Fenomena Duduk Seharian di Coffee Shop, Wajar atau Berlebihan?

Editor: Bahiyyah Azzahra
Kabar Baru, Opini – Dalam beberapa tahun terakhir, coffee shop telah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa Indonesia. Tempat yang dulunya hanya digunakan untuk menikmati kopi kini berubah menjadi ruang belajar, tempat mengerjakan tugas, rapat organisasi, hingga kelas daring.
Tidak sulit menemukan mahasiswa yang membeli satu minuman promo seharga Rp18.000–Rp25.000, lalu duduk selama berjam-jam sambil menggunakan WiFi, colokan listrik, AC, dan kursi yang disediakan. Fenomena ini sangat umum ditemukan di berbagai jaringan coffee shop, termasuk Kopi Kenangan, Janji Jiwa, Fore Coffee, Tomoro Coffee, dan berbagai kafe lokal di sekitar kampus.
Banyak orang menganggap perilaku tersebut wajar karena pelanggan telah membeli produk. Namun, saya berpendapat bahwa kebiasaan membeli satu minuman murah lalu menggunakan fasilitas coffee shop selama berjam-jam adalah perilaku yang kurang etis.
Walaupun tidak melanggar aturan tertulis, tindakan tersebut menunjukkan ketidakseimbangan antara manfaat yang diterima dengan kontribusi yang diberikan kepada pemilik usaha.
Fenomena mahasiswa belajar di coffee shop memang nyata. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa coffee shop telah berkembang menjadi ruang belajar alternatif bagi mahasiswa. Penelitian Universitas Nasional tahun 2026 menemukan bahwa mahasiswa memanfaatkan coffee shop karena adanya WiFi, stop kontak, suasana nyaman, serta lingkungan yang mendukung produktivitas belajar.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa coffee shop berfungsi sebagai “ruang ketiga” selain rumah dan kampus yang mampu meningkatkan motivasi belajar mahasiswa.
Penelitian lain dari Universitas Negeri Surabaya menunjukkan bahwa fasilitas menjadi salah satu faktor utama yang dipertimbangkan mahasiswa dalam memilih coffee shop. Selain kualitas produk, mahasiswa sangat memperhatikan ketersediaan fasilitas seperti WiFi, suasana, dan kenyamanan tempat.
Penelitian dari UIN Sunan Kudus juga menemukan bahwa mahasiswa memilih coffee shop karena fleksibilitas waktu, kenyamanan fisik, akses internet, serta tersedianya listrik untuk mendukung aktivitas belajar mereka.
Kata tersebut membuktikan bahwa mahasiswa memang tidak datang hanya untuk membeli kopi.
Mereka datang untuk memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Masalahnya, banyak mahasiswa kemudian menganggap bahwa satu gelas kopi murah sudah cukup untuk “membayar” seluruh fasilitas tersebut selama berjam-jam. Menurut saya, cara berpikir ini keliru.
Coffee shop bukanlah perpustakaan umum atau fasilitas kampus yang didanai untuk kepentingan pendidikan. Coffee shop adalah bisnis yang harus memperoleh keuntungan agar dapat bertahan. Setiap colokan yang digunakan untuk mengisi daya laptop, setiap jam penggunaan WiFi, setiap kursi yang ditempati, dan setiap ruangan ber-AC yang dinikmati pelanggan memiliki biaya operasional yang nyata. Pemilik usaha harus membayar listrik, internet, gaji karyawan, sewa bangunan, pajak, dan berbagai biaya lainnya.
Ketika seorang mahasiswa membeli minuman promo Rp20.000 lalu menggunakan tempat selama lima atau enam jam, sebenarnya terjadi ketimpangan antara apa yang diberikan dan apa yang diterima. Secara ekonomi mungkin transaksi tersebut sah.
Namun secara etika, pelanggan memperoleh manfaat yang jauh lebih besar daripada kontribusi yang diberikannya. Situasi ini menjadi lebih buruk ketika coffee shop sedang ramai dan pelanggan lain kesulitan mendapatkan tempat duduk karena kursi telah ditempati berjam-jam oleh orang yang hanya membeli satu produk.
Sebagian orang berargumen bahwa jika coffee shop tidak membuat aturan batas waktu, berarti pelanggan bebas duduk selama yang mereka inginkan. Saya tidak sepenuhnya setuju. Etika tidak hanya berbicara tentang apa yang diperbolehkan, tetapi juga tentang apa yang pantas dilakukan.
Banyak tindakan yang legal tetapi tetap tidak etis. Misalnya, menyerobot antrean mungkin tidak selalu melanggar hukum, tetapi tetap dianggap tidak sopan karena merugikan orang lain. Begitu pula dengan menggunakan fasilitas coffee shop secara berlebihan tanpa memberikan kontribusi yang seimbang.
Fenomena ini bahkan telah melahirkan istilah “Rojali” atau “rombongan jarang beli”, yaitu kelompok pelanggan yang menghabiskan waktu lama di kafe tetapi melakukan pembelian yang sangat minim. Fenomena tersebut menjadi keluhan bagi banyak pelaku usaha karena kursi dan fasilitas yang tersedia tidak menghasilkan pendapatan yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Menurut saya, mahasiswa sering menggunakan alasan “hemat” untuk membenarkan perilaku tersebut. Padahal, hemat dan memanfaatkan secara berlebihan adalah dua hal yang berbeda. Jika seseorang memang membutuhkan tempat belajar selama enam jam, maka membeli tambahan makanan atau minuman setelah beberapa waktu merupakan bentuk penghargaan terhadap pemilik usaha.
Alternatif lainnya adalah menggunakan perpustakaan kampus yang memang dirancang sebagai ruang belajar dan tidak bergantung pada keuntungan bisnis.
Sebagai mahasiswa, kita sering menuntut etika dari perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Namun etika juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat menjadi konsumen. Menggunakan fasilitas bisnis secara berlebihan sambil memberikan kontribusi yang sangat minim menunjukkan kurangnya empati terhadap pihak yang menyediakan fasilitas tersebut. Jika semua pelanggan melakukan hal yang sama, banyak coffee shop akan kesulitan mempertahankan kualitas layanan mereka.
Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa kebiasaan membeli satu minuman promo lalu duduk berjam-jam di coffee shop merupakan perilaku yang kurang etis. Meskipun tidak melanggar aturan tertulis, tindakan tersebut tidak mencerminkan prinsip keadilan dan tanggung jawab sosial.
Sebagai mahasiswa yang terdidik, kita seharusnya tidak hanya memikirkan bagaimana mendapatkan manfaat sebanyak-banyaknya dengan biaya sekecil-kecilnya, tetapi juga bagaimana menghargai usaha orang lain secara adil dan proporsional.
Penulis : Nazwa Aprilia Putri Sugiharto & Nidaul Fahira
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
