Bermodal Ganti Jilbab, Begini Modus Licik Prihantini Tipu Ilmuwan Dunia di Denmark

Jurnalis: Abdul Hamid
Kabar Baru, Jakarta – Jagat maya kembali heboh dengan pembongkaran modus operasional Prihantini, oknum peneliti independen yang diduga kuat melakukan pemalsuan riset massal.
Bersama rekannya Rifaldy Fajar, Prihantini nekat mempresentasikan penelitian fiktif berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam konferensi ilmiah internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark.
Skandal memalukan ini mencuat ke publik setelah akun Threads dengan nama pengguna @mandharabrasika membeberkan trik licik sang peneliti.
Akun tersebut mengungkapkan bahwa Prihantini berkali-kali memalsukan identitasnya demi mengelabui para ahli pneumonia dunia yang menghadiri acara tersebut.
“Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya, pelaku berganti-ganti nama saat presentasi. Ia hanya bermodal ganti jilbab dan nametag,” tulis akun @mandharabrasika dalam unggahannya dan dikutip Jurnalis Kabarbaru di Jakarta, Jumat (05/06/2026).
Sajikan Data Palsu Hasil AI
Akun tersebut juga membongkar bahwa seluruh hasil riset yang Prihantini paparkan sama sekali tidak pernah ada di dunia nyata.
Oknum peneliti ini memanfaatkan teknologi AI generatif untuk merancang gambar, grafik, hingga narasi tulisan agar karya ilmiahnya terlihat sangat hebat dan meyakinkan.
“Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu hasil generate AI, begitu pula dengan gambar dan tulisannya,” tambah akun tersebut.
Kejanggalan lain yang sangat mencolok terlihat dari penentuan lokasi penelitian yang tersebar di berbagai belahan dunia.
Prihantini mengklaim telah melakukan riset di Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, dataran tinggi Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India Utara.
Para akademisi menilai lokasi-lokasi tersebut sangat tidak masuk akal. Terlebih, Prihantini tidak menyertakan kolaborator lokal maupun dokumen persetujuan etik (ethical clearance) yang resmi.
Selain itu, dua lembaga yang ia gunakan sebagai afiliasi, yakni Al-BioMedicine Research Group dan IMCDS-BioMed Research Foundation di Jakarta, terbukti fiktif dan tidak terdaftar.
Mantan Analis di LPDP
Berdasarkan data dari akun LinkedIn miliknya, Prihantini sebenarnya memiliki latar belakang akademik dan karier yang cukup mentereng.
Ia merupakan lulusan S1 program studi Matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkatan 2015.
Ia kemudian berhasil meraih beasiswa LPDP pada tahun 2020 untuk melanjutkan pendidikan Magister (S2) di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Sepanjang kariernya, Prihantini pernah mencicipi posisi mentereng di berbagai lembaga besar, antara lain: Asisten Riset di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (2018). Tim Konten RMPI di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2023. Analis di Direktorat Fasilitasi Riset Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) periode 2023–2024.
Sebelum kasus ini mengemuka, Prihantini mencantumkan profilnya sebagai peneliti independen pada lembaga The IMCD BioMed Research Foundation.
Sayangnya, reputasi yang ia bangun selama bertahun-tahun kini hancur akibat ambisi pribadi yang melanggar keras etika dunia sains internasional.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
