Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Mudahnya Tersinggung di Sosial Media: Emosi Dalam Dunia Daring

Kabarbaru.co
Penulis adalah Nabila, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Public Relation, Universitas Dian Nusantara.

Editor:

Kabar Baru, Opini – Dalam era digital yang semakin berkembang, sosial media telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Namun, di balik kemudahan dan konektivitas yang ditawarkan oleh sosial media, terdapat kompleksitas emosional yang dengan cepat muncul.

Mudahnya seseorang tersinggung adalah salah satu fenomena menarik yang berkembang di dunia internet. (Nukman et al., 2022) Setiap kali kita membuka aplikasi sosial media, kita tanpa disadari terlibat dalam konflik emosional yang ditulis secara digital.

Sosial media yang awalnya dirancang untuk memfasilitasi koneksifitas dan berbagi informasi, kini menjadi panggung di mana kepekaan emosional seringkali mencapai puncaknya. Fenomena mudah tersinggung inipun semakin marak.

Sosial Media telah menciptakan jembatan virtual yang menghubungkan orang dari berbagai macam lokasi. Namun, kebebasan berekspresi yang tinggi di dunia maya ini seringkali memicu kepekaan emosional yang lebih cepat dibandingkan dengan interaksi langsung.

Dalam hal ini, penting untuk memahami bahwa emosi tidak hanya terbatas pada kehidupan nyata saja. Sosial media membuka ruang baru di mana emosi dapat berkembang, bergerak dengan cepat dari satu akun ke akun lainnya.

Meskipun perasaan dapat beragam, satu hal yang menarik perhatian adalah betapa mudahnya seseorang tersinggung di internet.

Faktor penyebab mudahnya tersinggung yang paling sering di sosial media yaitu perbandingan karena sosial media sering menampilkan kehidupan yang diidealkan, menciptakan rasa ketidakpuasan dan keinginan untuk membandingkan diri dengan orang lain sehingga berdampak kecemburuan atau minder.

Ketidaksesuaian ekspektasi dengan realita juga dapat menjadi pemicu mudahnya hal tersebut.

Ketidakmampuan untuk membaca ekspresi non-verbal dan intonasi suara merupakan faktor utama penyebab mudahnya tersinggung di sosial media.

Kita dapat memahami nuansa bahasa tubuh dan ekspresi wajah saat berbicara secara langsung, yang membantu kita memahami konteks percakapan. Di dunia maya, bagaimanapun, kita hanya memiliki kata-kata tertulis tanpa ekspresi fisik yang dapat mengimbangi makna.

Kalimat sederhana dapat dengan mudah disalahartikan dan menyebabkan emosi yang tidak perlu.

Selain itu, anonimitas yang diberikan oleh platform sosial media seringkali memicu perilaku tidak bertanggung jawab.

Orang-orang sekarang dapat dengan bebas menyatakan pendapat mereka tanpa khawatir tentang akibatnya. (Thursina, 2023) Kondisi ini menciptakan lingkungan di mana pengguna dapat dengan bebas mengungkapkan kekesalannya.

Salah satu konsekuensi dari penggunaan sosial media sebagai media ekspresi tanpa sensor adalah kecenderungan untuk tersinggung.

Secara positif, sosial media memungkinkan pengguna untuk dengan cepat berbagi prestasi, kebahagiaan, dan keberhasilan mereka. Tetapi dampaknya tidak hanya menguntungkan.

Ketika seseorang terpapar dengan gaya hidup dan pencapaian yang tampaknya luar biasa dari orang lain, mereka dapat merasa tidak puas, kecemburuan, dan rendah diri. Perbandingan sosial ini seringkali menyebabkan emosi negatif, menyebabkan tekanan psikologis yang dapat mempengaruhi kesehatan pengguna.

Namun, ada pula dampak yang kemungkinan terjadi pada perilaku tersebut adalah Kesehatan mental yang terganggu karena terus menerus melihat konten yang menimbulkan emosi negatif dapat berkontribusi pada kesehatan mental seperti insecure berlebih dan depresi.

Hal tersebut dapat dikontrol dengan cara meningkatkan kesadaran akan reaksi emosional mereka dan mengembangkan pemahaman bahwa adanya pemahaman yang berbeda dari setiap orang, dan juga meningkatkan literasi digital dapat membantu perilaku online, serta edukasi mengenai keberagaman pandangan dapat merendahkan ketegangan.

Kesimpulannya adalah Emosi dalam dunia daring, terutama di sosial media yang mudah tersinggung, menjadi fenomena yang semakin jelas. Stimulus yang memicu reaksi emosional yang cepat dan intens seringkali mengganggu pengguna platform online.

Karena interaksi di sosial media sering dilakukan tanpa filter dan pertimbangan yang matang, menjadi lebih mudah untuk tersinggung.

Meskipun mudah berbicara di internet, mudah tersinggung menunjukkan betapa pentingnya mengelola emosi dan memahami satu sama lain untuk tetap harmonis dalam berinteraksi secara virtual.

Oleh karena itu, untuk dapat menciptakan lingkungan online yang lebih positif dan mendukung, literasi emosional dan pemahaman tentang efek kata-kata sangat penting.

DAFTAR PUSTAKA
Nukman, E. Y., Kurniasari, A. F., & Nurhidayah, H. (2022). Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX. In Jurnal Keperawatan Malang (Vol. 1, Issue 1).
Thursina, F. (2023). Pengaruh Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental Siswa Pada Salah Satu SMAN di Kota Bandung. Jurnal Psikologi Dan Konseling West …, 1(01), 19–30.

Ainiyah, N. (2018). Remaja millenial dan media sosial: media sosial sebagai media informasi pendidikan bagi remaja millenial. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 2(2), 221-236.

Fauziah, R. (2021). Literasi Digital Kekinian Agar Komunikasi Lebih Bermakna. Journal of Science and Social Research, 4(2), 218-226.

Purnama, S., & Sukarto, K. A. (2022). PENGGUNAAN BAHASA DI MEDIA SOSIAL DITINJAU DARI KESANTUNAN BERBAHASA. Pujangga: Jurnal Bahasa dan Sastra, 8(1), 71-88.

Penulis adalah Nabila, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Public Relation, Universitas Dian Nusantara.

Kabarbaru Network

https://beritabaru.co/

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store