Wisata Kultural Ontran-Ontran Muktamar ke-35

Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Opini — Besok, 27 Agustus 2026, bedug Muktamar ke-35 resmi dipukul. Tapi riuh ontran-otrannya berlangsung beberapa bulan terakhir. Kegaduhannya sampai di restui oleh algoritma tiktok agar terus menjadi tranding topik. Sungguh pencapaian yang luar biasa.
Dan kalau ditanya saya soal ontran-ontran Muktamar Nahdlatul Ulama kali ini, saya cuma bisa mesem sambil nyeruput kopi tubruk yang ampasnya mulai mengendap. saya membatin “Inilah indahnya menjadi NU.”
Bukan apa-apa, sebab begitulah NU. Dari zaman baheula sampai era orang bisa pesan sate kambing lewat aplikasi di ponsel, yang namanya Muktamar NU itu pantang kalau tanpa bumbu ontran-ontran.
Kalau sepi, senyap, dan tertib-tertib saja seperti anak SD sedang upacara bendera, justru patut dicurigai “Ini Muktamar NU atau rapat dewan komisaris?”.
Tapi harus diakui, Muktamar kali ini tensinya agak beda. Asapnya terasa lebih tebal, walau bukan jenis asap putih dari cerobong Kapel Sistina di Vatikan yang mengabarkan hasil konklaf dengan pasti, melainkan asap tidak jelas yang membuat warga NU sedikit batuk-batuk. Entahlah !
Jujur saja, di balik hiruk-pikuk elite PBNU, hati dan pikiran ini selalu tersentuh setiap kali membayangkan kiai-kiai kampung. Beliau-beliau yang mukanya teduh, datang jauh-jauh dari pelosok desa berbekal ransel seadanya. Mengapit sarung andalan yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci, siap tidur umpel-umpelan di pesantren atau meluruskan punggung di atas tikar plastik.
Beliau-beliau ini tak punya niat macam-macam selain ngalap berkah, bersilaturahmi, dan mendoakan jamiyah. Ndilalah, begitu sampai di arena, telinga mereka malah disumpal kasak-kusuk elite yang sibuk berebut setir.
Bagi saya, ontran-ontran Muktamar ke-35 ini adalah puncak dari akumulasi masuk angin yang terlalu lama didiamkan. Mulai dari urusan konsesi tambang, aksi saling pecat, hingga manuver politisi yang mendadak rajin berpeci hitam dan santun mencium tangan kiai kalau lagi ada maunya menjelang pemilu.
Di satu sisi, ada yang berteriak nyaring “Kembali ke Khittah! Jauhkan NU dari politik praktis!” Tapi di sisi lain, tangan di bawah meja sibuk menata posisi tawar. Ini persis seperti orang memasang spanduk “Dilarang Merokok” sambil asyik mengebulkan asap kretek dari mulutnya sendiri. Indikasinya begitu sich.
Bagi calon yang ambisius, muktamar ini seakan jadi panggung pembuktian “Siapa yang lebih NU? Siapa yang paling berhak memegang stempel PBNU?”
Tak selesai disitu, Soal mekanisme pun diributkan. Pilih pakai AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi) atau voting langsung? Kalau pakai AHWA, niatnya luhur, biar kiai-kiai sepuh yang menentukan tanpa ada politik dagang sapi. Tapi dasar manusia, akalnya ada saja.
Mekanisme AHWA pun mulai dihitung pakai kalkulator politik, siapa masuk daftar, siapa menepis, siapa yang berbisik ke telinga kiai. Kalau pakai voting?
Lebih gawat lagi, rawan serangan fajar. Pilih ketua RT saja kadang ada amplopnya, apalagi memimpin jamiyah terbesar di republik ini.
Belum lagi desas-desus restu Istana. Penyakit lama yang susah sembuh. Tiap Muktamar, kok ya selalu ada pihak yang merasa seolah-olah butuh stempel dari penguasa pusat.
Padahal sejarah mencatat, Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Chasbullah mendirikan NU dengan kemandirian penuh, tanpa modal proposal ke pemerintah kolonial. Lha sekarang, kok ada yang kejang-kejang kalau tak mendapat jabat tangan dari penguasa? Lucu, tapi bikin nyengir pait.
Pergesekan Muktamar ke-35 ini sebetulnya adalah gambaran dari kebingungan kita sendiri. NU ini kapal induk. Saking besarnya, kadang nakhoda bingung mau mengarahkan kemudi.
Ada yang ingin membawa kapal mengarungi isu-isu global dan peradaban, eh… penumpang di dek bawah masih ribut soal pembagian gona-gini jatah pilkada. Yang satu bicara “Mendunia bersama NU”, yang satu lagi sibuk bikin ranting tandingan gara-gara beda pilihan caleg. Jomplang betul. Masya Allah.
Tapi, itulah ajaibnya NU. Orang luar yang baru sekali-dua kali melihat ontran-ontran ini mungkin akan geleng-geleng kepala sambil meramal: “Wah, pecah ini NU! Bubar jalan!”
Omong kosong. Mereka tidak paham anatomi tubuh jamiyah ini. NU itu antifragile, makin dibanting, makin ulet, dan makin diributkan, makin solid.
Muktamar boleh panas, kursi plastik boleh melayang, suara bisa habis untuk interupsi, tapi begitu palu diketuk dan Selawat Asyghil dilantunkan, mereka yang tadinya hampir adu jotos bisa langsung berpelukan sambil meneteskan air mata.
Itulah daya magis dari tabarrukan. Ada lem perekat tak kasat mata bernama ketaatan pada kiai sepuh. Sehebat apa pun manuver elite, kalau Mbah Kiai sudah dawuh, semua akan manggut-manggut. “Nggih, Yai.” Selesai urusan. Semoga begitu !
Maka, biarkan saja ontran-ontran ini mengalir. Anggap saja ini check-up medis lima tahunan untuk mendeteksi mana organ NU yang sehat, mana yang masuk angin, dan mana yang sudah kena kolesterol politik hingga harus diamputasi pelan-pelan.
Muktamar ke-35 ini layaknya kawah candradimuka, dimana yang tulus mengabdi akan bertahan, sementara yang cuma nebeng cari panggung buat 2029 bakal rontok seperti daun kering tertiup angin kemarau.
Lagipula, kasihan pedagang suvenir, tasbih, dan batu akik di luar arena kalau Muktamar sepi. Ontran-ontran ini adalah bagian dari daya tarik wisata kultural.
Toh, di mana lagi kita bisa melihat profesor lulusan Barat, kiai ahli nahwu-sharaf, politisi necis, sampai tukang becak duduk ngemper bersama di atas satu tikar sambil ngobrol ngalor-ngidul soal nasib bangsa? Cuma di Muktamar NU.
Wallahul Muwafiq ila Aqwamith Thoriq, Muktamar boleh sengit, ukhuwah jangan sampai terusik. Mari kita tonton dinamika ini dengan santai dan lapang dada. Tak perlu ikut meriang memikirkan siapa yang bakal duduk di kursi empuk PBNU.
Siapa pun yang terpilih nanti, tugas terberatnya tak sekadar berpidato di podium megah, melainkan memastikan kiai-kiai kampung yang tidur ngemper di serambi pesantren itu pulang dengan hati yang lega.
Memastikan bahwa jamiyah ini tetap menjadi tenda besar tempat wong cilik bernaung, bukan sekadar batu loncatan bagi segelintir orang yang haus kuasa. Wallahu A’lam.
Penulis adalah Ahmad Suhaimi, Warga Nahdliyin Sub Kultural.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
