R Imron Amin Dorong Industrialisasi Madura, Minta SDM Lokal Disiapkan agar Tak Jadi Penonton

Jurnalis: Khotibul Umam
Kabar Baru, Bangkalan – Anggota DPR RI Fraksi Gerindra dari Daerah Pemilihan (Dapil) XI Madura, R Imron Amin, mendorong seluruh elemen masyarakat mendukung rencana industrialisasi di Pulau Madura.
Menurutnya, kehadiran industri dapat menjadi momentum besar untuk membuka lapangan pekerjaan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat Madura. Namun, ia menegaskan pembangunan industri harus tetap memperhatikan kultur, budaya, serta kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal.
Imron menanggapi adanya isu yang menyebut sejumlah ulama dan habaib menolak industrialisasi di Madura. Menurutnya, setelah dirinya mencermati persoalan tersebut, sikap para ulama bukanlah penolakan terhadap industri, melainkan penekanan agar pembangunan tetap menjaga karakter Madura sebagai wilayah yang dikenal dengan kultur pesantren dan kota santri.
“Kalau saya pelajari dan saya melihat, sebenarnya tidak menolak. Lebih kepada bagaimana menjaga kultur budaya Madura, seperti yang dikatakan kota santri dan lain sebagainya,” ujar Imron.
Ia menilai, sejak dahulu cita-cita pembangunan di Madura salah satunya adalah menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya bagi masyarakat.
Karena itu, Imron menyayangkan jika muncul pernyataan yang justru dianggap dapat menghambat masuknya investor ke Madura. Sebab, menurutnya, kegaduhan terkait penolakan industri berpotensi membuat investor mempertimbangkan kembali aspek keamanan dan kepastian investasi.
Imron juga menyinggung klarifikasi dari perwakilan Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA) yang menyatakan tidak menolak industrialisasi.
“Kalau masih ada sedikit kegaduhan, pasti investor akan berpikir untuk masuk ke Madura, terutama terkait keamanan. Saya mengharap kepada seluruh masyarakat, ayo kita dukung bersama karena ini menciptakan lapangan pekerjaan yang sangat luar biasa,” katanya.
Meski demikian, dukungan terhadap industrialisasi, kata Imron, harus dibarengi dengan kesiapan SDM Madura. Ia tidak ingin masyarakat lokal hanya menjadi penonton ketika kawasan industri dan berbagai proyek pembangunan mulai berkembang.
Imron mencontohkan pengalaman ketika dirinya menyampaikan pandangan mengenai pembangunan sebuah kota oleh pengusaha asal Madura di salah satu wilayah Bangkalan. Pernyataannya sempat dianggap sebagai bentuk penolakan.
Padahal, ia menegaskan, dirinya tidak pernah menolak pembangunan. Kritik yang disampaikan lebih kepada bagaimana memastikan masyarakat lokal memiliki kompetensi untuk mengisi berbagai posisi pekerjaan yang tersedia.
“Misalnya pekerjanya, penata kasur itu harus lulusan perhotelan. Lah, bagaimana dengan SDM kita? Maksud saya, mari kita siapkan itu bersama agar semua industri atau pembangunan yang masuk, kita tidak hanya jadi penonton,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, pesantren, dan berbagai pihak dapat mulai mempersiapkan kompetensi masyarakat Madura sejak sekarang.
Dengan demikian, ketika investasi dan industrialisasi berkembang, masyarakat lokal tidak hanya memperoleh manfaat sebagai pekerja lapangan, tetapi juga mampu mengisi posisi strategis di berbagai sektor industri.
“Harapan besar saya, tokoh masyarakat kita bisa berkecimpung di dalamnya. Tidak hanya jadi penonton. Itu harapan besar saya sebenarnya,” pungkas Imron.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Poros Merdeka
Portal Tujuh
Idealita News
Kita Notice
Dinamika Post
Radar Baru
Seedbacklink
