Penyakit Pneumonia Intai Jemaah Haji 2026, Penderita Jantung dan Diabetes Paling Berisiko

Jurnalis: Achmad Salim
Kabar Baru, Jakarta – Kondisi kesehatan menjadi fokus perhatian serius bagi 221.000 umat Muslim Indonesia yang menunaikan ibadah haji pada tahun 2026.
Salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi para jemaah saat berada di Tanah Suci adalah pneumonia atau penyakit peradangan paru-paru.
Dokter spesialis dr. Decsa Medika Hereinto mengungkapkan bahwa pneumonia menempati urutan pertama sebagai penyakit yang paling sering menyebabkan jemaah haji Indonesia menjalani perawatan medis setiap tahun.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, dr. Decsa membagikan kisah nyata seorang jemaah yang terpaksa masuk ruang Intensive Care Unit (ICU) akibat sesak napas berat setibanya di tanah air.
Padahal, jemaah tersebut berangkat dalam kondisi yang sangat sehat walafiat.
“Perlu teman-teman ketahui, pneumonia ini adalah penyakit nomor satu yang bikin jemaah haji Indonesia dirawat di klinik kesehatan haji di Mekah setiap tahunnya,” tulis dr. Decsa dalam unggahannya yang dikutip Jurnalis Kabarbaru di Jakarta, Kamis (28/05/2026).
Pemicu Pneumonia di Tanah Suci
Menurut dr. Decsa, tingginya kasus peradangan paru-paru ini terjadi karena aktivitas fisik jemaah yang luar biasa berat selama menjalani ritual ibadah haji.
Seluruh jemaah rata-rata harus berjalan kaki hingga menempuh jarak hampir 63 kilometer.
Kondisi ini semakin menantang karena mereka harus berdesakan di antara sekitar 3 juta orang dari berbagai belahan dunia.
Selain kepadatan massa, jemaah juga harus menghadapi cuaca ekstrem di Arab Saudi yang memicu risiko sengatan panas (heat stroke).
Kombinasi faktor-faktor lingkungan ini menguras energi dan daya tahan tubuh secara drastis, sehingga virus maupun bakteri penyebab pneumonia dapat menyerang tubuh dengan jauh lebih ganas dari biasanya.
Risiko Komorbid dan Biaya Perawatan
Penyakit ini tidak boleh jemaah remehkan karena memiliki tingkat fatalitas atau angka kematian yang cukup tinggi, yaitu mendekati 20 persen.
Risiko tersebut akan melonjak berkali-kali lipat bagi jemaah yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.
“Jika kamu punya komorbid, risiko terkenanya pun lebih tinggi. Misal punya diabetes 3 kali lebih berisiko. Punya penyakit jantung 4 kali lebih berisiko,” tambah dr. Decsa.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa jemaah yang sudah terinfeksi pneumonia dan masuk rumah sakit rata-rata membutuhkan waktu pemulihan yang cukup lama, yakni sekitar 13 hari.
Proses perawatan intensif ini juga memerlukan biaya yang tidak sedikit hingga mencapai puluhan juta rupiah.
Pentingnya Menjaga Sistem Imun
Melihat besarnya risiko tersebut, dr. Decsa mengingatkan seluruh jemaah untuk memprioritaskan perlindungan sistem imun tubuh sejak dini.
Menjaga daya tahan tubuh tetap optimal harus jemaah lakukan baik sebelum jadwal keberangkatan maupun selama berada di Arab Saudi.
Sebagai langkah antisipasi, ia menyarankan jemaah untuk berkonsultasi secara mendalam dengan dokter penanggung jawab masing-masing.
Melalui konsultasi medis, jemaah bisa mendapatkan rekomendasi atau tindakan preventif yang tepat, seperti vaksinasi maupun asupan vitamin tambahan, agar dapat beribadah dengan lancar tanpa gangguan kesehatan.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Seedbacklink

