Menguji Arah Pendidikan Indonesia: Siapa Yang Sebenarnya Diberdayakan?

Editor: Bahiyyah Azzahra
Kabar Baru, Opini – Hari ini kita kembali bicara pendidikan. Tapi pertanyaannya sederhana: pendidikan ini sebenarnya sedang memberdayakan siapa?
Saya Muhamad Riyadh Fadild, Direktur Ruang Upgrading Indonesia, mahasiswa S2 Ilmu Pemerintahan, dan saya ingin mengajak kita jujur, walaupun mungkin tidak nyaman.
Kita sering mendengar narasi besar: Indonesia Emas, Merdeka Belajar, Transformasi Pendidikan. Tapi di lapangan, kita melihat realitas yang berbeda. Akses pendidikan masih timpang, dan kualitas masih ditentukan oleh lokasi serta kemampuan ekonomi. Artinya, sejak awal kita harus mengakui bahwa tidak semua anak Indonesia memulai dari garis yang sama.
Lalu kita bicara kurikulum. Berganti, diperbarui, disempurnakan, semuanya terdengar progresif. Tapi di balik itu, ada satu pertanyaan yang jarang dijawab: apakah perubahan ini benar-benar untuk siswa, atau hanya untuk memenuhi logika kebijakan?
Guru dipaksa adaptif dalam waktu singkat. Siswa mengikuti tanpa ruang untuk memahami. Dan sistem berjalan seolah semuanya baik-baik saja. Di titik ini, pendidikan tidak lagi terasa sebagai proses pembebasan, tapi lebih seperti mekanisme yang harus dijalankan.
Masuk ke ruang sekolah dan kampus, kita menemukan problem yang lebih sunyi: hilangnya budaya berpikir. Belajar menjadi rutinitas administratif, nilai menjadi tujuan utama, dan kejujuran akademik sering kali dikompromikan. Kita tidak sedang membangun tradisi intelektual, kita sedang membangun kebiasaan lulus.
Lalu bagaimana dengan mahasiswa? Mereka sering disebut sebagai agen perubahan, tapi ruang geraknya justru dipersempit. Organisasi ada, tapi dibatasi. Diskusi ada, tapi diarahkan. Kritik ada, tapi tidak selalu diterima. Pertanyaannya: bagaimana mungkin kita berharap lahir pemimpin kritis, kalau ruang kritisnya sendiri tidak dijaga?
Di sisi lain, kita juga terlalu sering lupa pada aktor paling penting: guru. Kita menuntut kualitas tinggi, tapi belum sepenuhnya memberikan distribusi yang adil, dukungan yang memadai, dan ruang berkembang yang layak. Guru akhirnya tidak tumbuh, tapi bertahan.
Sementara itu, dunia di luar berubah cepat. Teknologi berkembang, tantangan semakin kompleks. Tapi pendidikan kita masih sering tertinggal, terlalu teoritis dan terlalu jauh dari realitas. Akibatnya, banyak lulusan yang selesai pendidikan, tapi belum selesai memahami kehidupan.
Di titik ini, kita perlu berhenti bertanya “apa yang kurang dari siswa”, dan mulai bertanya: apa yang salah dari sistem yang kita pertahankan?
Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan sekadar refleksi, tapi juga keberanian untuk mengambil posisi. Bahwa pendidikan hari ini belum sepenuhnya menjadi alat pembebasan. Bahwa masih ada kepentingan, struktur, dan kebijakan yang perlu dikritisi. Bahwa pemberdayaan yang kita bicarakan, belum benar-benar dirasakan semua.
Runding percaya, pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang patuh, tapi harus melahirkan manusia yang berpikir dan berani bersikap. Kalau hari ini sistem belum sepenuhnya berpihak, maka kita tidak bisa hanya menunggu.
Kita harus membangun ruang-ruang baru. Ruang diskusi, ruang kritik, ruang tumbuh. Karena pada akhirnya, arah pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tapi juga oleh mereka yang berani mempertanyakannya.
Dan hari ini, pertanyaan itu harus terus kita hidupkan: pendidikan ini, sebenarnya sedang memberdayakan siapa?
Penulis : Muhamad Riyadh Fadild, Direktur Ruang Upgrading Indonesia (RUNDING), Mahasiswa S2 Ilmu Pemerintahan.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

