Aktivis Karbitan: Ketika Panggung Keadilan Hanya Menjadi Konten Digital

Jurnalis: Agung Wahyudi
Kabar Baru, Opini – Riuh rendah media sosial hari ini tidak pernah sepi dari teriakan keadilan. Setiap kali ada isu nasional yang memanas mulai dari krisis lingkungan, ketimpangan hukum, hingga kebijakan politik yang kontroversial kolom komentar langsung dipenuhi oleh narasi-narasi heroik. Di satu sisi, ini adalah bukti bahwa digitalisasi berhasil mendemokratisasi suara publik. Namun di sisi lain, fenomena ini melahirkan sebuah tren baru yang mengkhawatirkan: lahirnya para aktivis karbitan.
Terminologi “karbitan” merujuk pada sesuatu yang dipaksa matang sebelum waktunya menggunakan zat kimia. Dalam konteks gerakan sosial, aktivis karbitan adalah mereka yang mendadak vokal, mendadak peduli, dan mendadak menjadi “pahlawan” di media sosial, bukan karena panggilan ideologis yang mendalam, melainkan karena didorong oleh arus tren, algoritma, atau demi menaikkan impresi digital pribadi.
Karakteristik “Aktivisme Instan”
Bagaimana kita bisa mengenali fenomena aktivis karbitan ini? Ada beberapa pola yang sangat mencolok:
Reaktif Tanpa Riset: Mereka sangat cepat membagikan (share) atau membuat konten tentang isu yang sedang trending, namun gagap saat diajak berdiskusi mengenai akar permasalahannya. Basis argumennya sering kali hanya sebatas potongan video 15 detik atau utas (thread) pihak lain yang belum tentu valid.
Aktivisme Musiman: Kepedulian mereka memiliki tanggal kedaluwarsa. Begitu isu tersebut tenggelam dan digantikan oleh gosip artis atau tren baru, kepedulian mereka pun ikut menguap. Isu kemanusiaan hanya dianggap sebagai komoditas konten sementara.
Narsisme Digital: Fokus utamanya sering kali bergeser dari subjek yang dibela menjadi siapa yang membela. Validasi publik berupa jumlah likes, views, dan pujian “kamu keren banget ya peduli isu ini” menjadi tujuan akhir yang lebih penting daripada dampak nyata di lapangan.
Dampak Buruk Bagi Gerakan Sosial yang Sebenarnya
Mungkin ada yang berargumen, “Daripada diam, mending bersuara meskipun cuma ikut-ikutan?”
Tentu, meningkatkan kesadaran (awareness) itu baik. Namun, aktivisme karbitan yang dangkal justru bisa merugikan gerakan sosial yang sesungguhnya karena beberapa alasan kritis:
1. Polusi Informasi dan Simplifikasi Isu
Masalah sosial-politik biasanya bersifat kompleks dan sistemik. Ketika aktivis karbitan menyederhanakan masalah demi konten yang mudah dicerna, esensi perjuangan sering kali terdistorsi. Akibatnya, publik mendapatkan pemahaman yang keliru.
2. Mengaburkan Suara Aktivis Lapangan
Pejuang literasi, pembela hak masyarakat adat, dan aktivis lingkungan yang bertahun-tahun merawat basis massa di akar rumput sering kali kalah panggung dari mereka yang bermodal kamera bagus dan retorika estetik di TikTok atau Instagram.
3. Menyebabkan Fatigue (Kelelahan) Sosial
Ketika publik disuguhi kemarahan yang meluap-luap setiap hari tanpa adanya solusi atau aksi nyata yang konsisten, masyarakat akan mengalami compassion fatigue—kejenuhan emosional yang membuat mereka akhirnya menjadi apatis terhadap isu apa pun.
Bergerak Lebih Dalam: Dari “Klik” Menuju “Aksi”
Kita tidak boleh terjebak dalam romantisme aktivisme digital yang semu. Mengklik tombol retweet, menandatangani petisi daring, atau memasang twibbon adalah langkah awal yang sah-sah saja, tetapi itu bukanlah akhir dari perjuangan.
Jika kita memang peduli pada sebuah isu, kita harus bersedia meluangkan waktu untuk membaca data, mendengarkan korban secara langsung, memahami regulasi, dan jika memungkinkan, terlibat dalam aksi-aksi nyata di tingkat lokal sekecil apa pun itu.
Menjadi aktivis bukan tentang siapa yang paling cepat membuat konten saat isu sedang hangat. Menjadi aktivis adalah tentang konsistensi, daya tahan, dan kesediaan untuk tetap berdiri membela kebenaran, bahkan ketika lampu sorot kamera media sosial sudah lama padam.
Jangan sampai kita hanya menjadi barisan “karbitan” yang layu sebelum berkembang, meninggalkan isu yang kita bela tanpa perubahan apa pun selain tumpukan konten digital yang usang.
Penulis: Mufti Ali
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
