Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Akhlak di Era Digital, Saat Teknologi Maju, Moral Jangan Sampai Tertinggal

Ilustrasi teknologi dan era digital
Ilustrasi teknologi dan era digital (Sumber: Dokumentasi Pribadi Serial).

Jurnalis:

Kabar Baru, Opini – Jari kita mungkin bergerak hanya beberapa detik, tetapi dampaknya bisa dirasakan seseorang seumur hidup.

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat menggambarkan kondisi masyarakat di era digital saat ini. Kemajuan teknologi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia.

Komunikasi menjadi lebih cepat, informasi dapat diakses kapan saja, dan media sosial menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari. Semua itu memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan yang tidak kalah besar.

Di balik kemudahan tersebut, ruang digital kini dipenuhi berbagai persoalan. Hoaks menyebar dalam hitungan menit, kita sering melihat bagaimana informasi yang belum tentu benar dapat menjadi viral hanya dalam beberapa jam dan memicu perdebatan bahkan konflik di media sosial, selain itu ujaran kebencian semakin mudah ditemukan, cyberbullying menjadi ancaman bagi banyak remaja, dan budaya saling menghakimi atau cancel culture seolah menjadi hal yang biasa.

Ironisnya, banyak orang lebih berani menyakiti orang lain melalui layar ponsel dibandingkan ketika bertemu secara langsung.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi ternyata tidak selalu diikuti oleh perkembangan moral. Kita semakin pintar menggunakan teknologi, tetapi belum tentu semakin bijak dalam menggunakannya, padahal teknologi hanyalah alat.

Sedangkan yang menentukan apakah alat tersebut membawa manfaat atau justru kerusakan adalah manusia yang menggunakannya.

Ketika Aturan Saja Tidak Lagi Cukup

Selama ini berbagai upaya telah dilakukan untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat. Pemerintah menerbitkan berbagai regulasi, seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), sementara berbagai platform media sosial juga memiliki aturan komunitas untuk membatasi penyebaran konten negatif.

Namun, pertanyaannya adalah mengapa cyberbullying, hoaks, dan ujaran kebencian masih terus terjadi?

Jawabannya mungkin sederhana. Aturan hanya mampu mengawasi perilaku dari luar. Ketika tidak ada pengawasan atau seseorang merasa identitasnya tersembunyi, pelanggaran tetap dapat terjadi.

Artinya, persoalan utamanya bukan hanya kurangnya aturan, melainkan kurangnya kesadaran moral dari dalam diri manusia.

Mengapa Akhlak Filosofis Menjadi Penting?

Di sinilah konsep Risalah Akhlak Filosofis menjadi relevan.

Konsep ini merujuk pada Risalah Akhlak Islami Filosofis, sebuah pedoman yang disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Melalui risalah tersebut, Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk tidak hanya memahami akhlak sebagai aturan tentang baik dan buruk, tetapi juga sebagai cara berpikir dan bertindak yang didasarkan pada keseimbangan antara akal dan wahyu.

Akal membuat seseorang mampu berpikir kritis sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi. Wahyu menjadi pedoman agar setiap tindakan tetap berada dalam koridor nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran agama.

Dengan kata lain, seseorang tidak menjaga etika karena takut dihukum, tetapi karena sadar bahwa setiap perkataan dan tindakannya memiliki tanggung jawab moral.

Prinsip ini terasa sangat penting di era digital. Sebelum menekan tombol share misalnya seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah informasi ini benar? Apakah informasi ini bermanfaat? Apakah penyebarannya akan menyakiti orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sebenarnya merupakan bentuk penerapan akhlak filosofis dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangan Generasi Digital

Generasi muda saat ini merupakan generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet. Mereka memiliki kemampuan digital yang tinggi, tetapi kemampuan teknis saja tidak cukup.

Media sosial sering kali mendorong seseorang untuk mengejar validasi dalam bentuk jumlah likes, komentar, atau pengikut.

Budaya flexing membuat banyak orang berlomba menampilkan kehidupan yang tampak sempurna. Di sisi lain, banyak pengguna media sosial yang merasa rendah diri karena terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Akibatnya, media sosial tidak lagi menjadi ruang berbagi, tetapi berubah menjadi ruang kompetisi yang memengaruhi kesehatan mental.

Tidak sedikit orang mengalami kecemasan, kehilangan rasa percaya diri, bahkan mengalami krisis identitas karena standar kehidupan yang dibangun di dunia maya.

Karena itu, literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi. Yang jauh lebih penting adalah membangun karakter, empati, dan kemampuan mengendalikan diri ketika berada di ruang digital.

Jika dilihat dari perspektif psikologi, kondisi ini berkaitan erat dengan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi, mengendalikan diri, dan membangun empati.

Ketika individu memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik, ia tidak mudah terpancing untuk menulis komentar yang menyakitkan, menyebarkan informasi tanpa berpikir, atau bereaksi secara impulsif di media sosial.

Sebaliknya, rendahnya empati dan kontrol diri dapat memicu perilaku agresif di ruang digital, seperti cyberbullying, ujaran kebencian, maupun penyebaran hoaks.

Oleh karena itu, membangun akhlak bukan hanya penting dalam konteks keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membentuk kesehatan psikologis dan hubungan sosial yang lebih sehat di era digital.

Media Sosial Bisa Menjadi Ladang Kebaikan

Di sisi lain, media sosial sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa jika digunakan secara bijak.

Banyak gerakan kemanusiaan berhasil menggalang bantuan melalui media sosial. Banyak anak muda yang membagikan konten edukasi, dakwah, maupun informasi yang bermanfaat.

Bahkan, berbagai kegiatan sosial kini lebih mudah menjangkau masyarakat berkat teknologi digital.

Inilah semangat yang juga ditekankan dalam konsep Islam Berkemajuan. Teknologi tidak boleh dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai sarana untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Media sosial dapat menjadi ruang belajar, berbagi inspirasi, memperkuat solidaritas, dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan jika digunakan dengan penuh tanggung jawab.

Saatnya Mengubah Cara Kita Bermedia Sosial

Pada akhirnya, tantangan terbesar di era digital bukanlah perkembangan teknologinya, melainkan bagaimana manusia menggunakannya.

Setiap komentar yang kita tulis, setiap informasi yang kita bagikan, dan setiap konten yang kita unggah merupakan cerminan dari karakter kita sendiri.

Karena itu, membangun ruang digital yang sehat tidak cukup hanya mengandalkan regulasi atau kecanggihan teknologi, tetapi yang lebih penting adalah membangun manusia yang memiliki akhlak.

Risalah Akhlak Filosofis mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemajuan moral.

Ketika akal digunakan untuk berpikir kritis dan nilai-nilai agama menjadi pedoman dalam bertindak, media sosial tidak lagi menjadi tempat menyebarkan kebencian, tetapi berubah menjadi ruang yang memanusiakan manusia.

Di tengah derasnya arus informasi saat ini, mungkin kita tidak bisa mengendalikan semua yang muncul di media sosial.

Namun, kita selalu bisa memilih menjadi pengguna yang lebih bijak. Sebab, perubahan besar menuju ruang digital yang sehat selalu dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi seharusnya tidak hanya diukur dari kecanggihan perangkat yang kita miliki, tetapi juga dari sejauh mana teknologi mampu menjadikan kita pribadi yang lebih bijaksana, berempati, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Penulis: Serial Fitrah Kaisupy – Magister Psikologi

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store