Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Aktivis Kritik Klaim Narasi Hijau PGEO: ESG Tak Bisa Dibangun dari Baseline Lama

Desain tanpa judul - 2026-05-31T155249.971
Koordinator Pusat Poros Muda Nusantara, Hendry Hermawan (Foto: Kabarbaru).

Jurnalis:

Kabar Baru, Jakarta – Organisasi kepemudaan nasional, Poros Muda Nusantara, melayangkan kritik tajam terhadap narasi hijau yang dibangun oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).

Mereka menilai emiten berkode saham PGEO tersebut menggunakan acuan (baseline) lama dan pendekatan data yang tidak lagi relevan dalam publikasi Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan.

Kritik keras ini muncul di tengah masifnya promosi PGEO sebagai salah satu raksasa energi hijau kelas dunia.

Perusahaan tersebut sebelumnya mengumumkan perolehan skor ESG sebesar 7,1 dari Sustainalytics dan berhasil masuk dalam daftar 2025 ESG Top-Rated Company.

Namun, Poros Muda Nusantara memandang penghargaan internasional tersebut tidak boleh menjadi alat legitimasi tanpa adanya evaluasi mendalam terhadap transparansi data dan dampak aktual di lapangan.

Tudingan Potensi Greenwashing

Koordinator Pusat Poros Muda Nusantara, Hendry Hermawan, menegaskan bahwa ESG seharusnya menjadi komitmen nyata, bukan sekadar instrumen pencitraan korporasi untuk menarik perhatian investor.

“PGEO tidak bisa terus berlindung di balik baseline lama untuk membangun narasi hijau seolah-olah seluruh operasional dan ekspansinya sudah sepenuhnya berkelanjutan. ESG tidak boleh direduksi menjadi alat marketing dan pemoles citra perusahaan,” ujar Hendry Hermawan kepada Jurnalis Kabarbaru di Jakarta, Minggu (31/05/2026).

Hendry menambahkan, penggunaan indikator yang usang berpotensi memicu distorsi informasi di tengah masyarakat.

Menurutnya, praktik membandingkan capaian saat ini dengan parameter lama yang tidak lagi mencerminkan realitas operasional terbaru dapat mengarah pada tindakan greenwashing.

“Ketika baseline yang digunakan sudah tidak relevan, maka klaim penurunan emisi menjadi problematis. Publik berhak tahu apakah peningkatan ESG itu benar-benar lahir dari transformasi substantif atau hanya hasil permainan metodologi,” lanjut Hendry.

Desak Transparansi Data

Selama ini, PGEO aktif mempromosikan kontribusinya dalam mengurangi emisi karbon hingga mencapai 9,7 juta tCO2 per tahun.

Perusahaan juga mengeklaim posisi sebagai korporasi dengan risiko ESG terendah di subsektor energi terbarukan global.

Merespons hal tersebut, Poros Muda Nusantara melalui kajian internalnya menilai pendekatan tersebut bisa menyesatkan publik.

Kesan progres keberlanjutan yang tampil di ruang publik dinilai terlihat jauh lebih besar daripada kenyataan yang ada di lapangan.

Sebagai langkah konkret, Poros Muda Nusantara mendesak manajemen PGEO untuk segera membuka metodologi penghitungan ESG secara transparan dan memperbarui data baseline mereka.

Organisasi kepemudaan ini juga meminta perusahaan melibatkan auditor independen serta masyarakat dalam mengevaluasi dampak keberlanjutan.

“Transisi energi harus berjalan dengan integritas, bukan sekadar membangun persepsi hijau. Anak muda Indonesia mendukung energi bersih, tetapi kami juga menolak greenwashing yang dibungkus jargon ESG,” tegas Hendry menutup pernyataannya.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store