Dukung Arah Kebijakan Gubernur Jatim, Bakorwil IV Pamekasan Perkuat Pestana di Madura

Jurnalis: Khotibul Umam
Kabar Baru, Pamekasan – Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) IV Pamekasan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Penguatan Program Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA) di Ruang Rapat Trunojoyo, Kamis (16/04/2026)
Kegiatan ini diikuti oleh Perwakilan Biro Kesra Setdaprov Jatim, Perwakilan Bagian Kesra Setda Kabupaten se-Madura Raya, Kementerian Agama Kabupaten, BPBD, serta Dinas Sosial se-Madura Raya.
Rakor tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Sekretaris Jenderal Jaringan Kyai Santri Nasional sekaligus Tim PESTANA Provinsi Jawa Timur, Moh. Ghofirin, S.Pd., M.Pd., serta Ketua Tim Pencegahan Bidang PK BPBD Jawa Timur, Dadang Iqwandy, ST., MY.
Dalam sambutannya, Kepala Bakorwil IV Pamekasan Dra. Sufi Agustini, M. Si yang diwakili Kepala Bidang Pemerintahan Bakorwil IV Pamekasan, Sri Rukmiati, S.Sos., MM., menegaskan bahwa Madura memiliki kekuatan besar melalui keberadaan pesantren yang jumlahnya sangat banyak dan memiliki pengaruh sosial yang kuat di masyarakat.
Namun demikian, wilayah Madura juga dihadapkan pada tingkat kerawanan bencana hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem.
Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan bencana menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis tidak hanya sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter masyarakat yang tangguh terhadap bencana.
“Oleh karena itu, santri perlu dibekali pengetahuan kebencanaan agar mampu berperan dalam situasi darurat, ungkapnya.
Sri Rukmiati juga mendorong agar program PESTANA dapat diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, pesantren, dan seluruh pemangku kepentingan. Ia berharap pembentukan SK Tim Pesantren Tangguh Bencana segera direalisasikan di masing-masing kabupaten di Madura.
Sementara itu, dalam pemaparannya, Moh. Ghofirin menyoroti besarnya potensi pesantren dalam mendukung program ketangguhan bencana. Ia menyebutkan bahwa secara nasional terdapat lebih dari 4,8 juta santri dan 39 ribu pondok pesantren, sedangkan di Jawa Timur terdapat 7.345 pesantren dengan lebih dari 655 ribu santri.
Namun demikian, implementasi program PESTANA di Jawa Timur masih tergolong rendah. Dari 38 kabupaten/kota, baru 8 daerah yang merespons secara aktif. Kondisi ini menunjukkan perlunya dorongan bersama agar program tersebut dapat berjalan lebih optimal.
Pria yang akrab disapa Gus Ghofirin tersebut juga mengungkapkan bahwa masih banyak pesantren yang belum memiliki sarana dasar penanggulangan bencana seperti jalur evakuasi, titik kumpul, alat pemadam kebakaran, hingga pompa air. Padahal, hal tersebut merupakan langkah awal yang penting dalam mitigasi bencana.
“Penguatan PESTANA dapat dimulai dari pembentukan satuan tugas di lingkungan pesantren, peningkatan edukasi kebencanaan bagi santri dan pengurus, serta pelatihan keterampilan tanggap darurat seperti pertolongan pertama dan simulasi evakuasi,” bebernya.
Selain itu, integrasi materi kebencanaan dalam kurikulum pesantren juga dinilai penting, baik melalui kajian Fiqih Kebencanaan maupun Akhlak Kebencanaan, sehingga santri tidak hanya memahami secara teori tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kesiapan dalam menghadapi bencana.
Di sisi lain, Ketua Tim Pencegahan Bidang PK BPBD Jawa Timur Dadang Iqwandy menyampaikan bahwa jumlah pesantren yang berpotensi terdampak bencana di Jawa Timur sangat tinggi dengan jumlah pesantren mencapai 7.345, diperkirakan sekitar 6.552 masuk kategori rawan bencana tinggi.
Ia menjeleskan dalam situasi gempa, masyarakat sebaiknya tidak panik dan tidak langsung berlari keluar, melainkan mencari tempat aman untuk menghindari risiko tertimpa bangunan. Berdasarkan pengalaman gempa di Jepang tahun 1995, tingkat keselamatan korban lebih banyak ditentukan oleh kesiapsiagaan diri sendiri dan lingkungan terdekat.
Lebih lanjut, Dadang juga mengingatkan potensi terjadinya fenomena El Nino pada semester kedua tahun 2026 dengan peluang mencapai 50–60 persen, yang berpotensi menyebabkan kondisi cuaca lebih kering di Indonesia.
“Pentingnya pembentukan tim siaga bencana di setiap pesantren, serta penerapan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang saat ini masih sangat terbatas implementasinya,” tukasnya.
Melalui rakor tersebut, diharapkan seluruh pihak dapat memperkuat koordinasi dan komitmen dalam mengembangkan program PESTANA, sehingga pesantren di Madura dapat menjadi pusat edukasi sekaligus garda terdepan dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

