Hotman Paris Desak Presiden Cabut Kewarganegaraan Dwi Sasetyaningtyas

Jurnalis: Khotibul Umam
Kabar Baru, Jakarta – Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea melayangkan somasi terbuka terhadap Dwi Sasetyaningtyas, alumnus beasiswa LPDP yang viral karena memamerkan paspor warga negara asing (WNA) sang anak.
Hotman mengaku geram melihat narasi Dwi yang seolah merendahkan status Warga Negara Indonesia (WNI), padahal pendidikannya dibiayai oleh pajak rakyat.
Dwi Sasetyaningtyas,
Melalui unggahan di media sosialnya, Hotman menyoroti pernyataan Dwi yang menyebut tidak rela jika anak-anaknya menjadi WNI.
Menurut Hotman, pernyataan tersebut sangat tidak pantas keluar dari mulut seseorang yang menginjakkan kaki di luar negeri menggunakan fasilitas negara.
“Hei, kamu yang teriak-teriak mengatakan tidak mau anaknya WNI, sedangkan kamu ke luar negeri pakai uang beasiswa negara. Aku somasi kamu! Kembalikan itu beasiswa, atau kamu minta maaf kepada publik,” tegas Hotman dengan nada tinggi.
Tersinggung sebagai Pembayar Pajak
Hotman menekankan bahwa dana Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bersumber dari keringat masyarakat, termasuk Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Sebagai pengacara yang rutin membayar pajak dalam jumlah besar, ia merasa terhina oleh sikap sang alumnus.
“Uang yang menyekolahkan kamu itu termasuk uang pajak dari saya juga. Itu uang pajak rakyat! Kamu sekolah tinggi-tinggi pakai uang kami, tapi sekarang malah menghina bangsa di dunia internasional,” tambahnya.
Saking geramnya, Hotman bahkan mengusulkan kepada Presiden agar mencabut kewarganegaraan Dwi Sasetyaningtyas.
Ia menilai tindakan pamer paspor luar negeri sambil merendahkan paspor Indonesia merupakan bentuk pengkhianatan terhadap komitmen moral seorang penerima beasiswa negara.
Jejak Pendidikan dan Pengabdian
Polemik ini bermula saat Dwi, lulusan Teknik Kimia ITB yang melanjutkan S2 di Delft University of Technology Belanda, mengunggah konten kewarganegaraan Inggris anak keduanya.
Dalam unggahan tersebut, ia menulis narasi, “Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu.”
Unggahan tersebut langsung memicu reaksi negatif warganet yang mulai mengulik kehidupan pribadinya.
Padahal, Dwi tercatat memiliki rekam jejak pengabdian yang cukup aktif, mulai dari penanaman 10.000 pohon bakau hingga pembangunan sekolah di NTT selama periode 2017–2023.
Namun, bagi publik dan Hotman Paris, prestasi dan pengabdian tersebut seolah luntur akibat pernyataan yang dianggap tidak nasionalis.
Isu ini kini berkembang menjadi perdebatan luas mengenai kewajiban moral dan etika para awardee LPDP setelah menyelesaikan studi mereka dengan biaya miliaran rupiah dari kas negara.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

