Si Bisu Gugur | Puisi-Puisi Muhammad Walid

Editor: Khansa Nadira
Si bisu gugur
Angin awal kemarau datang
menyerbu daun-daun tua
yang renta lalu berguguran
meski bertahan di sisa tenaga
Layu dan kering: terlepas
pasrah pada angin
di mana tanah mengeras
ia sampah tak diingin
Kehendak tak lagi bernafas
asa daun kini telah fana
si bisu gugur terhempas
namun batinku yang terluka
Taman pasir
Gemuruh menerjang karang
di pantai damai nan permai
bagaimana akan aku terjang
gelombang yang bukan rinai
Biarlah hati membatu
menjaga tenteram pesisir
meski ombak gerus waktu
taman pasir enggan berakhir
Akankah tepi laut ini kuat
menghalau debur setiap waktu
ataukah ia akan terjerat
tersapu badai yang menderu
Kini aku mau bagaimana
bibir pantai mulai terkikis
gelora samudra mengena
maka waktu akan menulis
Luka takdir
malam menuju akhir
kala kutulis luka takdir
cintamu tiada berakhir
meski hati kita getir
luka rindu diiris sembilu
menyayat rasa di kalbu
ketika kutahu bahwa aku
permata hati pertamamu
alur asmara di hati kita
hanya sebatas umur senja
dihapus oleh gelap gulita
sebelum kita saling mesra
bagaikan lampu temaram
sisa rindu di waktu senja
setitik cahaya saat malam
jadi penerang kala gulana
tak perlu menyesali malam
yang hapus indahnya senja
ini sudah hukum semesta
ujung senja berakhir kelam
menghunjam dalam rasa
luka takdir pada kita
tapi acap kali kita nikmati
tengah malam yang sepi
*Penulis adalah Muhammad Walid, Guru SMK Darul Ulum SLP Pamekasan, Madura.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
Kita Notice
Warta IDN
Seedbacklink

