Kenapa Brand Beralih dari In-House ke Agency untuk Growth

Jurnalis: Azzahra Bahiyyah
Kabar Baru, Bandung – Di tengah kompleksitas digital marketing yang semakin tinggi, banyak brand mulai mempertimbangkan kembali strategi mereka: membangun tim internal (in-house) atau bekerja sama dengan digital marketing agency.
Keputusan ini menjadi krusial, terutama ketika bisnis memasuki fase growth dan membutuhkan hasil yang lebih terukur serta scalable.
In-House Marketing: Kuat di Kontrol, Lemah di Skalabilitas
Membangun tim in-house memang memberikan beberapa keuntungan, seperti:
- Kontrol penuh terhadap brand
- Komunikasi internal yang lebih cepat
- Pemahaman produk yang lebih mendalam
Namun di sisi lain, terdapat tantangan yang tidak kecil.
Tim in-house sering kali menghadapi:
- Keterbatasan skill (harus menguasai banyak channel sekaligus)
- Biaya tinggi (gaji, tools, training)
- Sulit melakukan scale dengan cepat
- Minim perspektif baru dari luar
Dalam praktiknya, satu orang marketing sering dipaksa menangani banyak hal sekaligus, seperti:
- Ads
- Konten
- Social media
- Analitik
Padahal, masing-masing bidang tersebut membutuhkan spesialis tersendiri.
Digital Marketing Semakin Kompleks
Di era saat ini, digital marketing tidak lagi sederhana. Brand harus memahami berbagai aspek, seperti:
- Algoritma platform (TikTok, Instagram, Meta Ads)
- Data conversion & tracking
- Content strategy
- Live commerce
- Funnel marketing
Tanpa tim yang lengkap dan berpengalaman, sulit bagi bisnis untuk mengoptimalkan semua aspek tersebut secara maksimal.
Agency: Solusi untuk Speed dan Expertise
Berbeda dengan in-house, digital marketing agency menawarkan:
- Tim spesialis di setiap bidang
- Pengalaman dari berbagai industri
- Eksekusi yang lebih cepat
- Fleksibilitas dan skalabilitas tinggi
Inilah alasan mengapa banyak brand mulai mengombinasikan atau bahkan beralih ke agency untuk mempercepat pertumbuhan bisnis mereka.
Namun, Tidak Semua Agency Sama
Meski agency menawarkan banyak keunggulan, tidak semua memberikan hasil yang nyata.
Beberapa masalah yang sering terjadi:
- Fokus pada vanity metrics (likes, views)
- Campaign berjalan tanpa dampak ke sales
- Tidak adanya sistem yang terintegrasi
Menurut Raynaldy, owner TBD Agency, inilah yang menjadi gap di industri:
“Banyak brand kecewa dengan agency karena hasilnya tidak terasa. Padahal masalahnya bukan di agency-nya saja, tapi di pendekatan yang tidak fokus ke revenue.”
Kenapa Brand Memilih TBD Agency Dibanding In-House?
TBD Agency hadir dengan pendekatan yang menjawab kelemahan in-house sekaligus memperbaiki kekurangan agency konvensional.
1. Tidak Perlu Bangun Tim Besar (Lebih Efisien Cost)
Membangun tim in-house lengkap membutuhkan:
- Ads specialist
- Content strategist
- Video editor
- Data analyst
Biayanya bisa sangat besar.
Dengan TBD Agency, brand langsung mendapatkan:
- Tim lengkap
- Sistem siap pakai
- Tanpa biaya hiring dan training
2. Lebih Cepat Eksekusi dan Scale
Salah satu kelemahan in-house adalah waktu:
- Proses hiring bisa berbulan-bulan
- Training membutuhkan waktu
- Trial-error yang tinggi
Sementara agency seperti TBD:
- Sudah memiliki sistem
- Sudah punya playbook
- Bisa langsung berjalan dan melakukan testing
3. Integrasi Ads, Konten, dan Live (End-to-End)
Tim in-house sering berjalan terpisah:
- Tim konten tidak sinkron dengan ads
- Live berjalan tanpa strategi
TBD Agency mengintegrasikan:
- Ads → menarik traffic
- Content → membangun trust
- Live → closing penjualan
Sehingga funnel marketing menjadi lebih optimal.
4. Fokus ke Profit, Bukan Sekadar Aktivitas
Tim in-house sering terjebak pada aktivitas, seperti:
- Posting rutin
- Campaign berjalan
- Ads aktif
Namun belum tentu menghasilkan profit.
TBD Agency menggunakan pendekatan:
- Data-driven
- KPI yang jelas
- Fokus pada revenue dan conversion
5. Infrastruktur yang Tidak Dimiliki In-House
Salah satu keunggulan TBD Agency adalah:
- 15–20 studio live streaming
- Talent tersertifikasi TikTok
- Sistem live selling yang terstruktur
Hal ini sulit dimiliki oleh tim in-house tanpa investasi yang besar.
Apakah In-House Tidak Penting?
Raynaldy menegaskan bahwa in-house tetap memiliki peran penting, terutama untuk:
- Brand identity
- Internal coordination
- Product knowledge
Namun untuk scale dan performance:
“In-house bagus untuk fondasi, tapi untuk growth, brand butuh partner yang punya experience dan speed.”
Model Ideal: Hybrid (In-House + Agency)
Banyak brand besar kini menggunakan pendekatan hybrid:
- In-house untuk brand dan internal
- Agency untuk performance dan scaling
Model ini dinilai paling efektif untuk menghadapi dinamika digital saat ini.
Growth Butuh Sistem, Bukan Sekadar Tim
Di era digital yang semakin kompleks, membangun tim saja tidak cukup. Brand membutuhkan:
- Sistem
- Strategi
- Eksekusi yang cepat dan terukur
Dalam hal ini, TBD Agency hadir sebagai partner yang membantu brand tidak hanya menjalankan marketing, tetapi juga membangun sistem growth yang berkelanjutan.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

