Benang Merah Sindangkasih: Dari Perintis Purwakarta hingga KDM

Jurnalis: Deni Aping
Refleksi Sejarah tentang Ruang, Kepemimpinan, dan Identitas Purwakarta
Kabar Baru, Purwakarta – Hari Jadi Purwakarta ke-195 bukan sekadar peringatan bertambahnya usia sebuah daerah. Momentum ini menjadi ruang refleksi untuk menelusuri kembali jejak sejarah, mengenang para perintis, sekaligus memahami bagaimana sebuah peradaban dibangun melalui gagasan, pengabdian, dan kepemimpinan.
Secara historis, Hari Jadi Purwakarta berlandaskan Besluit atau Surat Keputusan Pemerintah Kolonial Belanda tertanggal 20 Juli 1831 Nomor 2 yang menetapkan nama Purwakarta sebagai pusat pemerintahan baru Kabupaten Karawang. Saat itu, pemerintahan dipimpin oleh R.A.A. Soeriawinata, atau Raden Muhammad Sirodj, yang lebih dikenal dengan julukan Dalem Sholawat.
Dalem Sholawat merupakan keturunan trah Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Bogor. Dialah tokoh yang mengusulkan nama Purwakarta, yang secara filosofis berarti “awal kesejahteraan.” Nama tersebut bukan sekadar identitas administratif, melainkan cita-cita besar tentang lahirnya sebuah kawasan yang diharapkan menjadi pusat kemajuan, kemakmuran, dan kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Sebelum menjadi Purwakarta, pusat pemerintahan Kabupaten Karawang berada di Wanayasa. Karena berbagai pertimbangan strategis, pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke wilayah yang dikenal sebagai Sindangkasih. Pada masa itu, kawasan tersebut masih didominasi hutan belantara yang memerlukan penataan besar-besaran agar layak menjadi pusat pemerintahan sekaligus kawasan permukiman.
Melalui kepemimpinan Dalem Sholawat, kawasan itu perlahan berkembang menjadi embrio lahirnya Purwakarta.
Meski nama Purwakarta kemudian menjadi identitas resmi daerah, Sindangkasih tidak pernah hilang dari catatan sejarah. Hingga kini, nama tersebut tetap diabadikan sebagai salah satu kelurahan di Kecamatan Purwakarta, menjadi saksi bisu perjalanan awal berdirinya kota yang kini terus berkembang.
Menariknya, hampir dua abad setelah Dalem Sholawat memulai pembangunan Purwakarta dari kawasan itu, nama Sindangkasih kembali muncul dalam kisah perjalanan seorang tokoh yang kini dikenal luas di tingkat nasional, bahkan internasional. Tokoh tersebut adalah Dedi Mulyadi, atau yang akrab dikenal dengan singkatan KDM.
Dalam pidato sambutannya pada Rapat Paripurna Hari Jadi Purwakarta ke-195 di Gedung DPRD Kabupaten Purwakarta, Senin (20/7/2026), Gubernur Jawa Barat itu mengungkapkan kisah masa mudanya ketika pertama kali datang ke Purwakarta.
KDM menuturkan bahwa dirinya berasal dari Subang dan datang ke Purwakarta setelah lulus SMA untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman.
Dalam pidatonya, ia mengaku tidak akan pernah melupakan Purwakarta. Baginya, daerah ini bukan sekadar tempat menempuh pendidikan, tetapi ruang yang mengubah arah kehidupannya.
Di Purwakarta, ia merasakan pahit-manis perjuangan hidup. Di kota inilah ia belajar, berproses, menghadapi berbagai tantangan, hingga akhirnya dipercaya masyarakat untuk mengemban amanah sebagai anggota DPRD, Wakil Bupati, Bupati Purwakarta selama dua periode, anggota DPR RI, dan kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat. Yang menarik, KDM secara terbuka menyebut bahwa tempat pertama kali ia tinggal ketika datang ke Purwakarta adalah Kelurahan Sindangkasih, sebelum kemudian berpindah ke wilayah Sukarata. Di sinilah muncul sebuah irisan sejarah yang menarik untuk direnungkan.
Dalem Sholawat memulai pembangunan Purwakarta dari kawasan Sindangkasih. Hampir dua abad kemudian, KDM memulai perjalanan hidupnya di Purwakarta dari kawasan yang sama.
Keduanya memang hidup dalam zaman yang berbeda, menghadapi tantangan yang berbeda, dan memimpin dalam konteks yang tidak sama. Namun, keduanya memiliki titik temu yang unik dalam lintasan sejarah.
Apakah hal tersebut sekadar kebetulan?
Sebagai sebuah tulisan opini, pertanyaan itu tentu tidak dimaksudkan untuk menghadirkan kesimpulan ilmiah ataupun membangun mitos baru. Tidak ada bukti sejarah maupun kajian akademik yang menyatakan bahwa Sindangkasih merupakan “faktor penentu” lahirnya seorang pemimpin besar.
Namun, sejarah sering kali menyimpan simbol-simbol yang menarik untuk dimaknai. Bisa jadi Sindangkasih hanyalah sebuah wilayah administratif. Namun dalam perspektif sejarah dan kebudayaan, sebuah tempat sering kali memiliki nilai simbolik karena menjadi ruang lahirnya gagasan, perjuangan, dan perubahan.
Dalam momentum Rapat Paripurna tersebut, hadir pula perwakilan keluarga besar Dalem Sholawat dari Kota Bogor, Raden Muhammad Padmanegara, yang didampingi Founder Bela Purwakarta, AA Komara.
Pertemuan tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi jembatan silaturahmi antara keluarga perintis Purwakarta dengan seorang pemimpin yang pernah mengabdikan sebagian besar perjalanan politiknya bagi daerah ini.
Dalam kesempatan itu juga disampaikan rencana penyelenggaraan Haul Dalem Sholawat ke-154 di Kota Bogor. Atas nama keluarga besar Dalem Sholawat, Raden Muhammad Padmanegara mengundang KDM untuk hadir sebagai tamu kehormatan. Apabila undangan tersebut dapat terwujud, maka akan lahir sebuah momentum simbolik yang sarat makna.
Dalem Sholawat dikenang sebagai sosok perintis yang meletakkan fondasi lahirnya Purwakarta. Sementara KDM dikenang sebagai salah satu pemimpin yang memberi warna kuat dalam pembangunan Purwakarta pada era modern.
Keduanya dipisahkan oleh hampir dua abad sejarah, tetapi sama-sama meninggalkan jejak pengabdian yang masih dapat dirasakan hingga hari ini.
Pada akhirnya, “Misteri Sindangkasih” bukanlah ajakan untuk mempercayai sesuatu yang bersifat mistis. Istilah tersebut lebih tepat dimaknai sebagai simbol reflektif tentang bagaimana sebuah ruang dapat menjadi saksi lahirnya perjalanan hidup para pemimpin.
Barangkali, kekuatan terbesar Sindangkasih bukan terletak pada tempatnya, melainkan pada nilai-nilai perjuangan, ketekunan, dan pengabdian yang tumbuh dari setiap orang yang memulai langkahnya dari sana.
Sejarah mengajarkan bahwa peradaban besar tidak lahir secara kebetulan. Ia dibangun oleh manusia-manusia yang memiliki keberanian untuk memulai. Dan mungkin, di situlah makna terdalam Sindangkasih: sebuah titik awal yang mengingatkan bahwa setiap perjalanan besar selalu bermula dari satu langkah kecil yang dijalani dengan ketulusan dan pengabdian. ***
Oleh: AA Komara
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
