Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Mengapa Musik Menjadi Tempat Pulang Saat Pikiran Terasa Penuh

musik
Ilustrasi headphone di atas lembar partitur musik. (Sumber: Pexels).

Jurnalis:

“Musik mengekspresikan apa yang tidak bisa diucapkan dan tidak mungkin didiamkan.” Kutipan Victor Hugo itu mungkin terdengar puitis, tetapi rasanya masih sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini.

Coba ingat, kapan terakhir kali kamu langsung membuka Spotify setelah menjalani hari yang melelahkan? Mungkin setelah menjalani hari yang panjang, tugas yang terasa tidak ada habisnya, atau sekadar karena kepala sudah terlalu penuh.

Tanpa banyak berpikir, tangan langsung meraih earphone, memilih lagu favorit, lalu menekan tombol play. Masalahnya memang belum selesai, tetapi entah mengapa napas terasa sedikit lebih lega.

Saya pun pernah berada di posisi itu. Ketika tugas kuliah dan organisasi datang bersamaan, sementara deadline sudah di depan mata, rasanya lebih mudah membuka Spotify daripada langsung bercerita kepada orang lain.

Mungkin karena musik tidak pernah meminta kita menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Musik hanya menemani.

Rasanya, kebiasaan seperti itu sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang, terutama Generasi Z. Musik rasanya hadir hampir di setiap momen.

Saat perjalanan menuju kampus, ketika mengerjakan tugas hingga larut malam, menjelang tidur, bahkan saat kita sedang menangis. Bukan cuma sebagai hiburan, tetapi juga sebagai teman yang seolah selalu siap menemani.

Menariknya, hampir setiap orang punya lagu “penyelamat” versinya masing-masing. Ada yang langsung memutar lagu-lagu Hindia ketika merasa kehilangan arah, ada yang memilih Bernadya saat sedang patah hati, sementara yang lain lebih nyaman mendengarkan musik instrumen ketika pikirannya mulai terasa penuh.

Lagunya boleh beda-beda, tapi alasannya sering kali mirip. Kita cuma ingin merasa sedikit lebih tenang.

Lalu, kenapa musik bisa memberi efek menenangkan? Padahal, setelah lagu selesai diputar, masalah yang kita hadapi sering kali masih tetap ada.

Jawabannya ternyata tidak sesederhana karena lagunya enak didengar.

Dalam psikologi, ada konsep yang disebut emotion regulation, yaitu kemampuan seseorang mengenali, mengelola, dan merespons emosinya dengan cara yang lebih sehat.

Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mengatur emosi. Ada yang memilih berbicara dengan orang terdekat, ada yang menulis jurnal, ada pula yang berjalan-jalan sendirian. Namun, tidak sedikit yang memilih mendengarkan musik.

Pilihan itu ternyata bukan sekadar kebiasaan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa musik memang sering digunakan sebagai salah satu cara untuk membantu seseorang mengelola emosinya.

Sebuah scoping review yang menganalisis puluhan penelitian menemukan bahwa musik dapat membantu menenangkan diri, mengurangi stres, hingga memproses pengalaman emosional yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Tanpa disadari, kebiasaan ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan seseorang yang baru saja mendapat nilai ujian di bawah harapan.

Atau seseorang yang pulang setelah hari yang benar-benar melelahkan. Tidak semua orang langsung menceritakan apa yang dirasakannya kepada teman atau keluarga.

Kadang, kita hanya ingin diam sebentar sambil mendengarkan lagu favorit. Anehnya, beberapa menit kemudian kepala terasa sedikit lebih ringan.

Tentu saja musik tidak menghapus masalah. Deadline tetap menunggu, tugas tetap harus diselesaikan, dan konflik yang terjadi belum tentu langsung selesai. Namun, musik sering kali membantu kita menghadapi semua itu dengan kondisi emosi yang lebih stabil.

Di sinilah konsep emotional validation menjadi menarik. Sederhananya, validasi emosi adalah pengalaman ketika seseorang merasa bahwa apa yang sedang ia rasakan dapat dipahami dan diterima.

Selama ini kita mungkin menganggap validasi hanya bisa datang dari orang lain. Padahal, sebuah lagu juga bisa menghadirkan pengalaman yang serupa.

Pernah tidak merasa seperti, “Lagu ini kok seperti menceritakan hidupku?”

Perasaan itu muncul ketika lirik, melodi, atau suasana lagu terasa begitu dekat dengan pengalaman yang sedang kita alami.

Bukan karena penyanyinya mengenal kita secara pribadi, melainkan karena emosi yang disampaikan terasa begitu manusiawi. Pada akhirnya, kita merasa tidak sendirian menghadapi apa yang sedang dirasakan.

Karena itulah banyak orang justru memilih lagu bernuansa sendu ketika sedang sedih. Sekilas pilihan itu memang terdengar aneh. Bukankah lagu yang ceria seharusnya lebih ampuh memperbaiki suasana hati?

Ternyata tidak selalu demikian.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa seseorang sering memilih musik yang sesuai dengan emosinya sebagai cara untuk memahami dan menerima perasaan tersebut terlebih dahulu.

Jadi, mendengarkan lagu sedih bukan berarti ingin terus larut dalam kesedihan. Dalam banyak kasus, justru itu menjadi bagian dari proses untuk mengenali apa yang sedang dirasakan sebelum akhirnya perlahan bangkit kembali.

Bagi saya, musik memang bukan solusi atas semua masalah. Deadline tetap harus diselesaikan, konflik tetap perlu dihadapi, dan hidup tetap berjalan.

Namun, di tengah semua itu, musik sering menjadi ruang untuk berhenti sejenak dan menata kembali pikiran yang terasa penuh. Mungkin karena itulah, ketika kata-kata tidak lagi cukup, kita memilih membiarkan musik yang berbicara.

Penulis: Dinda Deviandini –  Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store