Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Mengapa Sebagian Mahasiswa Menganggap Keberhasilan dan Kegagalannya Ditentukan oleh Diri Sendiri?

WhatsApp Image 2026-06-12 at 14.38.21
Ilustrasi mahasiswa yang bersosialisasi (Sumber: Pinterest).

Editor:

Kabar Baru, Opini – Nilai UAS keluar, dan Amay langsung merasa lega. “Ini karena aku rajin belajar sebulan penuh,” katanya dalam hati. Tapi dua minggu kemudian, ia gagal lolos seleksi beasiswa. Reaksinya? Sama saja, ia menyalahkan dirinya sendiri, merasa kurang pintar, kurang layak. Aneh? Tidak juga. Banyak mahasiswa berpikir seperti ini, dan ada penjelasan psikologis di baliknya.

Di lingkungan kampus, pola pikir seperti ini cukup umum ditemui. Saat IPK naik, seorang mahasiswa bisa dengan bangga berkata bahwa semua itu hasil kerja kerasnya selama satu semester. Tapi begitu nilai merosot atau gagal masuk organisasi impian, ia pun tak segan memukul diri sendiri, merasa usahanya kurang, kemampuannya tidak cukup, atau dirinya memang tidak sepintar orang lain. Keberhasilan dan kegagalan sama-sama ditaruh di pundak sendiri.

Psikolog Fritz Heider punya penjelasan menarik untuk kasus ini. Menurutnya, manusia memang pada dasarnya makhluk yang suka mencari “kenapa”. Kita tidak hanya mengalami sesuatu, kita juga terus-menerus bertanya apa yang menyebabkan ini semua terjadi? Proses mencari jawaban atas pertanyaan itulah yang dalam psikologi disebut atribusi.

Heider membagi sumber penyebab menjadi dua: dari dalam diri sendiri (internal) atau dari luar diri (eksternal). Faktor internal mencakup kemampuan, usaha, motivasi, dan kepribadian. Sedangkan faktor eksternal lebih ke arah keberuntungan, kondisi lingkungan, kesempatan yang datang, atau situasi yang memang di luar kendali kita.

Ketika seseorang cenderung menganggap bahwa suatu hasil, baik itu sukses maupun gagal, ditentukan oleh dirinya sendiri, itulah yang disebut atribusi internal. Dalam konteks kehidupan mahasiswa, ini terlihat jelas saat nilai bagus dianggap buah dari kerja keras, sementara nilai jelek dianggap bukti kurangnya kemampuan. Diri sendirilah yang selalu jadi pusat cerita.

Cara berpikir seperti ini sebetulnya punya sisi positif. Weiner (psikolog sosial amerika) menemukan bahwa orang yang mengaitkan keberhasilannya dengan usaha dan bukan sekadar keberuntungan, cenderung lebih termotivasi dan tangguh menghadapi tantangan berikutnya. Dalam kehidupan kampus, ini terlihat nyata, mahasiswa yang percaya usahanya menentukan IPK akan lebih disiplin belajar, aktif memperbaiki diri, dan punya rasa tanggung jawab yang kuat. Kalau lulus cum laude terasa seperti hasil perjuangan sendiri, motivasi itu bisa jadi bahan bakar yang terus menyala.

Tapi ada sisi gelapnya juga. Ketika atribusi internal terlalu dominan, orang bisa terjebak menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang sebetulnya tidak sepenuhnya ada dalam kendalinya. Gagal sedikit langsung menyimpulkan, “aku memang tidak cukup baik.” Dua psikolog lainnya, Dale T. Miller dan Michael Ross, menyebut ini sebagai bias atribusi, yakni kecenderungan menilai penyebab keberhasilan dan kegagalan secara tidak objektif, terutama saat sedang kecewa. Singkatnya, kita tidak selalu berpikir jernih soal kenapa sesuatu terjadi ketika emosi sedang tinggi.

Bayangkan seorang mahasiswa yang tidak lolos seleksi beasiswa. Ia langsung berpikir dirinya kalah pintar dari peserta lain. Padahal, realitanya seleksi beasiswa bisa dipengaruhi banyak hal di luar kompetensi, seperti kuota yang terbatas, jumlah pendaftar yang membludak, kriteria program yang sangat spesifik, atau pertimbangan administratif yang bahkan tidak terlihat oleh peserta. Kegagalan di sini tidak otomatis berarti dirinya tidak layak.

Hal serupa juga berlaku untuk berbagai pengalaman lain di kampus. Tidak lolos jadi asisten laboratorium, ditolak saat mendaftar organisasi, atau gagal ikut program pertukaran pelajar, semua itu jarang sekali hanya soal satu faktor. Kemampuan dan usaha memang tetap penting, tapi situasi di sekitar kita juga ikut bermain.

Itulah mengapa memahami cara kita menjelaskan sebuah kejadian itu penting. Kalau keberhasilan kita maknai sebagai buah usaha, kita cenderung ingin terus mempertahankan kebiasaan baik itu. Tapi kalau kegagalan bisa kita lihat lebih jernih, bukan sekadar “aku yang salah”, kita bisa mengevaluasi diri tanpa harus menghukum diri terlalu keras.

Psikolog Heider, Weiner, Miller, dan Ross sama-sama menunjuk pada satu hal yang sering kita lupakan: manusia bukan sekadar makhluk yang mengalami, kita juga makhluk yang terus-menerus menafsirkan. Dan tafsiran itu tidak selalu akurat, apalagi saat kita sedang tertekan. Merasa bertanggung jawab atas hidup sendiri itu bagus, tapi perlu diimbangi dengan kesadaran bahwa tidak semua hal ada dalam kendali kita, dan bahwa gagal bukan selalu berarti tidak layak. Dengan keseimbangan itu, setiap pencapaian bisa selalu disyukuri dengan wajar, dan setiap kegagalan bisa dijadikan pelajaran tanpa harus berujung pada rasa tidak berharga.

Penulis:
1. Ahmad faiz
2. Livia Rahma Handini
3. Rahmayani Puspitasari
4. Rosinatul Inayah
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store