API Petakan Tantangan Koperasi untuk Perkuat Industri Kopi dan Kakao Berkelanjutan

Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Luwu Timur — Aliansi Petani Indonesia (API) merampungkan kunjungan lapangan ke lima koperasi petani di Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan sebagai bagian dari penyusunan strategi penguatan koperasi kopi dan kakao berkelanjutan. Hasil kunjungan menunjukkan bahwa koperasi petani kini tidak lagi sekadar menjadi lembaga pemasaran hasil panen, tetapi berkembang sebagai pusat layanan dan penguatan ekonomi petani di tengah tuntutan pasar global yang semakin kompleks.
Selama lima hari, tim API mengunjungi Koperasi Mitra Agribisnis Mandiri (MaMa) di Kabupaten Polewali Mandar, Koperasi Benteng Alla di Kabupaten Enrekang, Koperasi Perkumpulan Petani Kopi Toraja (PPKT Toraja) di Kabupaten Toraja Utara, Koperasi Tani Masagena di Kabupaten Luwu Utara, serta Koperasi Cahaya Sehati di Kabupaten Luwu Timur.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memetakan kondisi kelembagaan koperasi, tata kelola usaha, pengembangan komoditas kopi dan kakao, penerapan agroekologi, hingga kesiapan menghadapi standar perdagangan internasional. Selain berdialog dengan pengurus koperasi, tim API meninjau gudang penyimpanan, unit pengolahan hasil, kebun anggota, serta berdiskusi dengan kelompok tani mengenai berbagai tantangan di lapangan.
Dari hasil pemantauan, API menilai koperasi anggota telah memperluas perannya sebagai penyedia layanan bagi petani. Berbagai koperasi kini tidak hanya memasarkan hasil panen, tetapi juga mendampingi anggota dalam budidaya, meningkatkan kapasitas petani, mengelola mutu pascapanen, memfasilitasi akses pembiayaan, hingga membangun jejaring perdagangan dengan pembeli nasional maupun internasional. Peran tersebut dinilai menjadi fondasi penting untuk memperkuat posisi tawar petani.
Meski demikian, setiap koperasi menghadapi tantangan yang berbeda sesuai karakter wilayah dan komoditas yang dikelola.
Di Koperasi Mitra Agribisnis Mandiri (MaMa), misalnya, fluktuasi harga kakao menyebabkan sebagian besar modal usaha tertahan dalam bentuk stok biji kakao. Untuk menjaga nilai ekonomi produk, koperasi memilih menunda penjualan dan menerapkan strategi perdagangan yang lebih hati-hati melalui transaksi bermodal kecil dengan perputaran yang lebih cepat. Koperasi juga mulai mendiversifikasi usaha melalui pengembangan peternakan, produksi pupuk organik, dan kemitraan baru guna mengurangi ketergantungan pada perdagangan kakao.
Sementara itu, Koperasi Benteng Alla di Enrekang menunjukkan penguatan tata niaga kopi berbasis kualitas melalui peningkatan mutu pascapanen dan hubungan yang lebih erat dengan petani anggota. Pengurus koperasi menilai peningkatan kualitas produk harus diikuti penguatan organisasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta sistem pencatatan yang lebih baik agar mampu memenuhi tuntutan pasar terkait keberlanjutan dan ketertelusuran produk.
Di Toraja Utara, Koperasi PPKT Toraja menghadapi tantangan menjaga reputasi kopi Toraja di pasar internasional. Selain mempertahankan mutu produk, koperasi juga berupaya mendorong regenerasi petani, meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim, dan memenuhi berbagai standar perdagangan global. Upaya tersebut diperkuat melalui pendampingan teknis, pengembangan usaha, dan perluasan akses pasar bagi anggota.

Praktik serupa juga terlihat di Koperasi Tani Masagena, Kabupaten Luwu Utara. Koperasi ini berhasil memperoleh pengakuan internasional atas inovasi pengembangan usaha kakao dan tata kelola organisasinya. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa koperasi petani mampu menjadi pelaku usaha yang kompetitif melalui tata kelola yang baik, kepemimpinan yang kuat, serta partisipasi aktif anggota tanpa meninggalkan prinsip ekonomi kerakyatan.

Adapun di Koperasi Cahaya Sehati, Kabupaten Luwu Timur, pembahasan berfokus pada penguatan kelembagaan anggota, pengembangan usaha berbasis kebutuhan petani, serta peningkatan kapasitas organisasi untuk menghadapi perubahan regulasi perdagangan internasional. Tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan budidaya, tetapi juga akses pembiayaan, pengelolaan data anggota, digitalisasi administrasi koperasi, hingga pemenuhan sertifikasi dan sistem ketertelusuran produk.
Sekretaris Jenderal Aliansi Petani Indonesia, M. Nuruddin, mengatakan rangkaian kunjungan tersebut memberikan gambaran menyeluruh mengenai kekuatan sekaligus tantangan koperasi petani di berbagai daerah. Menurutnya, organisasi petani sebenarnya telah memiliki modal sosial, jaringan, pengalaman, dan kelembagaan yang kuat.
“Yang kami bangun bukan hanya koperasi sebagai lembaga usaha, tetapi koperasi sebagai pusat pengorganisasian petani, pengembangan pengetahuan, pengelolaan data, perdagangan bersama, dan penguatan posisi tawar petani. Seluruh aset yang dimiliki petani—baik sumber daya manusia, pengetahuan, lahan, jaringan, maupun organisasi—harus menjadi kekuatan untuk membangun ekonomi petani yang mandiri,” ujar M. Nuruddin.
Dalam kunjungan tersebut, API juga memperkenalkan kerangka Program Penguatan Organisasi Petani 2026–2030. Program ini menitikberatkan pada pengembangan agroekologi, penguatan koperasi, transformasi digital, sistem pemantauan berbasis aplikasi, pengelolaan data petani, serta peningkatan kapasitas usaha. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas data koperasi, memperkuat pengambilan keputusan, sekaligus mempersiapkan petani memenuhi standar perdagangan global, termasuk aspek keberlanjutan dan ketertelusuran.
Berbagai temuan lapangan itu selanjutnya menjadi bahan pembahasan dalam Lokakarya Pengembangan Kopi dan Kakao Berkelanjutan yang digelar di Toraja Utara. API menilai setiap koperasi memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda, tetapi seluruhnya membutuhkan penguatan organisasi petani, koperasi yang profesional, akses pasar yang lebih adil, serta dukungan kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, API menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kapasitas koperasi anggota sebagai motor penggerak ekonomi petani. Penguatan kelembagaan, inovasi usaha, penerapan agroekologi, digitalisasi data, serta kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai mitra pembangunan dipandang menjadi fondasi bagi terwujudnya sistem produksi kopi dan kakao Indonesia yang berdaya saing, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
