv.org/abs/2303.18135
Wardell, D. A., Tapsoba, A., Lovett, P. N., Zida, M., Rousseau, K., Gautier, D., Elias, M., & Bama, T. (2021). Shea ( Vitellaria paradoxa C. F. Gaertn.) – the emergence of global production networks in Burkina Faso, 1960–2021 1. International Forestry Review, 23(4), 534–561. https://doi.org/10.1505/146554821834777189
Penulis : Ketut Enjel Mudia Putri, Mahasiswi Prodi Hubungan Internasional Universitas Udayana
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
