Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Komunikasi Lingkungan dan Edukasi Masyarakat Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

Picture1gjjjjfff
Pengelolaan sampah akibat dari komunikasi efektif dengan masyarakat (Sumber: Dokumentasi Lapangan).

Editor:

Kabar Baru, Opini – Pernah terpikir kalau persoalan sampah sebenarnya bukan hanya urusan petugas kebersihan atau pengurus RT? Faktanya, sampah rumah tangga adalah tanggung jawab kita semua. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap tugas mereka selesai begitu sampah dibuang ke Tempat Penampungan Sementara (TPS). Padahal, jika sampah tidak dipilah sejak dari rumah, proses daur ulang menjadi jauh lebih sulit dan volume sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) akan terus meningkat.

Kondisi inilah yang menjadi perhatian dalam penelitian yang dilakukan di Bintaro Permai RT/RW 002/010, Jakarta Selatan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan satu temuan penting: kunci keberhasilan pengelolaan sampah ternyata bukan hanya pada penyediaan fasilitas, melainkan pada komunikasi yang efektif dengan masyarakat.

Awalnya, sebagian besar warga masih belum memahami perbedaan antara sampah organik dan anorganik. Sampah rumah tangga umumnya langsung dibuang tanpa dipilah karena minimnya pengetahuan mengenai manfaat pemilahan. Namun, kondisi tersebut perlahan berubah setelah lingkungan setempat secara rutin mengadakan sosialisasi, pertemuan warga, kerja bakti bersama, serta berbagai kegiatan edukasi yang melibatkan pengurus RT dan masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, warga mulai memahami pentingnya prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Mereka tidak hanya diajak mengenal konsep tersebut secara teori, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah sejak dari rumah, hingga berpartisipasi dalam kegiatan bank sampah. Perubahan ini terjadi bukan semata karena adanya aturan, melainkan karena tumbuhnya kesadaran akan dampak sampah terhadap kesehatan dan lingkungan sekitar.

Menariknya, komunikasi yang diterapkan bukanlah komunikasi satu arah berupa ceramah atau penyampaian informasi semata. Pendekatan yang digunakan adalah komunikasi partisipatif, yaitu model komunikasi yang melibatkan warga secara aktif dalam setiap proses. Masyarakat diberi ruang untuk menyampaikan pendapat, memberikan masukan, ikut merancang program, hingga melakukan evaluasi bersama. Ketika masyarakat merasa dilibatkan, rasa memiliki terhadap program lingkungan pun tumbuh dengan sendirinya.

Hasilnya terlihat nyata. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), tingkat pengelolaan sampah di kawasan tersebut menunjukkan tren positif, yakni 95,61% pada 2023, meningkat menjadi 95,66% pada 2024, dan kembali naik menjadi 97,71% pada 2025. Penelitian juga menemukan bahwa warga yang lebih sering mengikuti sosialisasi dan diskusi memiliki tingkat partisipasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang memperoleh informasi.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan memang membangun pemahaman, tetapi komunikasi mampu mendorong perubahan perilaku. Menyediakan tempat sampah saja tidak cukup apabila masyarakat tidak memahami alasan mengapa sampah perlu dipilah. Sebaliknya, ketika masyarakat terus diajak berdialog, diberikan edukasi yang mudah dipahami, serta dilibatkan dalam setiap kegiatan, kepedulian terhadap lingkungan akan tumbuh secara alami.

Pada akhirnya, persoalan sampah bukanlah masalah yang dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Pemerintah, pengurus RT, dan masyarakat perlu membangun kolaborasi yang berkelanjutan. Komunikasi lingkungan harus terus diperkuat melalui berbagai media yang mudah diakses, kegiatan edukasi yang rutin, serta pendampingan yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Di sisi lain, warga juga perlu terus membiasakan diri memilah sampah dari rumah, memanfaatkan bank sampah, dan mendukung kegiatan daur ulang.

Pengalaman Bintaro Permai RT/RW 002/010 membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana. Lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan bukan sekadar cita-cita, melainkan sesuatu yang dapat diwujudkan ketika komunikasi berjalan dengan baik dan seluruh warga bergerak bersama. Karena pada akhirnya, menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal yang paling sederhana: mengobrol tentang sampah, lalu bertindak bersama.

Penulis : Muhammad Nazrul Farizi, Rangga Jastian Saputra, Fawwaz Ramadhani – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store