Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Pemimpin Paling Berbahaya Bukan Pembohong Dia Orang yang Paling Percaya

WhatsApp Image 2026-06-01 at 19.51.58
Ilustrasi AI.

Editor:

Kabar Baru, Opini – Dutch van der Linde dan John F. Kennedy tidak ada hubungannya satu sama lain. Kecuali dalam satu hal yang paling penting: keduanya tidak pernah ragu. Dan itulah masalahnya.

Kita sudah salah memilih musuh. Selama ini kita dididik untuk takut pada pemimpin yang berbohong  yang dingin, kalkulatif, sadar bahwa janjinya kosong tapi tetap mengucapkannya. Kita diberi alat untuk mendeteksi mereka: cek fakta, rekam jejak, data. Masalahnya, pemimpin paling merusak dalam sejarah bukan jenis itu. Mereka tidak berbohong. Mereka percaya.

Dan tidak ada dua figur  satu fiksi, satu nyata  yang mendemonstrasikan ini lebih telanjang dari Dutch van der Linde dan John F. Kennedy.

“Have some goddamn faith.” Tidak ada rencana. Tidak ada detail. Hanya keyakinan yang ditawarkan  dan itulah tepatnya yang membuat pengikutnya tidak bisa pergi.

Bagian Pertama  Anatomi Rencana Yang Tidak Pernah Ada

Di misi “Who the Hell is Leviticus Cornwall?”, geng merampok kereta dan menemukan bearer bonds  obligasi yang diterima taipan Cornwall dari negara sebagai imbalan atas proyeknya mengusir suku Wapiti dari tanah kaya minyak. Begitu rampasan diserahkan, Dutch berkata: “Exactly as I planned.”

Tidak ada yang bertanya: rencana yang mana? Karena pertanyaan itu lebih berbahaya dari aparat hukum yang mengejar mereka. Mempertanyakan rencana Dutch berarti meruntuhkan satu-satunya konstruksi yang membuat hidup mereka  hidup di luar hukum, hidup dalam pelarian  terasa berarti.

Kennedy melakukan hal yang sama dengan lebih banyak mikrofon. Juli 1960, podium Konvensi Nasional Demokrat: “The New Frontier.” Tidak ada rincian. Tidak ada angka. Hanya visi tentang generasi baru yang lebih berani dari generasi sebelumnya. Ribuan orang berdiri dan bersorak  bukan karena mereka mengerti programnya, tapi karena mereka ingin menjadi bagian dari sesuatu yang terasa besar.

Lalu datanglah April 1961. Invasi Teluk Babi. 1.400 eksil Kuba terlatih CIA mendarat di pantai selatan dan dihancurkan dalam kurang dari 24 jam. Kennedy membatalkan dukungan udara di menit terakhir  takut keterlibatan AS terbongkar  dan meninggalkan pasukannya tanpa perlindungan. CIA menyebutnya “kegagalan sempurna.”

Tidak ada momen di mana Kennedy berdiri dan berkata: saya yang salah, keputusan saya yang membunuh mereka. Yang ada hanya retorika tentang situasi yang kompleks, tentang musuh yang tidak bermain adil. Pola yang persis sama dengan Dutch van der Linde yang setiap kegagalannya selalu berakhir pada kesimpulan yang sama: orang-orangnya yang kurang iman, atau musuhnya yang curang  bukan rencananya yang tidak ada.

Pemimpin yang paling sulit dihentikan bukan yang jahat. Tapi yang yakin bahwa dirinya baik.

Bagian Kedua  Mitos Lebih Tahan Banting Dari Fakta

Kata “Camelot” tidak pernah dipakai untuk pemerintahan Kennedy saat dia masih hidup. Itu konstruksi yang dibuat seminggu setelah pembunuhannya  satu wawancara Jacqueline Kennedy dengan jurnalis Theodore White, yang memilih untuk mengaitkan suaminya dengan legenda Raja Arthur. Satu wawancara. Tapi efeknya mengubur Bay of Pigs di bawah lapisan romantisisme yang bertahan lebih dari enam dekade.

Inilah yang tidak pernah cukup kita bicarakan: mitos bukan hanya hasil dari kematian dramatis. Mitos adalah produk dari narasi yang dibangun sejak awal  narasi tentang visi yang terlalu besar untuk dipertanyakan, tentang perjuangan yang terlalu mulia untuk dievaluasi. Dutch van der Linde membangun narasi itu setiap hari. Kennedy membangunnya di setiap pidato. Dan ketika pemimpin seperti itu akhirnya jatuh, yang tersisa bukan pertanggungjawaban  yang tersisa adalah legenda.

Geng Dutch runtuh. Orang-orangnya mati satu per satu karena keputusan yang dia buat. Tapi narasinya  tentang kebebasan, tentang dunia yang tidak adil terhadap orang-orang kecil  tetap lebih kuat dari faktanya. Fiksi yang jujur. Sejarah yang tidak selalu begitu.

Bagian Ketiga  Pertanyaan Yang Kita Hindari

Kita sudah terbiasa bertanya: apakah pemimpin ini berbohong? Itu pertanyaan yang salah. Pertanyaan yang benar adalah: apakah pemimpin ini masih bisa mengubah pikirannya ketika bukti berlawanan?

Penipu yang sadar bisa berhenti. Mereka bisa kalkulasi ulang. Tapi idealis yang rusak  yang sungguh percaya bahwa musuhnya memang jahat, bahwa rencananya pasti berhasil kalau semua orang mau mengikuti, bahwa pengorbanan yang mereka minta memang perlu  mereka tidak bisa berhenti. Karena berhenti berarti mengakui bahwa keyakinan itu sendiri yang menghancurkan segalanya.

Dutch van der Linde bukan antagonis karena dia jahat. Dia antagonis karena dia tidak pernah berhenti percaya. Dan Kennedy bukan ikon karena pemerintahannya sempurna. Dia ikon karena dia mati sebelum sempurna itu diuji.

Kita perlu berhenti mencari pemimpin yang berbohong. Yang lebih menakutkan  dan jauh lebih sulit dikenali  adalah pemimpin yang tidak pernah ragu. Yang selalu punya rencana. Yang meminta kita untuk “have some goddamn faith.” Dan kita mengangguk.

Penulis : Raja Akbar Fahlevi, Fisip Uin Jakarta, Ilmu Politik.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store