Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Toga Naik Kelas, Pemanfaatan Toga Menjadi Produk Pangan Bernilai

Pemaparan Materi
Pemaparan Materi oleh Haya Uki Ifada (Sumber: Dokumentasi Pribadi).

Jurnalis:

Kabar Baru, Semarang – Haya Yuki Ifada, mahasiswa Program Studi Agribisnis, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II IDBU 38 Dusun Sironjang dan Dukuh melaksanakan program kerja monodisiplin dengan tema “TOGA Naik Kelas: dari Tanaman Obat ke Produk Pangan Bernilai”.

Kegiatan ini ditujukan kepada ibu-ibu PKK RT 1 sampai RT 4 RW 1 Kelurahan Pakintelan sebagai upaya meningkatkan pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) melalui pengolahan menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah dan nilai ekonomi.

Potensi TOGA Belum Dimanfaatkan Secara Optimal

Program kerja ini dilatarbelakangi oleh potensi TOGA di lingkungan RT 1 hingga RT 4 RW 1 Kelurahan Pakintelan. Masyarakat membudidayakan berbagai jenis tanaman obat seperti jahe, kunyit, kencur, serai, dan lidah buaya pada taman TOGA.

Namun, hasil panen tanaman tersebut sebagian besar masih dijual dalam bentuk mentah kepada warga sekitar sehingga nilai jualnya relatif rendah dan belum memberikan manfaat ekonomi yang optimal.

Padahal, TOGA tidak hanya bermanfaat sebagai sumber pengobatan keluarga, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan yang lebih menarik, memiliki daya saing, serta mampu meningkatkan nilai jual dibandingkan dengan bahan mentah.

Kondisi tersebut menjadi alasan program sosialisasi mengenai pentingnya pemberian nilai tambah melalui diversifikasi produk berbahan dasar TOGA.

Edukasi Mengenai Nilai Tambah dan Diversifikasi Produk

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pengertian dan manfaat Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Peserta diberikan pemahaman bahwa TOGA tidak hanya berfungsi sebagai “apotek hidup” yang mendukung kesehatan keluarga, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pendapatan apabila diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Berbagai contoh tanaman seperti jahe, kunyit, kencur, serai, dan lidah buaya diperkenalkan kembali beserta manfaatnya bagi kesehatan dan peluang pemanfaatannya sebagai produk olahan.

Selanjutnya, peserta memperoleh materi mengenai konsep nilai tambah. Dalam kegiatan ini dijelaskan bahwa nilai tambah merupakan peningkatan nilai atau harga suatu produk setelah melalui proses pengolahan, pengemasan, maupun inovasi sehingga menjadi lebih menarik dan memiliki harga jual yang lebih tinggi.

Sebagai contoh, jahe yang dijual dalam bentuk mentah memiliki nilai ekonomi yang relatif rendah, sedangkan apabila diolah menjadi produk pangan, nilai jualnya dapat meningkat secara signifikan.

Peserta juga diperkenalkan dengan konsep diversifikasi produk sebagai salah satu strategi meningkatkan nilai ekonomi hasil panen.

Diversifikasi dilakukan dengan mengembangkan berbagai jenis produk dari bahan baku yang sama maupun mengolah jenis TOGA lainnya menjadi produk yang berbeda.

Masyarakat diharapkan mampu menghasilkan lebih banyak variasi produk sehingga peluang usaha dan pemasaran menjadi semakin luas.

Demonstrasi Pembuatan dan Pengenalan Produk Olahan TOGA

Sebagai implementasi materi yang telah disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan puding jahe.

Produk ini dipilih karena menggunakan bahan yang mudah diperoleh, proses pembuatannya sederhana, dan memiliki cita rasa yang dapat diterima oleh berbagai kalangan.

Dalam demonstrasi tersebut, peserta diperlihatkan tahapan pembuatan puding, pencampuran bahan, proses pemasakan, hingga penyajian menggunakan karamel sebagai pelengkap.

Melalui praktik secara langsung, peserta tidak hanya memahami konsep diversifikasi produk, tetapi juga memperoleh keterampilan dasar dalam mengolah salah satu tanaman TOGA menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah.

Sebagai bentuk pengenalan produk hasil olahan, puding jahe yang telah dibuat juga disajikan kepada peserta.

Dengan demikian, ibu-ibu PKK tidak hanya memperoleh pengetahuan dan menyaksikan proses pembuatannya, tetapi juga dapat mencicipi secara langsung hasil olahan tersebut.

Antusiasme Masyarakat dan Harapan Keberlanjutan Program

Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan melibatkan ibu-ibu PKK dalam sesi diskusi dan tanya jawab.

Selain memperoleh pengetahuan baru mengenai manfaat ekonomi tanaman obat, peserta juga mendapatkan gambaran mengenai peluang pengembangan usaha berbasis potensi lokal.

Melalui program ini diharapkan masyarakat tidak lagi hanya menjual hasil panen TOGA dalam bentuk mentah, tetapi mulai mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah sehingga mampu meningkatkan pendapatan keluarga.

Selain itu, pemanfaatan TOGA secara inovatif juga diharapkan dapat mendorong tumbuhnya kreativitas masyarakat dalam mengembangkan produk pangan berbahan dasar tanaman lokal yang sehat, aman, dan bernilai jual.

Program kerja “TOGA Naik Kelas: dari Tanaman Obat ke Produk Pangan Bernilai” menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa KKN Tematik IDBU 38 Universitas Diponegoro dalam mendukung pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.

Melalui sinergi antara edukasi dan praktik langsung, diharapkan pemanfaatan TOGA di Kelurahan Pakintelan dapat berkembang tidak hanya sebagai sumber tanaman obat keluarga, tetapi juga sebagai peluang usaha yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Penulis: Haya Yuki Ifada – Mahasiswa KKN Tim II IDBU 38 Sironjang Universitas Diponegoro

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store