Soal BASSRA dan Industrialisasi Madura, Imron Amin: Ulama Bukan Menolak

Jurnalis: Khotibul Umam
Kabar Baru, Bangkalan – Anggota DPR RI Fraksi Gerindra dari Daerah Pemilihan (Dapil) XI Madura, R Imron Amin, angkat bicara terkait polemik sikap ulama dan habaib terhadap rencana industrialisasi di Pulau Madura.
Imron menilai, munculnya anggapan bahwa para ulama, termasuk Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA), menolak industrialisasi perlu diluruskan. Menurutnya, sikap yang disampaikan para ulama lebih menekankan agar pembangunan industri tetap memperhatikan kultur dan budaya Madura.
“Kalau saya pelajari dan saya melihat itu sebenarnya tidak menolak, tapi lebih ke arah bagaimana menjaga kultur budaya Madura, seperti yang dikatakan kota santri dan lain sebagainya,” ujar Imron.
Menurutnya, industrialisasi justru sejalan dengan cita-cita pembangunan Madura untuk menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya bagi masyarakat.
Karena itu, Imron menyayangkan apabila masih ada narasi yang seolah-olah menunjukkan adanya penolakan dari ulama terhadap masuknya industri dan investasi ke Madura.
Ia juga mengapresiasi klarifikasi yang sebelumnya disampaikan perwakilan BASSRA, KH Syafik Rofii, terkait isu tersebut. Menurut Imron, penjelasan tersebut menunjukkan bahwa ulama tidak menutup pintu terhadap industrialisasi, melainkan menginginkan pembangunan yang tetap selaras dengan nilai-nilai dan karakter masyarakat Madura.
“Kalau masih ada sedikit kegaduhan, pasti investor akan berpikir untuk masuk ke Madura, terutama terkait keamanan,” katanya, Kamis, (20/08/26)
Imron pun mengajak masyarakat Madura untuk bersama-sama menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi. Menurutnya, industrialisasi berpotensi memberikan dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi di Madura.
“Saya mengharap kepada seluruh masyarakat, ayo kita dukung bersama karena di sini menciptakan lapangan pekerjaan yang sangat luar biasa,” tegasnya.
Namun, dukungan terhadap industrialisasi, lanjut Imron, harus dibarengi dengan persiapan sumber daya manusia (SDM) lokal. Ia tidak ingin masyarakat Madura hanya menjadi penonton ketika industri dan berbagai proyek pembangunan mulai masuk.
Imron mencontohkan kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan khusus dalam berbagai sektor. Menurutnya, kondisi tersebut harus diantisipasi dengan mempersiapkan pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat Madura.
“Misalnya pekerjanya, penata kasur itu harus lulusan perhotelan. Lah, bagaimana dengan SDM kita? Maksud saya, mari kita siapkan itu bersama agar semua industri atau pembangunan itu masuk ke kita dan kita tidak hanya jadi penonton,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah, tokoh masyarakat, pesantren, lembaga pendidikan, dan seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama mempersiapkan SDM Madura menghadapi era industrialisasi.
Dengan begitu, kehadiran investor tidak hanya membuka lapangan pekerjaan, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat lokal untuk mengisi berbagai posisi, termasuk posisi strategis di dalam industri.
“Harapan besar saya, tokoh masyarakat kita bisa berkecimpung di dalamnya. Tidak hanya jadi penonton,” pungkas Imron.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
