Si Imut Berjas Hitam-Putih: Mengawal Tamu Istimewa di Jantung Maratua

Editor: Bahiyyah Azzahra
Kabar Baru, Jakarta – Lini masa media sosial kita belakangan ini, khususnya pada April dan Mei 2026, sedang dipenuhi oleh pemandangan luar biasa. Siluet sirip hitam besar yang membelah birunya perairan Maratua, Kalimantan Timur, berulang kali lewat di For Your Page (FYP) TikTok dan Instagram kita. Ya, mereka adalah Orca, atau yang secara lokal di Indonesia lebih dihormati dengan nama Seguni.
Siapa yang tidak gemas melihat corak hitam-putih ala panda milik Seguni? Ditambah lagi dengan aksi melompat mereka yang tampak ramah di depan kamera para penyelam. Namun jangan salah, di balik wajah ‘imut’ yang ramah kamera itu, tersimpan kekuatan raksasa dari sang penguasa samudra yang sedang melintasi ‘tol laut’ Maratua.
Sebagai mahasiswa, kita tidak boleh hanya sekadar menjadi penonton yang sibuk mengejar tombol like. Fenomena meningkatnya kunjungan Seguni di tahun 2026 ini—jika dibandingkan dengan tahun 2025 yang lalu—membawa pesan ekologis yang sangat penting bagi kita semua.
Di Balik Senyumnya: Strategi ‘Militer’ di Meja Makan Maratua
Jangan tertipu dengan pembawaan mereka yang tampak tenang saat mengiringi kapal cepat turis. Di bawah permukaan air, Seguni adalah ahli strategi tempur paling cerdas di lautan. Mereka tidak berburu dengan mengandalkan otot belaka, melainkan dengan taktik genius yang diwariskan turun-temurun.
Saat mampir ke Maratua, tujuan utama mereka adalah berburu target favorit mereka: Hiu Thresher (Thresher Shark) dan pari besar. Di sinilah kecerdasan mereka terlihat mengerikan sekaligus mengagumkan. Seguni memahami biologi musuhnya. Mereka akan mengepung hiu, lalu menggunakan ekor raksasanya untuk memberikan “Pukulan Karate” (Karate Chop) berkekuatan tinggi tepat di punggung hiu hingga pingsan.
Tak sampai di situ, Seguni akan menggigit sirip hiu dan membalikkan tubuhnya secara terbalik. Secara biologis, tubuh hiu yang terbalik akan mengalami kelumpuhan saraf sementara (tonic immobility). Dalam kondisi mangsa yang tak berdaya ini, Seguni bertindak bak dokter bedah; mereka hanya merobek bagian dada untuk mengekstraksi organ hati (liver) hiu yang kaya nutrisi, lalu membiarkan sisa tubuh lainnya tenggelam. Taktik berburu yang terorganisir inilah yang membuat mereka menyandang gelar predator puncak tanpa tanding.
Mengapa Harus Maratua?
Pertanyaan besarnya adalah: Kenapa mereka begitu betah “mudik” ke Maratua akhir-akhir ini? Jawabannya ada pada kekayaan geografis kita. Perairan Maratua berbatasan langsung dengan Selat Makassar, sebuah koridor laut dalam yang berfungsi sebagai “Tol Laut” migrasi mamalia besar dari Samudra Pasifik menuju Samudra Hindia.
Kedalaman laut Maratua yang menukik tajam hingga lebih dari 1.000 meter memberikan ruang manuver yang sempurna bagi mereka. Sejak pertama kali terlihat pada Mei 2025, frekuensi kemunculan seguni di perairan Maratua meningkat di bulan April dan Mei 2026, ini menjadi indikator kuat bahwa ekosistem laut Maratua sedang berada dalam kondisi yang sangat sehat. Mereka tidak akan datang jika “restoran alam” di Maratua tidak menyediakan stok hiu dan ikan pelagis yang melimpah.
Etika di Balik Lensa: Berkah Wisata atau Eksploitasi Konten?
Kehadiran hewan secantik Seguni jelas menjadi berkah luar biasa bagi pariwisata Berau. Namun, di sinilah peran kritis mahasiswa diuji. Masifnya dokumentasi yang viral di media sosial memicu kekhawatiran baru tentang keselamatan satwa ini.
Seguni adalah hewan yang sangat bergantung pada suara (echolocation) untuk berkomunikasi dan berburu. Riuhnya mesin-mesin kapal cepat yang berkerumun terlalu dekat demi mengejar konten video yang estetik dapat memicu stres berat pada mereka. Jika kenyamanan mereka terusik oleh ego manusia yang haus validasi digital, bukan tidak mungkin jalur tol laut ini akan mereka tinggalkan di tahun-tahun mendatang.
Menikmati keindahan Seguni di Maratua adalah sebuah kemewahan alam yang tidak dimiliki oleh semua daerah. Tugas kita, terutama generasi muda dan mahasiswa, bukan hanya menjadi perekam ulung di atas kapal. Kita harus menyuarakan pentingnya edukasi wisata (edu-tourism) yang membatasi jarak aman—minimal 50 hingga 100 meter—dan mematikan mesin kapal saat Seguni mendekat.
Seguni sudah memilih Maratua sebagai rumah singgahnya yang aman. Sekarang, pertanyaannya kembali kepada kita: Apakah kita mampu menjadi tuan rumah yang bijak, atau justru menjadi tamu yang berisik bagi penguasa samudra ini?
Penulis : Najla Lutfya mahasiswa PGSD Universitas Pamulang
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Seedbacklink

