Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Menyisir Detail di Labirin Sunyi

Karya Talitha Syahla
Karya Talitha Syahla, Mahasiswi Prodi Teknik Informatika, Universitas Pamulang..

Jurnalis:

Kabar Baru, Cerpen – “Aduh, Anindya mah ribet.” Kalimat itu sudah terlalu sering kudengar hingga aku tidak lagi merasa tersinggung. Biasanya kalimat itu muncul ketika aku sedang memilih makanan, menentukan sesuatu, atau bahkan sekadar memberikan pendapat.

Entah sejak kapan orang-orang mulai menganggapku seperti itu. Yang jelas, semakin aku mengenal diriku sendiri, semakin aku sadar bahwa mereka mungkin tidak sepenuhnya salah.

Namaku Anindya. Aku adalah seseorang yang selalu memiliki banyak pertimbangan dalam hampir segala hal. Kadang aku sendiri tidak tahu apakah itu bentuk kehati-hatian, sifat pemilih, atau justru kecenderungan untuk menuntut kesempurnaan.

Semua itu mungkin paling terlihat dari caraku menghadapi makanan.

Sejak kecil, orang tuaku membiasakanku memakan apapun yang telah dihidangkan. Tidak pernah ada masalah besar. Aku makan seperti anak-anak lainnya. Namun, semakin bertambah usia, aku mulai mengenali apa yang kusukai dan apa yang tidak. Dari situlah semuanya bermula.

Aku tidak menyukai sayuran yang terlihat jelas di makananku. Aku juga tidak menyukai rempah-rempah yang masih tersisa dalam bentuk potongan besar. Bagiku, rempah-rempah seharusnya menyatu dengan masakan, memberikan rasa tanpa harus hadir sebagai benda yang bisa kugigit.

Karena itu, setiap kali menemukan daun bawang, bawang goreng, atau sayuran dalam makanan sekalipun hanya garnish, aku akan menyingkirkannya terlebih dahulu. Bahkan tanpa sengaja tergigit pun, mulutku seperti memiliki kemampuan untuk mengenalinya. Dalam hitungan detik, aku langsung sadar bahwa ada sesuatu yang tidak kusukai. Refleks pertama yang kulakukan adalah mengeluarkannya dari mulut.

Sebagian orang menganggap hal itu berlebihan. Aku juga pernah berpikir demikian. Namun, apa yang bisa kulakukan jika rasa tidak nyaman itu muncul begitu saja?

Kadang aku masih bisa melanjutkan makan setelah membuang bagian yang tidak kusukai. Meskipun begitu, tidak jarang juga aku memilih berhenti makan sama sekali. Yang lebih aneh lagi, sekarang aku sering dapat menebak apakah aku akan menyukai suatu makanan hanya dengan melihat tampilannya.

“Aku kayaknya nggak suka makanan itu.”

Kalimat itu sering keluar begitu saja.

Anehnya, ketika akhirnya aku mencoba, dugaanku hampir selalu benar.

Karena terlalu sering mengalami hal tersebut, aku menjadi semakin jarang mencoba makanan baru. Bukan karena takut, melainkan karena aku merasa sudah mengetahui hasil akhirnya.

Salah satu kejadian yang paling diingat terjadi ketika aku dan ketiga temanku berkumpul di rumah Rhea setelah pulang sekolah. Hari itu kami pulang lebih awal karena rapat telah selesai. Aku dan ketiga temanku memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama.

Di dekat rumah temanku terdapat sebuah warung yang cukup terkenal. Menu yang dijual beragam dan hampir semuanya sedang populer di kalangan anak muda. Aku memesan satu makanan dan satu minuman.

Aku berpesan kepada salah satu temanku agar makananku tidak diberi sawi, daun bawang, dan bawang goreng. Sayangnya warung itu sangat ramai.

“Udah, nggak usah ribet. Kasihan yang jual lagi banyak pesanan,” kata Rhea.

Aku mengangguk.

Untuk pertama kalinya aku mencoba mengabaikan kebiasaanku.

Saat makanan datang, teman-temanku langsung melahap makanan yang mereka pesan. Sementara itu, aku hanya menatap seporsi makanan yang tadi dipesankan oleh temanku.

Pada akhirnya aku tetap melakukan hal yang sama.

Karena aku tidak menyukai garnish pada makanan tersebut, aku memisahkannya satu per satu.

Ketika teman-temanku sudah makan setengah porsi, aku masih sibuk dengan pekerjaanku. Bahkan saat sebagian dari mereka hampir selesai makan, aku baru mulai menyuap suapan pertamaku.

“Orang-orang udah pada mau habis, dia mah baru mulai.”

Aura tertawa ketika mengatakan hal itu.

Aku ikut tertawa.

Di dalam hati, aku tahu mereka benar. Namun aku juga tahu bahwa aku tidak akan menikmati makanan itu jika tidak melakukan hal tersebut.

Pengalaman serupa juga sering terjadi dalam lingkungan keluargaku.

Aku pernah menunggu ibuku pulang sambil bermain di rumah saudara yang letaknya tepat di sebelah rumah. Saat itu Tante Rika berkali-kali menanyakan apakah aku sudah makan.

Aku selalu menjawab sudah.

Padahal sebenarnya belum.

Aku tidak ingin merepotkan siapa pun hanya karena selera makanku yang terlalu banyak syarat.

Tiba-tiba, Tante Rika datang lagi dengan membawa semangkuk mi ayam.

“Ini buat Anindya.”

Aku hampir tidak bisa menolak.

Mi ayam adalah salah satu makanan favoritku.

Bahkan untuk makanan favorit sekalipun, aku tetap melakukan ritual yang sama. Aku memisahkan daun bawang, sawi, dan bawang goreng terlebih dahulu sebelum mulai makan.

Saat itu aku mulai menyadari sesuatu.

Masalahnya mungkin bukan pada makanannya.

Masalahnya ada pada diriku yang selalu ingin segala sesuatu sesuai dengan apa yang kuharapkan.

Kesadaran itu semakin jelas ketika aku mengerjakan tugas kelompok.

Aku menyukai kegiatan yang berkaitan dengan kreativitas. Menyanyi, melukis, membuat kerajinan tangan, atau apa pun yang memberiku ruang untuk menuangkan ide selalu terasa menyenangkan. Hanya saja, di balik kesenangan itu, ada satu kebiasaan buruk yang sulit kuhilangkan yaitu aku sulit mempercayai kemampuan orang lain.

Suatu hari kelompokku mendapatkan tugas membuat karya seni menggunakan berbagai jenis biji-bijian. Karena ada keperluan keluarga, aku tidak bisa hadir saat pengerjaan dimulai. Untuk pertama kalinya, aku mencoba mempercayakan pekerjaan tersebut kepada teman-temanku.

Ketika melihat hasilnya beberapa waktu kemudian, aku hanya bisa diam.

Bunga yang seharusnya terbentuk dari kacang hijau tampak tidak beraturan. Kupu-kupu yang dibuat menggunakan biji jagung dan kacang tanah juga sulit dikenali bentuknya.

Aku tahu mereka sudah berusaha.

Aku tahu tidak seharusnya aku menghakimi hasil kerja mereka.

Namun ada bagian dalam diriku yang terus mengatakan bahwa karya itu bisa dibuat lebih baik.

Akhirnya aku membongkarnya.

Sebagian besar susunan yang sudah jadi kulepas satu per satu. Aku menyusun ulang semuanya dari awal hingga larut sore.

Saat karya itu selesai, aku merasa puas.

Namun kepuasan tersebut tidak bertahan lama.

Yang muncul justru sebuah pertanyaan.

“Mengapa aku begitu sulit menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan bayanganku?”

Pertanyaan itu terus mengikutiku ke berbagai aspek kehidupan.

Saat memilih menu di restoran, aku membutuhkan waktu lama untuk memutuskan pesanan.

Ketika ingin pergi ke coffee shop, aku bahkan membuka menu mereka sehari sebelumnya agar tidak membuat kasir menunggu terlalu lama. Bahkan, saat harus membeli hadiah untuk siapa pun, aku bisa menghabiskan waktu berhari-hari hanya demi mencari barang yang tepat.

Melihat seorang teman yang hobi keluar malam saja bisa membuatku berpikir berhari-hari untuk membelikannya jaket yang tepat. Begitu pula saat mendapati dompet seseorang mulai koyak; aku akan langsung berburu dompet baru.

Masalahnya, proses pencarian itu bisa berlangsung sangat lama. Aku membandingkan harga, kualitas, model, warna, hingga ulasan pembeli. Seolah-olah satu keputusan kecil harus melalui penelitian besar terlebih dahulu.

Bahkan dalam hubungan asmara, aku pernah mengakhiri hubungan yang baru berjalan sekitar satu minggu.

Alasannya terdengar konyol.

Aku memperhatikan cara berjalan mantan pacarku.

Menurutku posturnya kurang tegap.

Aku tidak pernah mengatakan hal itu kepadanya. Namun semakin kupikirkan, semakin besar pula rasa tidak nyaman yang muncul.

Pada akhirnya aku memilih mengakhiri hubungan tersebut.

Sekarang jika mengingatnya kembali, aku sering merasa lucu sekaligus heran pada diriku sendiri.

“Mengapa hal-hal kecil bisa memiliki pengaruh sebesar itu terhadap cara berpikirku?”

Puncaknya terjadi ketika aku mengikuti sebuah lomba menyanyi.

Aku berlatih berjam-jam setiap hari. Aku mendengarkan rekaman suaraku berulang kali. Semakin sering kudengar, semakin banyak kekurangan yang kutemukan.

Padahal sebenarnya tidak ada nada yang fals.

Tidak ada kesalahan besar.

Namun aku tetap merasa ada yang kurang.

Malam itu aku duduk sendirian setelah selesai berlatih.

Aku merasa lelah.

Bukan lelah karena bernyanyi.

Bukan lelah karena tugas.

Melainkan lelah karena pikiranku sendiri.

Aku lelah berusaha membuat segala sesuatu menjadi sempurna.

Aku lelah mempertimbangkan hal-hal kecil seolah-olah semuanya menentukan masa depan.

Aku lelah menjadi diriku sendiri.

Untuk pertama kalinya, aku bertanya dengan jujur pada diriku.

“Apakah aku seorang perfeksionis?”

“Atau sebenarnya aku hanya seorang yang terlalu pemilih?”

Aku tidak menemukan jawabannya malam itu.

Bahkan sampai hari ini pun aku masih belum benar-benar yakin.

Mungkin aku memang perfeksionis dalam beberapa hal.

Mungkin aku juga pemilih dalam banyak hal.

Namun seiring waktu, aku mulai memahami bahwa tidak semua bagian dari diriku harus diperbaiki.

Tidak semua sifat harus diubah.

Ada hal-hal yang memang menjadi bagian dari siapa diriku sebenarnya.

Aku mungkin akan tetap memisahkan daun bawang dari mi ayamku.

Aku mungkin akan tetap menghabiskan waktu lama memilih hadiah.

Aku mungkin masih akan memikirkan detail-detail kecil yang sering diabaikan orang lain.

Namun sekarang aku tidak lagi memaksakan diriku untuk menjadi sempurna.

Aku mulai belajar menerima bahwa manusia tidak diciptakan untuk selalu memenuhi standar yang dibuatnya sendiri.

Dan mungkin, penerimaan itu adalah bentuk kedewasaan yang selama ini kucari.

Jadi jika suatu hari seseorang kembali bertanya apakah aku seorang perfeksionis atau hanya pemilih, mungkin aku akan menjawab dengan sederhana.

“Aku hanya Anindya.”

Seseorang yang masih belajar memahami dirinya sendiri.

Penulis : Karya Talitha Syahla, Mahasiswi Prodi Teknik Informatika, Universitas Pamulang.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store