Depresiasi Mata Uang Iran: Dampak Sanksi Internasional dan Ketidakstabilan Ekonomi
Editor: Bahiyyah Azzahra
Kabar Baru, Opini – Nilai tukar mata uang merupakan indikator penting dalam mencerminkan stabilitas ekonomi suatu negara. Dalam beberapa tahun terakhir, Iran menghadapi tekanan berat terhadap mata uangnya, yaitu rial, yang terus mengalami depresiasi tajam terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari kombinasi faktor eksternal dan internal yang saling memperkuat.
Penurunan tajam nilai mata uang Iran disebabkan oleh beberapa faktor, sebagai berikut:
1. inflasi
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran mengalami inflasi yang sangat tinggi, bahkan mencapai lebih dari 40% per tahun. Kondisi ini disebabkan oleh kebijakan moneter yang kurang stabil, seperti pencetakan uang dalam jumlah besar untuk menutupi defisit anggaran. Dampaknya, daya beli masyarakat menurun drastis dan kepercayaan terhadap mata uang domestik semakin melemah.
Info Nasional.
2. pertumbuhan ekonomi yg rendah.
karena tingginya ketergantungan ekspor pada sektor minyak. Ketika ekspor minyak terganggu akibat sanksi, sumber pendapatan utama negara ikut tertekan, sehingga memperburuk kondisi fiskal dan moneter.
3. Ketidakstabilan politik dan konflik geopolitik
Konflik dengan negara lain serta ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkatkan risiko investasi dan menciptakan ketidakpastian ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat dan pelaku ekonomi cenderung mengalihkan aset mereka ke mata uang asing seperti dolar AS atau emas sebagai bentuk perlindungan nilai, yang pada akhirnya semakin menekan nilai rial.
4. pencetakan uang dalam jumlah besar
Pemerintah Iran sering menghadapi defisit anggaran Ketidakstabilan ekonomi yang dipengaruhi oleh faktor internal, seperti kebijakan fiskal dan moneter yang kurang efektif, sehingga membuat iran membuat kebijakan untuk mencetak uang dalam jumlah besar. Kebijakan ini meningkatkan jumlah uang beredar tanpa diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang memadai, sehingga mempercepat laju inflasi dan memperlemah nilai mata uang.
Depresiasi mata uang Iran bukan sekadar perubahan nilai tukar, melainkan cerminan tekanan struktural dalam perekonomian, yang dipicu oleh inflasi tinggi, pertumbuhan ekonomi lemah, ketidakpastian geopolitik, serta kebijakan moneter yang kurang terkendali. Selama akar masalah ini belum ditangani secara mendasar, nilai rial akan terus tertekan. Oleh karena itu, stabilisasi memerlukan langkah komprehensif berupa penguatan kebijakan fiskal dan moneter, diversifikasi ekonomi di luar sektor minyak, serta penurunan ketegangan politik untuk mendorong investasi dan perdagangan; tanpa perbaikan struktural tersebut, depresiasi berpotensi terus berulang.
Penulis : Adiek Dias Saputra, FEB, Prodi Manajemen, Universitas Pancasakti Tegal.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

