Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Dinamika Pelestarian dan Komodifikasi Budaya Sekaten Solo

Picture1ggggg
Ilustrasi Sekaten Solo (Sumber: Tribunsolo).

Editor:

Kabar Baru, Opini – Budaya tradisional merupakan warisan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi penanda identitas suatu bangsa. Di Indonesia, kekayaan budaya ini tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi nilai sosial dan spiritual, tetapi juga berpotensi menjadi komoditas ekonomi yang menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Proses transformasi unsur budaya menjadi komoditas bernilai ekonomis inilah yang dikenal sebagai komodifikasi budaya. Fenomena ini membawa dampak yang kompleks, sebagaimana terlihat pada tradisi Sekaten di Kota Solo.

Akar Historis dan Makna Spiritual Sekaten

Sekaten bermula sebagai strategi dakwah Wali Songo dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa pada abad ke-15. Para wali memahami bahwa masyarakat Jawa memiliki kecintaan mendalam terhadap kesenian, khususnya gamelan. Maka, diciptakanlah gamelan Sekaten sebagai instrumen sakral yang hanya ditabuh pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tradisi ini bukan sekadar perayaan, melainkan simbol harmoni antara spiritualitas Islam dan kebudayaan Jawa. Bunyi gamelan sekaten dipercaya mengandung nilai spiritual yang tinggi karena berfungsi untuk mengundang masyarakat agar mendekat, mendengarkan, dan akhirnya menerima ajaran Islam. Inilah yang menjadikan Sekaten menjadi sebuah perpaduan antara religiusitas, tradisi keraton, dan kearifan lokal Jawa.

Pergeseran Makna: Dari Ritual Sakral Menuju Festival Komersial

Dalam beberapa dekade terakhir, wajah sekaten mengalami transformasi yang semula berlangsung selama tujuh hari, kini diperpanjang hingga hampir satu bulan penuh. Nama “sekaten” pun kian tergeser oleh sebutan pasar malam perayaan sekaten (PMPS) menjadi sebuah indikasi yang jelas bahwa dimensi komersial telah mendominasi.

Beberapa indikator pergeseran lainnya, antara lain:

  • Proliferasi aktivitas perdagangan. Ratusan stan penjualan, wahana permainan, dan panggung hiburan memenuhi area alun-alun, mengalihkan fokus dari esensi spiritual perayaan.
  • Produksi massal souvenir dan kuliner. Barang-barang yang semula memiliki makna simbolik kini diproduksi dalam skala besar untuk memenuhi permintaan pasar.
  • Akibatnya, sekaten kini berada di persimpangan antara fungsi sakral sebagai peringatan Maulid Nabi dan fungsi komersial sebagai festival tahunan penggerak ekonomi lokal.

Dampak Ganda Komodifikasi

Komodifikasi sekaten ini tidak sepenuhnya negatif. Dari perspektif ekonomi, perayaan ini memberikan manfaat nyata, seperti:

  • Menggerakkan roda perekonomian pedagang kecil dan pelaku usaha mikro di sekitar Solo.
  • Meningkatkan kunjungan wisatawan yang berdampak positif pada sektor perhotelan, transportasi, dan kuliner.
  • Menjaga eksistensi tradisi agar tidak dilupakan generasi muda.

Namun, di sisi lain, tekanan ekonomi dan orientasi konsumtif menghadirkan dampak serius:

  • Distorsi makna. Nilai filosofis dan spiritual sekaten tereduksi menjadi sekadar label pemasaran.
  • Erosi autentisitas. Elemen-elemen tradisional disesuaikan demi selera pasar, bukan demi pelestarian nilai asli.
  • Alienasi masyarakat lokal. Warga yang semula menjadi subjek tradisi berubah menjadi objek atau hanya sekadar penonton dalam perayaan di kampung sendiri.

Strategi Pelestarian yang Partisipatif

Agar sekaten tidak kehilangan esensinya, diperlukan pendekatan partisipatif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan:

  1. Peran Kreator Konten dan Influencer

Kreator konten memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi publik, mereka dapat membuat konten yang menyoroti sisi filosofis dan historis dan menggandeng narasumber seperti budayawan atau akademisi untuk memberikan narasi yang mendalam menggunakan format narasi yang menarik untuk menjangkau generasi muda.

  1. Inovasi Industri Pariwisata

Pelaku industri pariwisata dapat berkontribusi melalui penyediaan tur edukatif dengan pemandu terlatih yang mampu menjelaskan sejarah dan filosofi sekaten, pengembangan paket wisata yang mengintegrasikan kunjungan ke Keraton Surakarta, Masjid Agung, dan Museum Radya Pustaka untuk memberikan konteks budaya yang utuh, kolaborasi dengan komunitas lokal agar wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan pelaku tradisi.

  1. Intervensi Pemerintah Daerah

Pemerintah Kota Surakarta juga memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian dan pemanfaatan ekonomi, seperti menyediakan media edukatif seperti booklet, audio guide, papan informasi, atau video pendek yang menjelaskan makna sekaten di titik-titik strategis (alun-alun, pagelaran keraton, halaman Masjid Agung), menetapkan zonasi yang memisahkan area sakral (tempat gamelan ditabuh dan prosesi ritual) dari area komersial, mendorong kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah yang membahas sejarah dan filosofi sekaten.

Penulis: Rasya Akhda Pradita Wartono – Universitas Airlangga

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store