Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Haji Her Mirip Prabowo, Rejekinya Melimpah dan Dikagumi Banyak Orang, Tapi Sering Blunder!

Desain tanpa judul - 2026-07-26T215536.274
Penulis adalah Junaidi Mohtar Hakim, Ketua Komunitas Cinta Indonesia (KCI) Wilayah Jatim.

Editor:

Kabar Baru, Opini – Ada ungkapan yang mengatakan, lidah lebih tajam daripada pedang. Dalam dunia kepemimpinan, ungkapan itu terasa semakin relevan.

Seorang pemimpin boleh memiliki kekuasaan, kekayaan, dan pengaruh yang besar, tetapi semua itu bisa dipertaruhkan hanya karena satu kalimat yang diucapkan tanpa pertimbangan.

Itulah yang belakangan terlihat pada dua tokoh yang sama-sama memiliki wibawa kuat. Presiden Prabowo Subianto dan Haji Her, sosok yang oleh banyak kalangan dijuluki sebagai Sultan Madura.

Julukan Sultan Madura bukan muncul tanpa alasan. Haji Her dikenal sebagai pengusaha dengan jejaring bisnis yang luas serta memiliki pengaruh sosial dan politik yang besar di Madura.

Setiap pernyataan dan sikapnya tidak lagi dipandang sebagai pendapat pribadi, melainkan sebagai pandangan seorang tokoh yang didengar banyak orang. Dalam posisi seperti itu, setiap kata memiliki konsekuensi.

Hal yang sama berlaku bagi Prabowo. Sebagai Presiden Republik Indonesia, setiap pidato dan ucapannya bukan sekadar komunikasi biasa, melainkan pesan kenegaraan yang akan direkam, dikutip, dan ditafsirkan oleh masyarakat, media, bahkan dunia internasional.

Sayangnya, keduanya sama-sama menunjukkan bahwa wibawa tidak selalu diiringi kehati-hatian dalam bertutur.

Prabowo beberapa kali menjadi sorotan karena gaya komunikasinya yang spontan.

Salah satu yang paling banyak menuai kritik adalah ketika ia menyebut istilah Londo Ireng kepada pihak yang menurutnya lebih mengabdi pada kepentingan asing, lalu mengaitkannya dengan sebagian wartawan, pengamat, dan LSM.

Maksud yang ingin disampaikan mungkin adalah kritik terhadap pihak-pihak tertentu.

Namun pilihan diksi tersebut justru memancing reaksi keras dari organisasi jurnalis dan kelompok masyarakat sipil karena dianggap memberi stigma terhadap profesi yang menjalankan fungsi kontrol dalam demokrasi.

Sebelumnya, Prabowo juga pernah melontarkan pernyataan yang bernada, Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang.

Bagi pendukungnya, kalimat itu dipahami sebagai ajakan mencintai tanah air. Namun bagi sebagian masyarakat, ucapan tersebut dinilai kurang memberikan ruang bagi kritik, seolah-olah perbedaan pendapat tidak memiliki tempat dalam demokrasi.

Seorang presiden tentu berhak mengajak rakyat optimistis, tetapi optimisme akan lebih bermakna bila tetap memberi ruang bagi suara yang berbeda.

Haji Her pun menghadapi persoalan serupa. Salah satu ucapannya yang ramai diperbincangkan adalah pengakuannya telah mengeluarkan sekitar Rp38 miliar untuk membantu pemenangan Khofifah Indar Parawansa.

Terlepas dari benar atau tidaknya angka tersebut, pernyataan itu justru menggeser perhatian publik dari kiprah beliau menjadi perdebatan mengenai uang dalam politik.

Blunder lainnya yang menurut saya lebih serius adalah ketika Haji Her menyatakan bahwa tidak ada pengusaha yang benar-benar bersih.

Kalimat tersebut mungkin dimaksudkan untuk menggambarkan kerasnya dunia usaha. Namun ketika keluar dari mulut seorang pengusaha besar yang dijuluki Sultan Madura, publik bisa menangkap pesan yang berbeda.

Ucapan itu seolah memberi kesan bahwa praktik bisnis yang tidak sepenuhnya bersih merupakan sesuatu yang lumrah.

Padahal masyarakat membutuhkan figur yang justru menguatkan keyakinan bahwa kesuksesan dapat diraih melalui integritas, kepatuhan terhadap hukum, dan etika bisnis.

Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Seorang tokoh bukan hanya dinilai dari apa yang ia maksud, tetapi juga dari apa yang didengar masyarakat.

Dalam komunikasi publik, niat baik tidak selalu menghasilkan persepsi yang baik. Kata-kata yang tidak dipilih dengan cermat sering kali melahirkan tafsir yang tidak diinginkan.

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin kecil ruang untuk berbicara tanpa perhitungan. Seorang warga biasa mungkin hanya didengar oleh puluhan orang.

Seorang pengusaha besar atau presiden didengar oleh jutaan orang. Apa yang mereka ucapkan bisa memengaruhi kepercayaan masyarakat, iklim usaha, stabilitas politik, hingga kualitas demokrasi.

Karena itu, kemampuan menjaga lisan sesungguhnya adalah bagian dari kepemimpinan. Wibawa memang membuat seseorang dihormati.

Kekayaan menghadirkan pengaruh. Jabatan memberikan kewenangan. Namun semua itu akan kehilangan makna apabila tidak disertai kebijaksanaan dalam bertutur.

Baik Prabowo maupun Haji Her telah membuktikan bahwa mereka memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat.

Kini tantangannya bukan lagi bagaimana membuat orang mendengar mereka, melainkan bagaimana memastikan setiap ucapan yang keluar mampu menenangkan, mempersatukan, menginspirasi, dan memberikan teladan.

Sebab sejarah sering menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya mengingat apa yang dikerjakan seorang pemimpin, tetapi juga kalimat-kalimat yang pernah diucapkannya.

Dan tidak sedikit pemimpin besar yang dikenang bukan karena prestasinya, melainkan karena kata-kata yang menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

*Penulis adalah Junaidi Mohtar Hakim, Ketua Komunitas Cinta Indonesia (KCI) Wilayah Jatim.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store