Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Kontroversi Lagu Om Zein: Refleksi Pribadi atau Melukai Perasaan Publik?

file_000000005fe072089e48cf27d6be19a6
Bupati Purwakarta memberi klarifikasi, pengamat menyoroti tanggung jawab moral pemimpin.

Jurnalis:

Kabar Baru, Purwakarta – Polemik lagu berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat karya Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein, terus menjadi perhatian publik. Lirik lagu tersebut menuai beragam tanggapan, mulai dari apresiasi sebagai karya seni hingga kritik yang menilai isinya berpotensi menimbulkan tafsir yang merendahkan perempuan.

Perdebatan mengenai lagu tersebut berkembang luas di ruang publik dan media sosial. Sejumlah kalangan, khususnya pegiat pemberdayaan perempuan, menilai pilihan diksi dalam lirik lagu berpotensi melahirkan persepsi yang bias terhadap perempuan.

Kritik juga datang dari yang membidangi urusan agama, sosial, dan pemberdayaan perempuan. Ia menjadi salah satu tokoh yang menyoroti munculnya polemik atas karya tersebut.

Menanggapi berbagai kritik yang berkembang, Om Zein menegaskan bahwa lagu itu sama sekali tidak dibuat untuk menyudutkan ataupun merendahkan perempuan maupun kelompok tertentu.

“Saya tegaskan lagu tersebut sama sekali tidak dibuat untuk menyudutkan atau merendahkan pihak tertentu,” ujar Om Zein saat dihubungi wartawan melalui sambungan telepon, Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, lagu tersebut merupakan refleksi perjalanan hidup sekaligus bentuk kejujuran dalam mengungkapkan pengalaman pribadinya di masa lalu.

“Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal. Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya menjadi laki-laki. Mungkin kalau saya diciptakan menjadi perempuan, bisa saja terjadi apa yang saya pikirkan karena saat itu saya merasa belum bisa menjaga diri,” tuturnya.

Om Zein mengaku memahami adanya pihak yang merasa kurang nyaman terhadap isi lagu tersebut. Karena itu, ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang merasa tersinggung.

“Saya mohon maaf apabila ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun, tidak ada niat sedikit pun untuk menyinggung atau merendahkan pihak tertentu. Lagu itu murni bercerita tentang perjalanan hidup saya sendiri,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa karya tersebut sebenarnya telah ditulis dalam bentuk puisi sejak 2020, jauh sebelum dirinya menjabat sebagai Bupati Purwakarta. Puisi tersebut kemudian diaransemen menjadi lagu dan dipublikasikan pada 2026.

“Itu puisi dan lagu yang saya ciptakan pada tahun 2020. Isinya menceritakan perjalanan dan perenungan tentang diri saya sendiri,” ujarnya.

Pengamat: Seni Sah, tetapi Pemimpin Harus Memperhatikan Pesan Publik

Terpisah, pengamat kebijakan publik dari STAI Dr. KH. EZ Muttaqien Purwakarta, Srie Muldrianto, yang dikenal dengan nama pena Asep Purwa, menilai polemik tersebut dapat dipahami dari dua perspektif, yakni sebagai strategi komunikasi politik dan sebagai sikap seorang kepala daerah.

Menurutnya, penggunaan karya seni sebagai media komunikasi politik merupakan hal yang lazim dilakukan seorang politisi untuk membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.

“Politisi pada dasarnya menjual dirinya kepada publik. Bisa jadi tujuannya untuk membangun citra atau meningkatkan popularitas. Pendekatan melalui seni memang lebih mudah diterima masyarakat karena bersifat menghibur,” ujarnya.

Namun demikian, ia menilai persoalan utama bukan terletak pada media yang digunakan, melainkan pada substansi pesan yang disampaikan melalui karya tersebut.

Menurut Asep Purwa, seorang kepala daerah memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan setiap pernyataan maupun karya yang dipublikasikan mencerminkan nilai-nilai edukatif serta mampu menjadi teladan bagi masyarakat.

“Yang menjadi persoalan adalah isi karya seni itu. Menurut saya, tidak layak dipublikasikan. Kalau itu memang pengalaman pribadinya, secara moral juga kurang pantas disampaikan oleh seorang bupati yang seharusnya menjadi teladan bagi masyarakat, terutama generasi muda,” katanya.

Ia juga menyoroti keputusan Om Zein mengubah puisi yang ditulis pada 2020 menjadi lagu dan mempublikasikannya pada 2026. Menurutnya, langkah tersebut lebih mencerminkan strategi komunikasi politik dibandingkan fungsi utama seorang kepala daerah.

Asep Purwa berpendapat bahwa kepala daerah seharusnya lebih mengedepankan penyampaian capaian pembangunan, program kerja, serta arah kebijakan pemerintah kepada masyarakat.

“Kalau dilihat sebagai politisi mungkin ada motif membangun popularitas. Namun kalau dilihat sebagai kepala pemerintahan, seharusnya fokusnya adalah membangun daerah, menggerakkan birokrasi, dan menjelaskan program-program pemerintah kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa setiap pemimpin memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan pendidikan moral melalui sikap, ucapan, maupun karya yang dipublikasikan kepada masyarakat.

“Fungsi pemimpin bukan hanya menggerakkan pemerintahan, tetapi juga mendidik. Pertanyaannya, apakah lagu ini layak menjadi referensi bagi masyarakat, khususnya anak-anak? Isinya mudah dipahami dan berpotensi ditiru, meskipun tafsir setiap orang tentu bisa berbeda,” tuturnya.

Menanggapi adanya laporan sejumlah pihak kepada Komnas Perempuan, Asep Purwa enggan mengomentari proses yang sedang berjalan. Ia berharap polemik tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bersama mengenai pentingnya tanggung jawab moral seorang pejabat publik dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat.

“Yang paling penting adalah melihat apakah tindakan itu mencerminkan keadilan, pendidikan, dan tanggung jawab seorang pemimpin. Kalau hanya untuk kepentingan politik, sebaiknya dihentikan,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Asep Purwa berharap ruang publik di Purwakarta lebih banyak diisi dengan diskursus mengenai pembangunan daerah, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta inovasi pelayanan publik daripada kontroversi yang berorientasi pada pencitraan.

“Kalau ingin dikenal masyarakat, seharusnya yang ditonjolkan adalah hasil kerja, gagasan, dan rencana pembangunan. Seni memang dapat meningkatkan popularitas seseorang, tetapi dampak sosial dari sebuah karya juga harus menjadi pertimbangan. Pada akhirnya, masyarakat akan menilai kualitas moral seorang pemimpin dari setiap karya dan tindakan yang ditampilkannya,” pungkasnya.***

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store