Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Saya Tetap Mencintai Himpunan Mahasiswa Islam

IMG-20260705-WA0009
Muhammad Zidan Ramdani / Kader HMI Komfakda Cabang Ciputat. (Foto: Dok/Ist) .

Editor:

Kabar Baru, Opini – Mencintai bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Justru cinta yang paling tulus adalah keberanian untuk mengoreksi, merawat, dan memperjuangkan sesuatu agar tetap hidup sesuai dengan cita-cita awalnya. Itulah alasan mengapa saya tetap mencintai Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di tengah berbagai kritik, dinamika internal, hingga menurunnya kualitas kaderisasi yang sering menjadi perbincangan, saya memilih untuk tetap percaya bahwa HMI masih memiliki harapan besar untuk kembali menjadi organisasi perjuangan yang melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa.

Sejak berdiri pada tanggal 5 Februari 1947 oleh Lafran Pane, HMI lahir bukan sekadar menjadi organisasi mahasiswa biasa. Organisasi ini didirikan dengan dua tujuan besar, yaitu mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta mengembangkan ajaran Islam. Dua tujuan tersebut menjadikan HMI sebagai organisasi yang tidak hanya berbicara tentang kepentingan mahasiswa, tetapi juga tentang tanggung jawab kebangsaan dan keislaman. Dari rahim HMI lahir banyak tokoh nasional yang mengisi ruang-ruang strategis bangsa, membuktikan bahwa kaderisasi pernah menjadi kekuatan utama organisasi ini.

Namun, kita tidak dapat menutup mata bahwa HMI hari ini sedang menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa-masa sebelumnya. Perubahan sosial yang begitu cepat, perkembangan teknologi digital, budaya instan, hingga menurunnya minat membaca di kalangan mahasiswa telah memengaruhi karakter kader. Di sisi lain, organisasi juga mengalami degradasi yang tidak bisa dianggap sepele. Banyak kader yang hadir hanya untuk mendapatkan identitas sebagai aktivis, tetapi tidak sungguh-sungguh menjalani proses intelektual dan pengabdian. Kaderisasi sering kali hanya dipandang sebagai formalitas untuk memperoleh sertifikat atau jabatan, bukan sebagai proses pembentukan karakter dan kepemimpinan.

Fenomena tersebut terlihat dari semakin sedikitnya ruang diskusi yang hidup di tingkat komisariat. Tradisi membaca, menulis, dan berdialektika mulai tergeser oleh budaya serba cepat yang mengutamakan popularitas dibandingkan kualitas gagasan. Tidak sedikit kader yang lebih sibuk membangun citra di media sosial daripada membangun kapasitas diri melalui kajian ilmiah. Akibatnya, organisasi kehilangan ruh intelektual yang selama ini menjadi ciri khas HMI.

Di sisi lain, pragmatisme politik juga menjadi tantangan serius. Politik sejatinya merupakan bagian dari perjuangan mahasiswa, tetapi politik yang kehilangan nilai akan melahirkan orientasi kekuasaan semata. Tidak sedikit kader yang terlalu dini terjebak dalam kompetisi jabatan tanpa memiliki fondasi keilmuan dan moral yang kuat. Organisasi kemudian lebih sering disibukkan oleh konflik internal dibandingkan dengan menghadirkan solusi atas persoalan bangsa. Energi yang seharusnya digunakan untuk memberdayakan masyarakat justru habis dalam pertarungan kepentingan yang tidak produktif.

Tantangan lain yang tidak kalah besar adalah menurunnya semangat pengabdian. Sebagian kader mulai memandang organisasi sebagai batu loncatan menuju kepentingan pribadi. Padahal, HMI dibangun atas semangat pengorbanan, bukan transaksi kepentingan. Nilai keikhlasan yang dahulu menjadi napas perjuangan perlahan tergantikan oleh perhitungan untung-rugi. Jika kondisi ini terus dibiarkan, organisasi akan kehilangan identitasnya sebagai gerakan moral dan intelektual.

Selain tantangan internal, HMI juga berhadapan dengan tantangan eksternal yang semakin berat. Krisis demokrasi, meningkatnya kesenjangan sosial, persoalan pengangguran intelektual, kerusakan lingkungan, hingga derasnya arus disinformasi menuntut organisasi mahasiswa untuk tampil lebih relevan. Sayangnya, dalam banyak momentum, suara mahasiswa justru terdengar semakin redup. Kritik terhadap kebijakan publik tidak lagi sekuat dulu, sementara kemampuan menawarkan solusi berbasis riset juga masih perlu diperkuat. HMI harus menyadari bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan organisasi yang pandai mengkritik, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan yang inovatif, berkelanjutan, dan dapat diimplementasikan.

Di era digital, tantangan kaderisasi juga mengalami perubahan yang signifikan. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik, tetapi kedalaman berpikir justru semakin langka. Kader HMI harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana membangun literasi, memperluas jejaring, dan menyebarkan gagasan, bukan sekadar ruang untuk menunjukkan eksistensi. Organisasi harus bertransformasi dengan menghadirkan metode kaderisasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar perjuangan. Nilai Keislaman, Keindonesiaan, dan Keilmuan harus tetap menjadi fondasi utama dalam setiap proses pembinaan kader.

Meski demikian, saya tetap optimis terhadap masa depan HMI. Organisasi ini telah melewati berbagai ujian sejarah, mulai dari pergolakan politik, perubahan rezim, hingga dinamika internal yang tidak pernah sederhana. HMI selalu mampu bangkit karena memiliki kader-kader yang mencintai organisasi ini dengan ketulusan. Kebangkitan HMI tidak akan lahir dari romantisme masa lalu, melainkan dari keberanian melakukan evaluasi secara jujur. Organisasi harus kembali menghidupkan tradisi intelektual, memperkuat sistem kaderisasi, membangun budaya kritik yang sehat, dan mengembalikan orientasi perjuangan kepada kepentingan umat dan bangsa.

Saya percaya bahwa kualitas sebuah organisasi tidak ditentukan oleh banyaknya kader yang dimiliki, melainkan oleh seberapa besar dampak yang mampu dihadirkan bagi masyarakat. Karena itu, HMI harus kembali menjadi rumah bagi mahasiswa yang ingin belajar, berpikir kritis, mengabdi, dan memperjuangkan keadilan. Organisasi ini harus melahirkan kader yang bukan hanya piawai berbicara di mimbar, tetapi juga mampu bekerja di tengah masyarakat, memberikan solusi atas persoalan nyata, dan menjaga integritas dalam setiap langkah pengabdiannya.

Saya tetap mencintai HMI, bukan karena organisasi ini sempurna, melainkan karena saya percaya bahwa setiap kekurangan masih dapat diperbaiki selama masih ada kader yang bersedia berjuang. Mencintai HMI berarti menjaga marwah perjuangan, merawat tradisi intelektual, dan memastikan bahwa cita-cita besar para pendiri tidak berhenti menjadi slogan. Sebab HMI bukan sekadar tempat berhimpun, melainkan sekolah kepemimpinan, laboratorium pemikiran, dan ruang pengabdian yang harus terus melahirkan insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai Allah Swt. Selama semangat itu masih hidup di dalam hati para kader, saya yakin HMI akan tetap berdiri tegak menghadapi zaman, menjadi cahaya bagi mahasiswa, dan tetap relevan sebagai gerakan intelektual, keislaman, serta kebangsaan.

 

*) Penulis adalah Muhammad Zidan Ramdani / Kader HMI Komfakda Cabang Ciputat. 

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store