Stres Ekonomi di Tengah Rupiah Menurun dan Harga Melonjak

Editor: Bahiyyah Azzahra
Kabar Baru, Opini – Rupiah yang terus melemah bukan hanya sekadar angka di layar berita, tetapi kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Harga beras, cabai, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lain melonjak, sementara gaji tetap sama. Di dapur rumah tangga, ibu harus memutar otak agar uang belanja cukup. Di pasar, pedagang kecil resah karena pembeli mulai berkurang. Semua ini menimbulkan stres ekonomi yang nyata rasa cemas, bingung, bahkan putus asa. Dalam menghadapi situasi ini, kita bisa belajar dari teori George Polya tentang problem solving. Polya menawarkan empat langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, memahami masalah. Misalnya, gaji tetap sementara harga beras naik, sehingga kebutuhan pokok tidak bisa ditunda. Dengan memahami masalah, masyarakat bisa melihat akar persoalan dengan lebih jelas.
Langkah kedua adalah merencanakan strategi. Di tahap ini, keluarga bisa mulai mencatat anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menunda pengeluaran yang tidak mendesak. Contohnya, menunda membeli barang baru atau mengurangi makan di luar. Strategi sederhana ini membantu agar uang yang terbatas bisa digunakan untuk hal yang benar-benar penting. Langkah ketiga adalah melaksanakan rencana. Strategi yang sudah dibuat harus dijalankan dengan disiplin.
Misalnya, lebih sering memasak di rumah, menggunakan transportasi umum, atau mencari alternatif belanja yang lebih murah. Di sinilah masyarakat dituntut untuk konsisten, karena tanpa pelaksanaan yang nyata, strategi hanya akan menjadi catatan di kertas. Langkah keempat adalah memeriksa kembali hasil. Setelah beberapa waktu, keluarga perlu melihat apakah strategi yang dijalankan berhasil menekan pengeluaran. Jika belum, maka perlu dilakukan penyesuaian. Misalnya, jika belanja di pasar tradisional masih terasa mahal, bisa beralih ke koperasi warga atau mencari produk lokal yang lebih terjangkau.
Contoh nyata penerapan langkah-langkah ini bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika harga cabai melonjak, keluarga bisa memilih menanam sayuran di rumah. Dengan menanam cabai, tomat, atau kangkung di pekarangan atau pot sederhana, sebagian kebutuhan pangan bisa dipenuhi sendiri. Ketika harga barang impor naik, masyarakat bisa belanja produk lokal untuk mendukung petani dan UMKM sekaligus menekan biaya.
Namun, mari kita kritisi: mengapa rakyat kecil harus terus berhemat, sementara kebijakan ekonomi sering kali tidak cukup melindungi mereka? Pemerintah seharusnya hadir dengan solusi nyata, bukan sekadar janji. Problem solving ala Polya memang membantu masyarakat untuk bertahan, tetapi dukungan kebijakan yang adil tetap diperlukan agar beban tidak hanya ditanggung oleh rakyat kecil. Menghadapi stres ekonomi di era rupiah menurun memang berat. Tetapi dengan langkah problem solving ala Polya, kreativitas, dan solidaritas, masyarakat bisa tetap bertahan. Rupiah boleh melemah, tetapi martabat masyarakat tidak boleh ikut melemah.
Penulis : Nurhajah Wahyu Tri Utami / Mahasiswa Magister Sains Psikologi – Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
