Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Kita Terlalu Sibuk Membicarakan Sampah, tetapi Lupa Mengubah Kebiasaan

kesadaran membuang sampah
Ilustrasi gambar kesadaran membuang sampah pada tempatnya (Sumber: Canva).

Jurnalis:

Masalah sampah bukan hal baru. Hampir setiap tahun ada sosialisasi, kampanye lingkungan, pembagian poster, hingga kegiatan bersih-bersih.

Kita sudah sering mendengar ajakan untuk membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah dari rumah.

Namun, ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab: setelah semua kegiatan itu selesai, apakah kebiasaan kita ikut berubah?

Coba lihat kehidupan sehari-hari. Di rumah, sisa makanan masih sering bercampur dengan botol plastik dan bungkus makanan.

Tempat sampah terpisah mungkin tersedia di beberapa tempat, tetapi isinya belum tentu sesuai dengan tulisan di bagian depannya.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional tahun 2025 juga menunjukkan persoalan sampah masih jauh dari selesai.

Dari data daerah yang telah masuk ke sistem, porsi sampah yang belum terkelola masih lebih besar dibandingkan sampah yang terkelola.

Angka tersebut seharusnya membuat kita berpikir. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk membuat masyarakat tahu, tetapi belum cukup membantu mereka untuk terbiasa.

Edukasi Sampah Jangan Berhenti di Ruang Pertemuan

Sosialisasi tentu penting. Namun, edukasi sampah akan sulit memberi dampak jika hanya berisi penjelasan panjang. Masyarakat datang, mendengarkan, mengisi daftar hadir, lalu foto bersama. Setelah itu, semua kembali pada kebiasaan masing-masing.

Masalahnya, mengubah kebiasaan tidak sesederhana memberikan informasi.

Orang mungkin sudah tahu bahwa kulit buah dan botol plastik adalah dua jenis sampah berbeda. Namun, ketika di rumah hanya tersedia satu tempat sampah, semuanya tetap masuk ke kantong yang sama.

Karena itu, edukasi sampah perlu lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Daripada hanya menjelaskan jenis sampah melalui materi, mengapa tidak langsung mengajak warga memilah sampah yang biasa mereka hasilkan di rumah? Sisa nasi, kulit buah, botol minuman, kardus, dan bungkus makanan bisa menjadi bahan belajar yang jauh lebih nyata.

Pemilahan sejak sumber memang menjadi bagian penting dalam pengelolaan sampah. Regulasi lingkungan juga menekankan pemahaman terhadap sumber dan jenis sampah agar proses pemilahan dapat dilakukan dengan tepat.

Berani Mengukur Perubahan, Bukan Sekadar Kehadiran

Keberhasilan kegiatan seharusnya tidak berhenti pada jumlah peserta atau banyaknya dokumentasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah warga kembali ke rumah.

Apakah mereka mulai memilah sampah? Apakah kebiasaan itu bertahan selama beberapa minggu? Apa kesulitan yang mereka alami?

Jika jawabannya belum berubah, tidak perlu buru-buru menyalahkan masyarakat. Bisa jadi cara edukasi yang dilakukan memang belum cukup dekat dengan kenyataan mereka.

Kita membutuhkan edukasi yang sederhana, berulang, dan disertai tindak lanjut. Sebab, perubahan tidak selalu lahir dari seminar besar.

Kadang perubahan justru dimulai dari satu rumah yang menyediakan dua tempat sampah dan benar-benar menggunakannya setiap hari.

Sudah saatnya kita berhenti merasa puas hanya karena kegiatan edukasi selesai dilaksanakan. Masalah sampah tidak membutuhkan lebih banyak foto bersama.

Yang dibutuhkan adalah kebiasaan baru yang tetap dilakukan ketika spanduk sudah diturunkan dan semua orang kembali ke rumah.

Penulis: Adinda Safitri – Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store