Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami Fakta

Editor: Bahiyyah Azzahra
Kabar Baru, Opini – Pernahkan melihat sebuah unggahan viral di media sosial, lalu tanpa sadar langsung ikut memberi penilaian? Kenyataannya, fenomena semacam ini sudah menjadi hal lumrah di era digital seperti sekarang. Hanya dari melihat potongan video atau membaca satu unggahan saja, banyak pengguna merasa paling tahu tentang keseluruhan ceritanya. Akibatnya, kolom komentar sering kali penuh dengan pendapat yang kurang sesuai dengan fakta.
Tanpa disadari, kebiasaan kecil ini jadi salah satu tantangan yang cukup berdampak dalam arus komunikasi. Adanya kemajuan teknologi sebenarnya memang memudahkan pengguna untuk mengakses berbagai informasi. Hanya saja, banyak di antara pengguna terlalu cepat bereaksi tanpa memeriksa faktanya terlebih dahulu. Terlalu buru-buru ingin mengungkapkan argumen pribadi tanpa mencoba memahami fakta yang sebenarnya sedang terjadi.
Pada dasarnya, media sosial hadir untuk memudahkan komunikasi antar pengguna. Kenyataannya, tidak sedikit pengguna yang justru memanfaatkannya sebagai wadah untuk meluapkan emosi sesaat. Saat menemui pendapat yang bertentangan dengan argumen pribadinya, sebagian pengguna langsung memberikan komentar yang begitu pedas. Tidak peduli apa pun alasan di balik pendapat tersebut.
Sebagai salah satu pengguna media sosial, penulis cukup sering melihat bagaimana sebuah unggahan bisa memicu perdebatan panjang di kolom komentar. Mayoritas pengguna menuliskan pendapat hanya berdasarkan informasi yang diperoleh pada detik-detik pertama saja. Padahal, belum tentu informasi yang dilihat sudah lengkap dan sesuai dengan fakta aslinya. Misalnya saja, terdapat satu potongan video yang sedang viral dan memancing begitu banyak komentar negatif. Setelah videonya lengkap atau penjelasan dari pihak terkait muncul ke permukaan, ternyatanya konteks kejadiannya sangat berbeda dengan perkiraan awal pengguna. Kejadian semacam ini sangatlah disayangkan. Kebanyakan komentar negatif yang pengguna tulis sudah menimbulkan dampak signifikan bagi beberapa pihak terkait.
Dampak Kesalahpahaman dalam Komunikasi
Kebiasaan menilai sesuatu tanpa memahami fakta sebenarnya ternyata tidak hanya terjadi di media sosial saja. Banyak konflik sehari-hari yang muncul karena sebuah kesalahpahaman kecil. Baik di lingkungan keluarga, pertemanan, bahkan kampus. Seseorang bisa merasa tersinggung akibat pendapatnya disalahartikan oleh orang lain.
Penulis sendiri meyakini bahwa kebiasaan menyimpulkan langsung suatu hal merupakan fenomena yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Terkadang seseorang mendapat julukan sombong, kurang peduli, atau tidak menghargai hanya karena kesalahpahaman. Padahal, kesalahpahaman kecil ini dapat terselesaikan jika kedua belah pihak mengutamakan komunikasi yang baik. Apabila masing-masing pihak saling mempertahankan ego pribadi, konflik kecil pun berpotensi berkembang menjadi masalah yang besar.
Situasi semacam ini menunjukkan bahwa pengguna media sosial lebih tertantang untuk memberikan tanggapan paling cepat ketimbang memahaminya terlebih dulu. Padahal, komunikasi yang baik tidak hanya berkaitan dengan kegiatan berbicara saja. Inti utama dalam sebuah komunikasi juga perlu mengutamakan kegiatan mendengar pendapat dari orang lain. Pengguna media sosial berkesempatan untuk memahami keadaan yang sebenarnya jika mendengarnya dahulu. Jangan mudah “menyimpulkan”, tapi utamakan untuk “mendengarkan”.
Pentingnya Empati dan Kebiasaan Mendengarkan
Empati merupakan salah satu kunci penting untuk memperbaiki kualitas komunikasi, terutama di media sosial. Tidak harus setuju dengan pendapat pengguna lainnya, cukup pahami dahulu beberapa sudut pandang yang berbeda. Jika mengutamakan empati, pengguna media sosial akan lebih berhati-hati dalam berbicara maupun menulis komentar.
Patut disayangkan, budaya komunikasi yang berkembang sekarang justru mendorong pengguna media sosial untuk memberi respons secepat mungkin. Banyak yang takut dicap kurang update hanya karena tidak berkomentar. Padahal, pengguna media sosial perlu bijak dan memegang prinsip bahwa tidak semua hal perlu dikomentari saat itu juga. Terkadang, meluangkan sedikit waktu untuk membaca informasi secara utuh justru meminimalisir munculnya kesalahpahaman.
Oleh karena itu, pengguna media sosial perlu mulai membiasakan diri untuk berpikir sebelum menuliskan sebuah komentar. Ada baiknya untuk melakukan refleksi diri terlebih dahulu sebelum menuliskan sesuatu di media sosial. Apakah informasinya sudah lengkap? Apakah pengguna benar-benar memahami persoalannya? Apakah komentar yang pengguna tulis akan memberikan manfaat atau justru memperkeruh suasana?
Pada akhirnya, komunikasi yang sehat tidaklah ditentukan dari seberapa cepat pengguna media sosial memberikan tanggapan. Justru komunikasi yang sehat lahir dari kemauan pengguna untuk mendengarkan, memahami, dan menghargai orang lain. Faktanya, kemampuan untuk memahami sebuah informasi tergolong ke dalam keterampilan yang begitu berharga. Khususnya di tengah derasnya arus informasi digital yang terus-menerus muncul.
Penulis : Alexander Christov Nady Utomo, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
