Whitney Wanma Ajak Publik Pahami Persoalan Tanah Adat Papua

Jurnalis: Latief
Kabar Baru, Jakarta – Putri Daerah Papua Barat Daya sekaligus Miss Intelegensia Indonesia 2024, Whitney Lutricia Kezia Wanma, menilai film dokumenter Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita membuka wawasan masyarakat mengenai berbagai persoalan yang terjadi di Papua, khususnya yang selama ini belum banyak diketahui publik di luar Tanah Papua.
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi bertema “Pertobatan Ekologis di Tengah Ruang Hidup Masyarakat Adat” yang digelar kolaborasi Komunitas Mantra Timur, KEP XV, dan OMK Paroki Kramat di Ruang Anthiokia, Gedung Antonius Lantai 3, Gereja Hati Kudus Paroki Kramat, Jakarta, Minggu (7/6/2026).
Whitney yang merupakan perempuan asli Raja Ampat mengaku film dokumenter tersebut memberikan gambaran mengenai berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Papua, termasuk dampak berbagai proyek yang berlangsung di wilayah adat.
“Saya jadi mengetahui apa yang benar-benar terjadi di daerah kami. Banyak hal yang sebelumnya tidak diketahui masyarakat di luar sana, terutama di pusat,” ujarnya.
Menurut Whitney, masyarakat perlu memahami persoalan yang terjadi di Papua secara utuh agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menyikapi berbagai isu yang berkembang.
Ia menegaskan bahwa masyarakat adat Papua bukan menolak kemajuan pembangunan, melainkan memperjuangkan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat adat atas tanah dan ruang hidup mereka.
“Tidak ada kesalahpahaman atau miskomunikasi untuk kita semua. Segala sesuatu harus dicari tahu terlebih dahulu sebelum bersikap. Supaya kita tahu bahwa yang dipermasalahkan di Papua adalah tanah adat masyarakat, bukan menolak kemajuan,” katanya.
Whitney menambahkan, masyarakat Papua juga menginginkan pembangunan dan kemajuan yang setara dengan daerah lain di Indonesia. Namun, menurutnya, pembangunan tersebut harus tetap menghormati hak-hak masyarakat adat yang telah hidup dan menjaga wilayahnya secara turun-temurun.
“Kita juga mau maju. Kita ingin sama seperti saudara-saudara kita yang ada di kota. Tetapi hak masyarakat adat dan tanah adat harus tetap dihormati,” pungkasnya.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
