Anak Muda Daerah Butuh Kebijakan yang Berangkat dari Akar Rumput

Jurnalis: Azzahra Bahiyyah
Kabar Baru, Ternate – Anak muda di daerah tidak hanya membutuhkan lebih banyak program pemerintah, tetapi juga kebijakan yang lahir dari pengalaman dan kebutuhan nyata masyarakat. Gagasan itu mengemuka dalam Diskusi Inisiatif Episode Maluku Utara yang diselenggarakan Gibran Institute di Kota Ternate, Sabtu (1/8).
Forum yang menghadirkan aktivis mahasiswa, organisasi kepemudaan, akademisi, tokoh olahraga, hingga legislator daerah tersebut menjadi ruang untuk menggali persepsi tentang kepemimpinan muda, pandangan terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sekaligus memetakan berbagai tantangan dan peluang generasi muda di Maluku Utara.
Founder dan Executive Director Gibran Institute, Danik Eka Rahmaningtiyas, mengatakan diskusi ini merupakan bagian dari upaya membangun gerakan yang berangkat dari aspirasi masyarakat, bukan dari asumsi yang dibentuk di tingkat pusat.
“Gibran Institute lahir dari keresahan ketika saya banyak berinteraksi dengan anak-anak muda di pelosok Nusantara. Kami ingin memulai dari persepsi, isu, dan masukan dari bawah, bukan memaksakan isu-isu elite dan politis yang sering kali kurang kompatibel dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Danik.
Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah itu menilai berbagai solusi justru sering lahir dari pengalaman masyarakat di tingkat akar rumput.
“Insight dari grassroot sering kali lebih taktis, aplikatif, dan efisien. Namun, sering muncul kesenjangan antara apa yang dibutuhkan masyarakat dengan kebijakan yang dibuat. Karena itu kami ingin mendengar langsung suara teman-teman di daerah.”
Menurut Danik, penggunaan nama Gibran Institute juga dilandasi keinginan mendorong diskursus mengenai kepemimpinan muda dengan menjadikan Gibran Rakabuming Raka sebagai simbol generasi muda yang kini berada di level kepemimpinan nasional, terlepas dari berbagai pandangan publik terhadapnya.
Salah satu isu yang paling mengemuka dalam diskusi adalah akses terhadap kesempatan. Aktivis mahasiswa Soleman Buamona menilai program beasiswa masih cenderung menyasar mahasiswa yang telah berprestasi, sementara banyak anak muda dengan potensi besar belum mampu menunjukkan prestasinya karena keterbatasan ekonomi dan akses pendidikan.
“Kalau beasiswa hanya diberikan kepada yang sudah berprestasi, bagaimana dengan mereka yang ingin berprestasi tetapi belum memiliki kesempatan?” katanya.
Sementara itu, Pengurus KNPI Provinsi Maluku Utara Kanan Iwan Basinu (Ibas) menilai pemimpin muda memiliki keunggulan dalam energi, kemampuan beradaptasi, dan keberanian mengambil keputusan. Namun, mereka masih sering dipandang sebelah mata karena usia dan pengalaman sehingga harus bekerja lebih keras untuk membuktikan kapasitasnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pulau Morotai Erwin Sutanto, yang menilai masyarakat kini semakin kritis dalam menilai seorang pemimpin.
“Masyarakat sekarang semakin pintar. Mereka akan melihat fakta di lapangan, bukan sekadar janji atau pencitraan, tetapi apa yang benar-benar sudah dikerjakan,” ujarnya.
Diskusi juga menyoroti pentingnya membangun etos kerja dan menjaga identitas budaya lokal. Bendahara KONI Maluku Utara Jabar Abdul mengingatkan bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, melainkan ditentukan oleh kesungguhan dalam berusaha. Sementara itu, Office of Initiative Network Gibran Institute Jafar Dahlan menyoroti semakin berkurangnya penggunaan bahasa-bahasa daerah di Maluku Utara yang perlu mendapat perhatian bersama.
Menurut Jafar, seluruh masukan yang muncul dalam forum tersebut akan menjadi dasar penyusunan program Gibran Institute di daerah.
“Insight dari diskusi ini akan menjadi materi pergerakan Gibran Institute agar kami mengetahui model yang paling sesuai untuk Maluku Utara,” kata Jafar yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Bumi Hijrah.
Diskusi Inisiatif merupakan rangkaian forum yang akan diselenggarakan Gibran Institute di berbagai daerah di Indonesia. Melalui forum ini, Gibran Institute ingin memastikan bahwa rekomendasi kebijakan maupun program pengembangan kepemimpinan muda tidak hanya lahir dari perspektif pusat, tetapi juga berakar pada pengalaman, kebutuhan, dan gagasan masyarakat di daerah. Sebab, kebijakan yang berdampak adalah kebijakan yang terlebih dahulu mau mendengarkan.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Radar Baru
Seedbacklink
