Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Aksi Nyata PMII untuk Indonesia

Editor:

Kabar Baru, Opini — Enam puluh enam tahun lalu, 17 April 1960, tiga belas mahasiswa berkumpul di Surabaya dan mendirikan sebuah organisasi yang mereka namai Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Kata “pergerakan” bukan dipilih secara kebetulan.

Di tengah gejolak demokrasi parlementer yang mulai retak, di saat partai-partai besar berlomba mendirikan sayap mahasiswanya masing-masing, para pendiri PMII memilih kata yang bergerak, kata yang mengandung momentum, arah, dan kehendak untuk mengubah keadaan. Bukan sekadar himpunan. Bukan sekadar ikatan. Melainkan sebuah pergerakan yang sadar diri, yang tahu ke mana ia melangkah dan mengapa langkah itu perlu diambil.

Saat ini, Indonesia adalah negara yang telah jauh berubah dari negeri tempat PMII lahir. Indeks kemiskinan menurun, angka melek huruf meningkat, dan konektivitas digital menjangkau pelosok yang dulu hanya terhubung oleh jalanan tanah dan kabar dari mulut ke mulut.

Sayangnya, di balik angka-angka yang menggembirakan itu, ketimpangan masih menganga lebar, koefisien gini yang stagnan dari tahun ke tahun, pengangguran terdidik yang terus membengkak, dan krisis kepercayaan generasi muda terhadap institusi politik yang belum juga pulih dari luka-luka panjang.

Inilah medan juang PMII hari ini. Bukan melawan penjajah kolonial seperti angkatan pertama. Bukan menggagalkan kudeta seperti generasi-generasi berikutnya. Melainkan menghadapi musuh yang jauh lebih senyap dan lebih licin: ketidakadilan struktural yang bekerja dalam diam, yang bersembunyi di balik regulasi yang rumit, kebijakan yang bias, dan sistem yang secara halus terus meminggirkan mereka yang sudah sejak lama tersingkir.

Harlah ke-66 ini selayaknya menjadi momen introspeksi yang sungguh-sungguh, bukan sekadar seremoni perayaan. PMII memiliki modal yang tidak dimiliki banyak organisasi lain, jaringan nasional yang kuat, berakar di kampus-kampus dari Sabang sampai Merauke, dengan kader yang tertempa tradisi keilmuan Islam yang kritis dan humanis.

Nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi ruh organisasi bukan sekadar ajaran ritual, melainkan etika sosial yang meletakkan moderasi, toleransi, dan keberpihakan kepada yang lemah sebagai prinsip hidup bermasyarakat yang konkret dan hidup.

Di sejumlah daerah, kabar baiknya nyata. Kader-kader PMII terlibat aktif dalam program literasi digital bagi santri di pesantren, mendampingi petani dalam mengakses skema pembiayaan pertanian yang selama ini terasa jauh dan rumit, hingga menjadi paralegal bagi buruh yang dirampas haknya oleh kontrak kerja yang tidak adil. Ini adalah wajah PMII yang seharusnya lebih sering ditampilkan ke publik, PMII yang turun tangan, bukan sekadar turun ke jalan. PMII yang hadir di antara orang-orang yang paling membutuhkan kehadiran, bukan hanya di depan kamera atau di panggung-panggung orasi.

Memang, perlu diakui dengan jujur pula. Di sisi lain, citra organisasi pendemo masih sering lebih kuat daripada citra organisasi pemikir dan penggerak. Aksi massa memang penting sebagai bahasa demokrasi dan cara warga negara berbicara ketika saluran-saluran formal tersumbat. Tetapi bila aksi hanya menjadi rutinitas tanpa agenda perubahan yang terukur, tanpa tuntutan yang konkret dan dapat diverifikasi, ia kehilangan daya ubah dan tinggallah daya gugat yang perlahan memudar, seperti api tanpa kayu.

Sebab itu, PMII perlu bergerak pada tiga lini secara bersamaan, dan ketiganya sama pentingnya. Pertama, lini intelektual. Kampus adalah habitat asli PMII, dan di sanalah pertarungan gagasan paling menentukan berlangsung. Di ruang-ruang kuliah, dalam diskusi-diskusi kecil yang tak terliput media, dalam karya tulis mahasiswa yang dibaca dosen dan kadang tidak dibaca siapa pun di sanalah narasi tentang Indonesia masa depan sedang dibentuk.

PMII harus hadir sebagai produsen narasi, bukan hanya konsumen informasi. Menawarkan analisis atas kebijakan publik yang sedang dibahas, merespons isu lingkungan hidup, ketahanan pangan, dan keadilan digital dengan argumen yang substansial, bukan sekadar slogan yang enak diucapkan tetapi miskin kandungan. Kader yang terbiasa membaca dan menulis dengan serius adalah kader yang paling siap menghadapi tantangan zaman.

Kedua, lini sosial-kemasyarakatan. Kader PMII yang tersebar di ribuan kampus di seluruh Indonesia adalah sumber daya manusia yang luar biasa besarnya dan belum sepenuhnya diberdayakan untuk kerja-kerja nyata yang menyentuh kehidupan orang banyak. Pendampingan UMKM di lingkungan sekitar kampus, advokasi hukum bagi warga yang tidak mampu menjangkau pengacara, pengembangan ekonomi pesantren yang berkelanjutan, hingga program gizi dan kesehatan di desa-desa terpencil, semua itu adalah ladang kerja yang menunggu tangan-tangan terampil dan hati yang berpihak.

Di sinilah nilai Islam yang rahmatan lil alamin harus diterjemahkan ke dalam praktik sehari-hari, bukan hanya dipidatokan di podium-podium besar yang tepuk tangannya meriah tetapi dampaknya tak terasa di luar ruangan.

Ketiga, kaderisasi yang adaptif. Generasi Z yang kini menjadi tulang punggung PMII adalah generasi yang berbeda cara berpikirnya, berbeda ritme hidupnya, dan berbeda pula ekspresi aktivisme-nya. Mereka tumbuh dalam ekosistem informasi yang bergerak cepat, terbiasa berpikir lintas disiplin, dan tidak mudah tunduk pada otoritas yang tidak dapat menjelaskan dirinya sendiri.

Sistem kaderisasi yang kaku, birokratis, dan terlalu banyak formalitas bisa menjadi saringan yang justru mengeluarkan kader-kader paling kreatif, paling kritis, dan paling independen.

PMII perlu menemukan format kaderisasi yang tetap mentransmisikan nilai-nilai inti, tetapi terbuka pada cara-cara baru berorganisasi yang lebih cair, lebih kolaboratif, dan lebih relevan bagi kehidupan anak muda hari ini.

Mahbub Djunaidi, ketua umum pertama PMII, adalah seorang jurnalis sekaligus sastrawan yang pikirannya tajam dan penanya produktif. Ia memahami sesuatu yang tidak selalu dipahami para aktivis: bahwa perubahan sosial tidak hanya membutuhkan keberanian di jalanan, tetapi juga kejelasan di atas kertas.

Kemampuan membaca realitas secara jernih, merumuskan masalah secara tepat, dan menawarkan solusi yang masuk akal dan itulah warisan terbesar yang ia tinggalkan. Warisan yang jauh lebih berharga daripada foto-foto demonstrasi atau potongan kliping berita lama.

Di usia 66 tahun, PMII bukan lagi organisasi muda yang masih meraba-raba bentuknya. Ia adalah organisasi yang sudah punya tradisi panjang, punya sejarah yang kaya, dan punya tanggung jawab yang sebanding bahkan melampaui besarnya.

Tanggung jawab itu bukan terutama kepada masa lalu, bukan kepada Mahbub Djunaidi atau kepada para pendiri yang berkumpul di Surabaya enam puluh enam tahun silam. Tanggung jawab itu adalah kepada Indonesia yang sedang dan akan terus berubah kepada jutaan anak muda yang masih mencari orientasi, kepada petani dan buruh yang masih menunggu keadilan, kepada generasi mendatang yang akan mewarisi negeri ini dalam kondisi yang kita tentukan hari ini.

Aksi nyata PMII untuk Indonesia bukan diukur dari seberapa banyak kader yang turun ke jalan, bukan dari seberapa keras suara yang dihasilkan dalam setiap demonstrasi. Aksi nyata itu terasa ketika seorang kader berhasil mendampingi satu keluarga miskin mendapatkan haknya yang selama ini terhalang birokrasi.

Ketika satu kebijakan publik yang zalim dikoreksi karena tekanan argumentasi yang kuat dan data yang tidak terbantahkan. Ketika satu generasi muda Islam tumbuh menjadi warga negara yang cerdas, kritis, dan berbelas kasih yang tidak mudah diprovokasi, tidak mudah dibeli, tetapi sangat mudah digerakkan oleh rasa keadilan.

Selamat Harlah ke-66, PMII. Bergeraklah dan pastikan gerakan itu meninggalkan bekas yang nyata di tanah tempat ia berpijak.

***

Penulis adalah Aden Farih Ramdlani, Kader PMII.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store