Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Orientalisme Edward Said dalam Perspektif Konflik Timur Tengah: Iran dan Gaza

Ilustrasi Konflik di Timur Tengah ( Dok. Al Jazeera)
Ilustrasi Konflik di Timur Tengah ( Dok. Al Jazeera).

Editor:

Kabar Baru, Opini – Konflik di Timur Tengah, khususnya eskalasi antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran, serta konflik di Gaza, hampir tak pernah luput dari perhatian dunia.

Di tengah derasnya arus informasi mengenai perang tersebut, perhatian publik sering terfokus pada jumlah korban dan eskalasi militer sebagai fokus utama konflik. Namun, pada kenyataannya, terdapat aspek lain yang tak kalah penting tetapi kerap terabaikan, yakni bagaimana konflik tersebut diceritakan.

Narasi konflik yang beredar di media tidak pernah benar-benar netral. Ia membentuk cara sebagian besar orang dalam memahami realitas, sekaligus memengaruhi siapa yang diposisikan sebagai korban dan siapa yang dilabeli sebagai sebuah ancaman.

Orientalisme sebagai Kerangka Memahami Konflik

Fenomena ini dapat dipahami melalui konsep orientalisme yang dikemukakan oleh Edward Said. Dalam karyanya Orientalism (1978), orientalisme bukan sekadar studi tentang Timur, melainkan sebuah cara pandang yang dibentuk oleh Barat untuk mendefinisikan Timur melalui kacamata subjektif Barat.

Dalam karyanya, Timur digambarkan sebagai “sesuatu yang lain”, irasional, terbelakang, dan membutuhkan intervensi Barat. Dimana pengetahuan tentang Timur seringkali disusun melalui sudut pandang Barat yang memposisikan dirinya sebagai negara yang rasional, modern, serta superior.

Said menyoroti bahwa orientalisme berfungsi sebagai alat instrumen Barat dalam menggunakan kekuasaan untuk melanggengkan dominasi, kolonialisme, dan imperialisme. Kerangka ini dapat membantu kita memahami bagaimana situasi dan kondisi pada konflik di Timur Tengah dinarasikan sebagai sebuah kisah heroik Barat, terutama pada konflik Iran dan Gaza.

Konflik di Timur Tengah (Israel, Amerika dan Iran) & Pengaruhnya Terhadap Gaza

Cara pandang orientalis tidak berhenti hanya sebagai teori, tetapi terus hidup dalam praktik politik dan media kontemporer. Dalam konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran dalam beberapa periode terakhir menunjukkan adanya ketegangan yang lebih luas.

Konflik ini tidak lagi sekadar konflik bilateral, tetapi sebagai perebutan pengaruh geopolitik di kawasan Timur Tengah Ketegangan antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran tidak terlepaskan dari konteks sejarah, khususnya peristiwa Revolusi Iran pada tahun 1979 yang membawa perubahan besar di kawasan Timur Tengah hingga saat ini.

Revolusi tersebut berhasil menggulingkan rezim pro-Barat dan mengubah Iran menjadi republik Islam. Hal ini menimbulkan terjadinya ketegangan dalam jangka panjang di kawasan Timur.

Perkembangan konflik di Iran semakin memanas. Pada Februari 2026 lalu terjadi serangan gabungan dari Amerika Serikat dengan Israel yang menyerang titik-titik strategis yang berada di wilayah Iran hingga menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ahmad Khomeini.

Hal ini memicu serangan balik dari Iran berupa rudal dan drone ke wilayah Israel, terkhusus pada pangkalan militer di kawasan Teluk. Konflik ini tidak hanya berdampak pada aspek militer, tetapi juga dapat menimbulkan korban sipil dan kerusakan infrastruktur publik yang luas, seperti rumah sakit, sekolah, dan transportasi.

Tidak hanya sampai situ, konflik ini juga berdampak kepada stabilitas global seperti terganggunya jalur perdagangan yang melalui Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi minyak dunia.

Menurut pengamat perang politik antara Israel dan Amerika terhadap Iran, Faisal Assegaf, mengatakan bahwa alasan Iran menjadi sasaran tekanan dari Israel dan Amerika adalah sikapnya yang konsisten menentang Zionisme dan dukungannya terhadap kelompok Palestina, termasuk di Gaza.

Hal yang sama juga terjadi di Gaza. Konflik yang telah berlangsung lama di Gaza tidak dapat dilepaskan dari sejarah kolonialisme dan intervensi asing di Palestina. Sejak Gaza berada di bawah kekuasaan Inggris pada tahun 1917, perubahan politik menjadi pemicu ketegangan yang berkepanjangan antara Palestina dan Zionis Israel.

Pembentukan negara Israel pada 1948 dengan didukung negara-negara Barat memperparah konflik, dan hingga kini, dampaknya masih terasa dalam bentuk blokade, kekerasan, dan keterbatasan akses bagi warga sipil.

Konflik yang terjadi antara Israel dan Amerika terhadap Iran juga berdampak langsung pada krisis kemanusiaan di Gaza. Israel menutup beberapa titik penyeberangan ke Gaza sejak perang Iran dimulai, termasuk penutupan sementara Kerem Shalom.

Hal ini membuat pasokan bantuan kemanusiaan, seperti obat-obatan, makanan, dan bahan bakar semakin terbatas. Situasi ini menunjukkan bagaimana narasi global yang memposisikan wilayah Timur sebagai objek yang harus dikontrol sesuai dengan kepentingan Barat.

Orientalisme dan Media

Edward said menjelaskan bahwa media memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman masyarakat mengenai Timur Tengah. Banyak berita yang menggambarkan Timur sebagai wilayah yang penuh konflik dan kekerasan.

Sehingga pandangan ini cenderung menggeneralisasi negara-negara di kawasan Timur tanpa memperhatikan keragaman konteks historis, budaya, dan bagaimana kondisi politik di negara tersebut.

Pemilihan kata pada media memainkan peran penting dalam mereproduksi orientalisme. Istilah seperti “teroris”, “militan”, atau “security threat” sering diletakkan pada aktor-aktor dari Timur, sementara istilah yang lebih netral atau bahkan positif digunakan untuk pihak Barat.

Pola ini membentuk opini publik secara global dan pada akhirnya dapat memengaruhi kebijakan internasional. Dalam konteks Iran dan Gaza, narasi seperti ini berpotensi mengurangi tekanan internasional terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di kawasan tersebut.

Salah satu contoh hasil pemikiran orientalis dari Edward Said dapat bisa kita lihat melalui opini yang dipublikasikan oleh MUI yang menunjukkan bahwa Iran dianggap sebagai kerangka narasi “Armageddon”, yakni bayangan perang akhir zaman yang memenuhi syarat muatan teologis.

Konflik Iran sudah tidak lagi dipahami sebatas persoalan geopolitik, tetapi bagian dari misi yang dianggap memiliki legitimasi ilahi. Konsekuensi dari narasi ini adalah Iran tidak hanya dilihat sebagai lawan politik saja, tetapi juga sebagai “musuh” dalam konstruksi moral dan juga keagamaan.

Pemberian label pada Iran seperti “fanatik agama” maupun “ancaman religius” memperkuat persepsi bahwa tindakan terhadap Iran dapat dilakukan, bahkan seolah adalah hal yang perlu dilakukan.

Perlu dicermati bahwa narasi semacam ini tidak lahir netral. Narasi ini merupakan hasil konstruksi teori yang dibentuk dan direproduksi oleh aktor politik global. Situasi ini membuat Timur Tengah lebih sering hadir sebagai objek yang dinarasikan, bukan sebagai subjek yang memiliki ruang untuk mendefinisikan dirinya sendiri.

Dengan demikian, relasi kuasa tidak hanya terlihat melalui kekuatan militer atau ekonomi, tetapi juga melalui produksi pengetahuan dan narasi yang membentuk persepsi dunia mengenai Timur Tengah.

Relevansi Pemikiran Edward Said

Meskipun teori mengenai orientalisme Edward Said sudah dikembangkan lebih dari empat dekade lalu, relevansinya semakin terlihat dalam era globalisasi dan media digital saat ini.

Informasi kini menyebar lebih cepat dengan jangkauan yang lebih luas, terlebih penggunaan algoritma di media sosial yang memperkuat narasi.

Konflik yang terjadi di Timur Tengah, seperti di Iran dan Gaza, menunjukkan bahwa orientalisme bukan hanya sebatas teori politik, tetapi realitas yang dapat memengaruhi bagaimana dunia memahami suatu konflik. Bagaimana pemahaman tersebut dapat menentukan siapa yang dianggap korban dan siapa yang dianggap pelaku.

 

Penulis adalah Cahya Maysha Amara K, Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UI

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store