Intip Strategi PTPN IV Regional III Naikkan Drastis Pendapatan Petani Sawit Riau

Jurnalis: Moh Nasir
kabarbaru, PEKANBARU – PTPN IV PalmCo terus menggenjot program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Provinsi Riau. Langkah strategis ini dilakukan untuk mendongkrak produktivitas sawit rakyat sekaligus memperkuat pasokan bahan baku demi mendukung implementasi kebijakan mandatori biodiesel B50 yang akan berlaku mulai 1 Juli 2026.
Hingga akhir tahun 2025, PTPN IV PalmCo melalui entitasnya, PTPN IV Regional III, tercatat telah meremajakan 12.600 hektare (ha) lahan sawit petani di Riau. Program berkelanjutan ini sudah dimulai sejak revitalisasi perkebunan tahun 2012 dan diteruskan melalui program PSR sejak 2019. Pada tahun 2026 ini, perusahaan menargetkan tambahan peremajaan lahan seluas 4.500 ha di Bumi Lancang Kuning.
“Insya Allah, sampai akhir tahun ini program peremajaan sawit di Riau dapat mencapai total 17.100 hektare. Alhamdulillah progresnya sangat baik, dan rekan-rekan petani juga sangat antusias terhadap program PSR ini,” ujar Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso, dalam keterangan tertulisnya di Pekanbaru, Jumat (19/6/2026).
Untuk mengejar target tersebut, Bambang menjelaskan bahwa pihaknya melalui Distrik Petani Mitra terus mempercepat seluruh tahapan kerja. Akselerasi dimulai dari pendataan luasan lahan, proses verifikasi, hingga penerbitan rekomendasi teknis (Rekomtek).
ProduktivitasProgram PSR ini menjadi inisiatif krusial dari PTPN IV PalmCo untuk memangkas ketimpangan produktivitas yang selama ini terjadi antara perkebunan sawit rakyat dan korporasi. Berdasarkan data dari berbagai sumber, rata-rata produktivitas sawit petani Indonesia saat ini masih berkisar 7–12 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektare per tahun. Angka tersebut tertinggal jauh dari produktivitas sawit korporasi yang mampu menembus lebih dari 20 ton per hektare per tahun.
Melalui program kemitraan ini, ketimpangan tersebut berhasil dipangkas. Bambang, yang merupakan alumni Fakultas Ekonomi Universitas Riau, memaparkan bahwa produktivitas sawit petani mitra PTPN IV Regional III melonjak signifikan setelah replanting.
Petani mitra yang tergabung dalam koperasi dan mengikuti program revitalisasi kini mampu menghasilkan produktivitas hingga 29,10 ton/ha/tahun. Sementara itu, ribuan petani mitra yang mengikuti program PSR dengan usia tanaman menghasilkan tiga (TM-3) berhasil mencatat produktivitas 23,94 ton/ha/tahun. Capaian ini berada jauh di atas standar rata-rata yang ditetapkan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), yaitu sebesar 19 ton/ha/tahun.
Lebih lanjut, Bambang menuturkan bahwa akselerasi PSR yang digagas oleh Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, merupakan komitmen nyata perusahaan dalam menyukseskan kebijakan B50 pemerintah. Kebijakan ini mewajibkan pencampuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit ke dalam bahan bakar solar.
Implementasi B50 yang dijadwalkan mulai berjalan awal Juli 2026 ini diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun sepanjang tahun 2026 akibat berkurangnya impor BBM solar.
“Kami ingin berkontribusi meningkatkan produksi CPO nasional dengan memperkuat petani. Jika produksi rekan-rekan petani meningkat, kita bisa bersama-sama mendukung kebijakan pemerintah untuk menjadikan sawit sebagai pilar energi baru terbarukan,” tegas Bambang.
Sejak pertama kali berdiri, PTPN IV Regional III telah menjalin kemitraan plasma seluas 56.500 hektare yang melibatkan sedikitnya 28.000 petani. Keberhasilan program peremajaan ini diakui tidak lepas dari sinergi erat dengan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) sebagai mitra strategis.
Selain peremajaan fisik lahan, perusahaan juga aktif mendistribusikan bibit unggul bersertifikat untuk memastikan kualitas tanaman baru. Sejak 2019, entitas ini telah menyalurkan sedikitnya 2,56 juta bibit sawit unggul kepada 8.900 petani.
Bambang menegaskan, tingginya kepercayaan petani didorong oleh penerapan pola single management yang transparan. Melalui pola manajemen satu pintu ini, kultur teknis perkebunan petani disetarakan dengan standar tinggi perusahaan. Standar ini mencakup proses penumbangan pohon renta, penggunaan bibit unggul bersertifikat, teknik penanaman, pemupukan presisi, hingga pemeliharaan berkala.
PTPN IV juga memberikan pendampingan komprehensif, penguatan kelembagaan koperasi, serta pelatihan berkelanjutan agar petani memiliki kapasitas penuh dalam mengelola perkebunan yang ramah lingkungan. Dengan seluruh modalitas ini, PTPN IV Regional III optimistis sektor sawit rakyat di Riau akan terus bertumbuh, memperkuat pendapatan petani, dan menjadi tulang punggung keberlanjutan energi nasional.(Rahmad)
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Radar Baru
Seedbacklink
