Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Inovasi Pengolahan VCO Hadir pada Pameran PENAS 2026

20260619_175209
Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Palma (BPPTP), Kementerian Pertanian memperkenalkan teknologi pengolahan Virgin Coconut Oil (VCO) metode kering dalam ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan Tahun 2026.

Jurnalis:

Kabar Baru, Gorontalo— Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Palma (BPPTP), Kementerian Pertanian memperkenalkan teknologi pengolahan Virgin Coconut Oil (VCO) metode kering dalam ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan Tahun 2026. Inovasi tersebut ditampilkan sebagai sarana berbagi teknologi kepada petani dari berbagai daerah di Indonesia dengan harapan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa.

Petrik Pasang (52), perwakilan dari BPPTP yang berkantor di Manado, menjelaskan bahwa teknologi ini memungkinkan proses produksi VCO dilakukan dalam waktu relatif singkat.

“Ini alat pengolahan VCO metode kering. Jadi parutan kelapa dikeringkan terlebih dahulu, kemudian dipres hingga menghasilkan VCO. Kurang lebih prosesnya memakan waktu sekitar dua jam,” ujarnya saat ditemui di lokasi pameran.

VCO atau Virgin Coconut Oil merupakan minyak kelapa murni yang dihasilkan melalui proses pengolahan tanpa penambahan air. Dalam metode ini, daging kelapa diparut lalu dikeringkan sebelum dilakukan pengepresan untuk memperoleh minyak.

Berdasarkan informasi yang ditampilkan pada stan pameran, pembuatan VCO umumnya dibedakan menjadi dua metode, yaitu metode basah dan metode kering. Metode basah dilakukan dengan penambahan air melalui pengolahan santan, sedangkan metode kering tidak menggunakan air sehingga proses produksi dapat berlangsung lebih cepat.

Unit pengolahan yang dipamerkan memiliki kapasitas produksi hingga 150 butir kelapa per hari dengan bahan baku utama berupa kelapa matang berumur 11–12 bulan. Produk yang dihasilkan diklaim telah mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 7381:2022.

Adapun alat yang digunakan dalam proses produksi meliputi parang, alat pengupas kelapa, alat pemarut, unit pengering, serta alat pengepres.

Tahapan pengolahan dimulai dari pembelahan dan pemarutan kelapa, kemudian dilakukan proses pengeringan secara bertahap pada suhu berbeda, yaitu sekitar 45°C, 50°C, 55–60°C, hingga 65–70°C. Setelah itu, parutan kelapa dimasukkan ke dalam silinder pengepres untuk menghasilkan VCO dan ampas kering. Minyak yang diperoleh kemudian disaring menggunakan kertas saring sebelum dikemas.

Menurut Petrik, VCO memiliki beragam manfaat yang lebih banyak diarahkan pada bidang kesehatan dan kecantikan.

“Kalau untuk kesehatan bisa digunakan untuk diet dan membantu imun tubuh. Untuk kecantikan, bisa digunakan untuk membantu menghaluskan kulit dan perawatan garis-garis pada kulit,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa VCO juga dapat digunakan secara langsung pada kulit maupun dimanfaatkan sebagai minyak pijat.

Keikutsertaan BPPTP dalam PENAS 2026, lanjut Petrik, menjadi bagian dari upaya diseminasi teknologi kepada petani dan pelaku usaha skala mikro.

“Di sini kita berbagi informasi teknologi kepada petani se-Indonesia. Harapannya teknologi ini bisa diterapkan dan membantu meningkatkan pendapatan, khususnya bagi petani kelapa,” katanya.

Meski produk VCO yang ditampilkan belum dipasarkan di lokasi kegiatan, Petrik menyebut penjualan saat ini masih dilakukan di Manado dan kehadiran pada PENAS difokuskan untuk kegiatan pameran dan edukasi.***

 

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store