Riset Terbaru Temukan Bahan Kimia Plastik Dalam Tubuh Manusia
Jurnalis: Arif Muhammad
Kabar Baru, Surabaya —Ancaman plastik tak lagi berhenti di sungai, laut, atau tanah. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahan kimia berbahaya dari plastik kini telah ditemukan di dalam tubuh manusia dan berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan.
Temuan tersebut dipaparkan dalam seminar bertajuk “Expose Temuan Bahan Kimia Racun Plastik dalam Darah” yang digelar Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya bersama ECOTON Ecological Observation and Wetland Conservation, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang, serta Universitas Bojonegoro, Senin (9/3/2026). Forum ini dihadiri peneliti, akademisi, mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, hingga media.
Sebanyak 14 hasil penelitian dipresentasikan dalam forum ilmiah tersebut. Riset-riset itu mengkaji dampak paparan bahan kimia plastik dan mikroplastik terhadap kesehatan manusia, mulai dari biomonitoring pada pekerja pengelola sampah perempuan yang memiliki risiko paparan tinggi hingga studi eksperimental pada hewan uji untuk memahami mekanisme dampak mikroplastik di dalam tubuh.
Hasil penelitian menunjukkan keterkaitan antara paparan berbagai bahan kimia aditif plastik seperti bisfenol, ftalat, PFAS, organophosphate flame retardants OPFR, dan polycyclic aromatic hydrocarbons PAHs dengan sejumlah indikator gangguan kesehatan. Dampak yang teridentifikasi antara lain respons inflamasi, perubahan profil sel darah, gangguan metabolisme, hingga potensi peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Sejumlah penelitian eksperimental juga menunjukkan potensi dampak mikroplastik terhadap berbagai organ tubuh. Paparan mikroplastik polietilena, jenis plastik yang banyak digunakan dalam kantong plastik, kemasan makanan, dan berbagai wadah rumah tangga, dilaporkan dapat memicu peradangan jaringan mata, memengaruhi hormon stres, menurunkan fungsi kognitif, menyebabkan perubahan jaringan tulang, serta mengganggu sistem reproduksi.
Para peneliti menjelaskan bahwa bahan kimia berbahaya dari plastik dapat masuk ke dalam tubuh melalui dua mekanisme utama. Pertama, bahan kimia seperti ftalat atau bisfenol dapat terlepas dari produk plastik ke lingkungan, lalu masuk ke tubuh melalui makanan, minuman, air, atau udara. Kedua, partikel mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh dapat melepaskan bahan kimia berbahaya setelah berada di dalam sistem biologis manusia.
“Salah satu kelompok bahan kimia yang banyak ditemukan pada plastik adalah ftalat, yang digunakan sebagai zat pelentur atau plasticizer. Senyawa ini tidak terikat kuat secara kimia dengan polimer plastik sehingga dapat dengan mudah terlepas ke lingkungan sepanjang siklus hidup produk plastik, mulai dari proses penggunaan hingga setelah menjadi sampah. Plastik yang terpapar panas, sinar matahari, atau mengalami degradasi menjadi mikroplastik akan lebih mudah melepaskan bahan kimia tersebut,” jelas Rafika, peneliti mikroplastik ECOTON.
Ketika mikroplastik masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman, partikel kecil tersebut juga dapat melepaskan kembali bahan kimia berbahaya di dalam saluran pencernaan. Mikroorganisme yang hidup di dalam usus bahkan dapat mempercepat proses pelepasan tersebut. Paparan bahan kimia ini berpotensi mengganggu keseimbangan mikrobiota usus yang berperan penting dalam sistem pencernaan, metabolisme, dan daya tahan tubuh.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Dr. Yudhiakuari Sincihu, menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap jalur paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari.
“Ketika partikel mikroplastik masuk ke dalam tubuh melalui makanan, air minum, atau udara, partikel ini dapat berinteraksi langsung dengan sel dan jaringan. Permukaan mikroplastik dapat memicu stres oksidatif dan peradangan kronis pada sel. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya reactive oxygen species ROS yang dapat merusak DNA, protein, dan membran sel. Paparan jangka panjang terhadap bahan kimia tersebut dapat mengganggu mekanisme perbaikan DNA, memicu perubahan ekspresi gen, serta meningkatkan proliferasi sel yang tidak terkontrol. Selain itu, peradangan kronis yang berlangsung lama juga dapat menciptakan lingkungan biologis yang mendukung perkembangan sel kanker,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa penanganan mikroplastik memerlukan pendekatan yang terintegrasi.
“Strategi penanganan mikroplastik perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penguatan riset seperti penelitian biomarker paparan dan studi toksikologi, hingga kebijakan yang lebih kuat seperti penerapan Extended Producer Responsibility EPR dan penetapan baku mutu mikroplastik. Pengembangan teknologi filtrasi serta kolaborasi lintas sektor juga sangat penting agar upaya penanganan mikroplastik dapat berjalan efektif,” tambahnya.
Direktur ECOTON Prigi Arisandi mengatakan hasil penelitian ini perlu diterjemahkan agar lebih mudah dipahami masyarakat luas.
“Kami berupaya menerjemahkan bahasa kampus menjadi bahasa kampung, agar isu ini lebih dekat dengan masyarakat. Dengan cara ini masyarakat dapat memahami bahwa masalah plastik bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan, sehingga mendorong perubahan perilaku untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,” ujarnya.
Peneliti mikroplastik ECOTON Sofi, yang mewakili generasi muda dalam forum tersebut, berharap riset dan advokasi ini dapat mendorong masa depan yang lebih sehat.
“Generasi muda berharap adanya toxic-free future, masa depan yang lebih bebas dari bahan kimia berbahaya. Kami ingin hidup di lingkungan dengan makanan, air, dan udara yang lebih aman dari kontaminasi bahan kimia plastik,” ungkapnya.
Selain seminar ilmiah, kegiatan ini juga menghadirkan pameran hasil penelitian yang menampilkan berbagai informasi mengenai dampak plastik terhadap kesehatan manusia serta pentingnya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Laksamana Pertama TNI Purn. Dr. Herjunianto menutup forum dengan harapan agar diskusi lintas sektor ini dapat mendorong lahirnya kebijakan perlindungan kesehatan masyarakat.
“Forum ini diharapkan menjadi ruang dialog ilmiah lintas sektor yang melibatkan peneliti, akademisi, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat sipil, dan media untuk mendorong lahirnya kebijakan perlindungan kesehatan masyarakat dari paparan bahan kimia berbahaya dalam plastik.”
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

