Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Pengalaman Hidup dan Pembentukan Keyakinan: Kenapa Cara Kita Percaya Bisa Berbeda

WhatsApp Image 2026-06-20 at 08.32.13
Pelaksanaan Kuliah Tamu “Refleksi SDGs terhadap Keberlangsungan Hidup Umat Manusia - Universitas Kristen Indonesia” (Sumber: Dok. Pribadi).

Editor:

Kabar Baru, Opini – Setiap orang tumbuh dengan cara yang berbeda, begitu juga dengan keyakinan yang mereka miliki. Ada yang sejak kecil sudah dikenalkan pada satu ajaran tertentu, ada juga yang kemudian menemukan dan membentuk keyakinannya sendiri seiring bertambahnya usia. Menariknya, proses ini tidak pernah benar-benar terjadi secara instan, melainkan dipengaruhi oleh banyak hal dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu faktor paling awal yang membentuk keyakinan seseorang biasanya berasal dari keluarga. Di lingkungan ini, seseorang pertama kali mengenal nilai, kebiasaan, dan cara pandang tentang agama atau kepercayaan. Apa yang diajarkan di rumah sering kali menjadi dasar awal sebelum seseorang mulai mengenal dunia yang lebih luas.

Setelah itu, lingkungan sosial juga punya peran besar. Teman, komunitas, dan masyarakat sekitar secara tidak langsung mempengaruhi cara seseorang melihat sesuatu. Dalam pergaulan, kita bisa saja menemukan perbedaan pandangan yang akhirnya membuat seseorang mulai berpikir ulang atau memperkuat keyakinan yang sudah ada.

Selain itu, pendidikan juga menjadi bagian penting dalam proses ini. Pendidikan tidak hanya soal pelajaran di sekolah, tetapi juga cara berpikir kritis yang membuat seseorang mulai mempertanyakan banyak hal. Dari sini, keyakinan tidak lagi sekadar “ikut-ikutan”, tetapi mulai dipahami secara lebih sadar dan mendalam.

Tidak kalah penting, pengalaman pribadi sering kali menjadi titik balik dalam pembentukan keyakinan. Peristiwa hidup, baik yang menyenangkan maupun yang berat, bisa membuat seseorang melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Dari pengalaman inilah, banyak orang akhirnya menemukan keyakinan yang lebih kuat dan lebih personal.

Jika dilihat dari prosesnya, pembentukan keyakinan biasanya berjalan bertahap. Awalnya seseorang cenderung mengikuti apa yang ada di lingkungan terdekatnya, terutama keluarga. Lalu seiring waktu, mulai muncul proses berpikir dan mempertanyakan. Pada akhirnya, keyakinan tersebut bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih sadar, dipilih, dan diyakini secara pribadi.

Perbedaan keyakinan yang muncul dari proses ini sebenarnya adalah hal yang wajar. Justru dari perbedaan itulah muncul banyak dampak dalam kehidupan sosial. Di sisi positif, perbedaan bisa menumbuhkan sikap toleransi, saling menghargai, dan membuka wawasan yang lebih luas tentang keberagaman cara pandang manusia.

Namun di sisi lain, perbedaan juga bisa memunculkan tantangan seperti konflik antar kelompok, diskriminasi, bahkan sikap fanatisme yang berlebihan. Hal ini biasanya terjadi ketika seseorang tidak mampu melihat perbedaan sebagai sesuatu yang wajar, melainkan sebagai ancaman.

Dalam perspektif nilai-nilai agama, perbedaan keyakinan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjatuhkan. Sebaliknya, setiap orang diajarkan untuk menghargai perjalanan spiritual orang lain. Tidak ada paksaan dalam hal keyakinan, karena setiap individu memiliki proses dan pengalaman hidup yang berbeda-beda.

Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah menyamakan semua keyakinan, tetapi bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan saling menghormati. Karena pada dasarnya, setiap orang sedang menjalani perjalanan hidupnya masing-masing, dengan cara dan pemahaman yang berbeda.

Penulis: Deandra Anastasya – Universitas Kristen Indonesia

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store