Stabilitas Negara Harus Dijaga, Generasi Muda Jangan Terjebak Narasi Makar

Jurnalis: Zulfikar Rasyid
Kabar Baru, Mataram – Dinamika politik nasional yang belakangan semakin memanas mendapat perhatian dari kalangan muda, salah satunya dari Ketua AMPG NTB, Herianto. Dalam wawancara mendalam yang dilakukan pada Sabtu (4/4), ia menyoroti pentingnya menjaga stabilitas negara di tengah perbedaan pandangan politik yang semakin terbuka di ruang publik.
Menurut Herianto, demokrasi Indonesia saat ini sedang berada dalam fase yang menuntut kedewasaan seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda. Ia menilai, perbedaan sikap politik adalah hal yang wajar, namun menjadi berbahaya ketika diarahkan pada upaya-upaya inkonstitusional.
“Kita tidak anti kritik, justru kritik itu penting dalam demokrasi. Tapi kita harus bisa membedakan antara kritik yang membangun dengan narasi yang berpotensi mendorong delegitimasi negara,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia memiliki pengalaman sejarah yang tidak ringan dalam menghadapi gejolak politik. Sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, perjalanan bangsa diwarnai dengan berbagai tantangan, termasuk konflik ideologi dan gerakan yang mencoba mengganti sistem secara paksa.
Herianto mencontohkan peristiwa seperti Gerakan 30 September sebagai refleksi penting bahwa instabilitas politik tidak hanya berdampak pada elite, tetapi juga menimbulkan trauma sosial yang panjang bagi masyarakat.
“Sejarah mengajarkan kita bahwa setiap upaya perebutan kekuasaan di luar konstitusi selalu berujung pada penderitaan rakyat. Ini yang tidak boleh terulang,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya pada tindakan nyata, tetapi juga pada perang narasi di ruang digital. Menurutnya, penyebaran informasi yang tidak utuh atau provokatif dapat membentuk opini publik yang keliru dan berpotensi memperkeruh keadaan.
“Hari ini, ancaman itu bisa datang dalam bentuk narasi. Opini yang dibangun secara sistematis bisa mempengaruhi cara berpikir masyarakat. Kalau tidak disaring dengan bijak, ini bisa menjadi pintu masuk bagi instabilitas,” ujarnya.
Sebagai kader muda dari Partai Golkar, Herianto menegaskan bahwa menjaga negara tidak selalu berarti membela kekuasaan secara membabi buta, melainkan menjaga sistem agar tetap berjalan sesuai konstitusi.
Ia juga menekankan bahwa dalam sistem demokrasi di Indonesia, mekanisme pergantian kepemimpinan telah diatur secara jelas melalui pemilu, hukum, dan konstitusi.
“Kalau ada ketidakpuasan terhadap pemerintah, salurkan melalui jalur yang benar. Demonstrasi boleh, kritik boleh, tapi jangan sampai mengarah pada upaya yang merusak tatanan negara,” jelasnya.
Herianto juga mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika politik, tetapi juga menjadi aktor yang menjaga keseimbangan demokrasi.
“Generasi muda harus jadi penyeimbang. Jangan mudah terprovokasi, jangan ikut arus tanpa memahami substansi. Kita harus jadi penjaga akal sehat publik,” ungkapnya.
Di akhir wawancara, ia menyampaikan pesan reflektif bahwa persatuan adalah fondasi utama keberlangsungan bangsa.
“Indonesia ini besar karena persatuannya. Kalau itu retak, maka semua akan terdampak. Jadi tugas kita hari ini bukan memperbesar perbedaan, tapi memperkuat titik temu,” tuturnya.
Dengan nada yang tenang namun tegas, Herianto menegaskan bahwa menjaga stabilitas nasional adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi seluruh elemen masyarakat.
“Berbeda itu pasti, tapi menjaga keutuhan bangsa adalah kewajiban. Di situlah kedewasaan demokrasi kita diuji,” tutupnya.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

