Aflah Haora Soroti Tantangan & Potensi Besar Budidaya Udang Vaname Banten

Jurnalis: Azzahra Bahiyyah
Kabar Baru, Serang – Komoditas perikanan budidaya, khususnya udang vaname (Litopenaeus vannamei), menempati posisi krusial dalam peta jalan perekonomian nasional. Sejalan dengan program strategis yang diinisiasi sejak era Presiden Joko Widodo dan terus dikembangkan hingga saat ini, Indonesia tengah memacu diri untuk menjadi salah satu produsen sekaligus eksportir udang vaname terbesar di dunia dengan target nilai ekspor mencapai 4,25 miliar dolar AS.
Geliat investasi di sektor pangan strategis ini menarik perhatian pelaku usaha muda, Aflah Haora. Ia menyoroti bagaimana dinamika pasar global dan kebijakan makro pemerintah bertransformasi menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi para pengelola tambak di tingkat lokal, khususnya di wilayah pesisir Provinsi Banten, Kamis (2/7/2026).
Menurut Aflah, lanskap budidaya udang vaname di Banten saat ini sedang mengalami migrasi besar-besaran, dari metode tradisional menuju teknologi intensif yang padat modal dengan produktivitas tinggi. Namun, nilai ekonomi yang besar ini menuntut proses perawatan yang ekstra hati-hati.
“Udang vaname sekarang sudah bertransformasi menjadi industri padat modal dengan produktivitas tinggi menggunakan teknologi modern. Karena nilainya yang besar, perawatannya pun harus ekstra hati-hati. Tantangan terbesar di hulu adalah bagaimana menjaga konsistensi pengelolaan air di tengah masifnya interaksi dengan kawasan industri lain,” ujar Aflah Haora saat membagikan pandangannya mengenai industri perikanan darat di Banten.
Selain faktor lingkungan, Aflah juga menggarisbawahi dua tantangan non-teknis yang krusial di lapangan, yaitu kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten serta isu sosial regulasi terkait tata ruang dan gesekan dengan pengelola tanah adat dalam perluasan lahan tambak pesisir.
“Mencari SDM lokal yang kompeten dan benar-benar memahami teknologi budidaya modern serta protokol biosekuriti udang itu sangat sulit saat ini. Padahal, masa depan industri ini bergantung pada integrasi rantai pasok (supply chain) yang solid dan kesiapan teknologi,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa keterbukaan terhadap kemitraan strategis multilateral menjadi kunci agar keberlanjutan ekosistem tambak tetap terjaga.
“Kemitraan strategis antara pelaku usaha, otoritas pemerintah, hingga masyarakat adat mutlak diperlukan agar investasi besar di sektor perikanan darat ini bisa berjalan optimal tanpa konflik,” tegas Aflah.
Langkah Aflah dalam memetakan tantangan hulu ini pun mendapat apresiasi dari pihak pengusaha tambak udang senior di Banten. Kehadiran generasi muda seperti Aflah Haora dinilai menjadi angin segar untuk mempercepat adopsi teknologi, sekaligus membuka jaringan langsung dengan pabrik pengolahan (cold storage) dan supplier besar agar pasokan udang dari tambak lokal selalu terserap habis dengan harga yang stabil, terutama saat memasuki musim panen raya.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
