Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Dilema SKS: Mengapa Kita Lebih Kreatif saat Terdesak?

Picture1fddddd
Suasana belajar malam hari dengan laptop, buku, dan catatan yang mendukung aktivitas akademik serta penyelesaian tugas, Sumber: Dokumen Pribadi.

Editor:

Kabar Baru, Opini – Pernahkah kamu masih terbangun jam dua dini hari, padahal beberapa jam lagi ada tugas atau ujian yang menanti di depan mata? Kalau pernah, berarti kamu masuk bagian dari kelompok “Sistem Kebut Semalam” alias SKS. Kebiasaan yang penuh tekanan ini sudah jadi semacam tradisi turun-temurun yang sulit dipisahkan dari kehidupan mahasiswa, lintas generasi dan jurusan. Hampir semua mahasiswa pasti pernah merasakan sensasi memacu denyut jantung demi menyelamatkan nilai akademis di detik-detik terakhir.

Menariknya, di tengah-tengah rasa panik yang hebat dan kantuk yang menyerang, entah mengapa otak kita justru sering kali mendadak encer. Otak yang biasanya mentok buat mikir, dalam hitungan jam malah banjir ide yang tiba-tiba mengalir deras begitu saja. Kita mendadak mampu merangkai kalimat dengan cepat dan memahami rumus-rumus sulit yang sebelumnya tampak membingungkan. Fenomena yang sering disebut sebagai “the power of kepepet” ini memicu sebuah pertanyaan besar: mengapa kita justru bisa menjadi jauh lebih kreatif dan produktif saat berada di bawah tekanan waktu yang sangat terdesak?

Secara ilmiah, fenomena mendadak cerdas ini bukanlah sebuah keajaiban atau sulap belaka. Saat waktu pengerjaan semakin mepet, otak kita secara otomatis akan membaca situasi tersebut sebagai sebuah ancaman nyata atau kondisi darurat. Sebagai respons, tubuh langsung memompa hormon adrenalin dan kortisol ke aliran darah dalam jumlah banyak. Lonjakan hormon stres ini memicu kita masuk ke mode bertahan hidup yang membuat tingkat fokus kita meningkat tajam secara instan (hyper-focus).

Segala macam gangguan luar, seperti keinginan untuk membuka media sosial, menonton video hiburan, atau membalas pesan obrolan, mendadak hilang dari radar perhatian. Kondisi psikologis inilah yang memaksa otak bekerja rodi tanpa henti guna mengeluarkan ide-ide kreatif demi menyelamatkan kita dari ancaman nilai buruk.

Namun, jangan buru-buru bangga dengan kreativitas yang mendadak muncul gara-gara hasil dari tekanan waktu ini. Di balik keajaiban otak yang mendadak encer tersebut, ada harga sangat mahal yang harus dibayar oleh organ tubuh kita. Kebiasaan SKS ini memaksa kita untuk begadang semalaman, yang berujung pada kondisi kurang tidur akut (sleep deprivation).

Padahal, menurut berbagai penelitian medis, saat tidur malam itulah otak kita melakukan proses penting berupa pembersihan racun-racun sisa metabolisme dan penguatan memori jangka panjang. Kalau kita memaksa otak untuk kerja terus-menerus tanpa istirahat yang cukup, keesokan harinya saat lembar ujian dibagikan, kita justru rentan mengalami kondisi hilang fokus (blank), konsentrasi menurun drastis, serta tubuh menjadi lemas tak bertenaga. Ide kreatif semalam suntuk itu bisa langsung hilang begitu saja karena tubuh kehabisan energi.

Tidak hanya merusak performa kognitif sesaat, kebiasaan memicu hormon stres secara paksa lewat SKS juga bisa berdampak sangat buruk bagi kesehatan fisik jangka panjang. Lonjakan hormon kortisol yang terjadi terlalu sering dapat mengacaukan sistem pencernaan manusia secara sistematis. Hal ini memicu naiknya asam lambung secara agresif, membuat perut perih, hingga menurunkan sistem imun tubuh secara keseluruhan yang membuat kita menjadi gampang terserang penyakit dan infeksi.

Belum lagi dari sisi psikologis, tekanan mental berupa rasa cemas berlebih (anxiety) dan rasa bersalah karena selalu terburu-buru akan terus membayangi setiap kali mendekati tenggat waktu tugas berikutnya. Jadi, kreativitas yang muncul akibat kepepet ini sebenarnya tak lebih dari sekadar ilusi optik yang perlahan-lahan menggerogoti tubuh kita dari dalam.

Pada akhirnya, kreativitas yang muncul saat terdesak memang nyata adanya, tetapi itu adalah kode keras bahwa otak dan tubuh kita sedang dipaksa bekerja melampaui batas normalnya. Mengandalkan metode SKS sebagai strategi belajar utama sama saja dengan menabung bom waktu bagi kesehatan fisik dan mental kita sendiri di masa depan. Menunda-nunda pekerjaan mungkin terasa seperti pelarian yang menyenangkan dan memberi rasa lega sejenak. Tapi, coba dipikir lagi harga yang harus kita bayar di akhir perjalanan perkuliahan jauh lebih berat daripada yang kita bayangkan.

Oleh karena itu, mulailah mengubah kebiasaan buruk ini dari sekarang secara perlahan dengan mencicil tugas atau materi ujian sedikit demi sedikit sejak jauh-jauh hari. Karena manajemen waktu yang baik dan terstruktur sama sekali tidak akan membuat kreativitasmu hilang. Sebaliknya, perencanaan yang matang justru akan membuat kamu bisa berpikir jauh lebih jernih, mendalam, dan komprehensif tanpa harus mengorbankan waktu tidur malam kamu yang sangat berharga.

Jadi, mari kita berhenti menjadi pejuang SKS mulai dari sekarang, karena nilai akademis yang bagus tidak akan pernah ada artinya jika tubuh kita sendiri yang berakhir tumbang dan jatuh sakit. Ingat, kesehatan tetap nomor satu. Jadi, ayo jalani semuanya dengan lebih terencana, supaya hasilnya juga bisa maksimal dan tubuh kita tetap fit!

Penulis: Mahirah Khairunnisa Kusuma, Mahasiswa – Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pamulang (UNPAM)

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store