Riza Chalid Perintahkan Kapal Minyak Putar Balik saat Indonesia Krisis BBM

Jurnalis: Hanum Aprilia
Kabar Baru, Jakarta – Sosok saudagar minyak M. Reza Chalid (MRC) kembali mengguncang stabilitas energi nasional.
Buron internasional ini diduga kuat menjadi otak di balik aksi putar haluan dua kapal tanker raksasa (Very Large Crude Carrier) bermuatan minyak mentah pesanan PT Pertamina pada Maret 2026.
Meski kontrak telah ditandatangani dan kapal sudah memasuki perairan Indonesia, kargo tersebut mendadak berbalik arah menuju Singapura atas perintah sang penjual.
Langkah provokatif MRC ini disinyalir sebagai upaya penyelamatan aset pribadi.
Sebagai tersangka utama kasus korupsi tata kelola minyak mentah periode 2018–2023 yang merugikan negara Rp285 triliun, Riza diduga khawatir aparat penegak hukum akan menyita kedua kapal tersebut sebagai barang bukti jika bersandar di pelabuhan Indonesia.
Prabowo Lawan Sabotase Energi
Tindakan MRC ini memicu reaksi keras dari Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana, Jakarta. Pemerintah menganggap aksi tersebut sebagai ancaman serius bagi pasokan BBM nasional menjelang arus mudik 2026.
Menanggapi sabotase ini, Indonesia mengancam akan menggugat pihak penjual atas pelanggaran kontrak secara sepihak.
Tekanan diplomatik dan hukum dari pemerintah akhirnya memaksa pihak penjual untuk mengirim kembali kargo minyak tersebut pada 18 Maret 2026.
Kejadian ini semakin menegaskan posisi MRC sebagai sosok yang mampu memengaruhi arus distribusi energi nasional dari tempat persembunyiannya di luar negeri.
Kedekatan Diplomatik dan Status Buron
Drama pelarian Riza Chalid juga menyeret perhatian internasional, terutama setelah kunjungan Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Seri Anwar Ibrahim, ke Istana Merdeka pada 27 Maret 2026.
Pertemuan selama tiga jam tersebut memicu spekulasi mengenai lobi-lobi status hukum MRC, mengingat hubungan akrab antara sang buron dengan PM Malaysia tersebut.
Kedekatan ini diperkuat oleh pernyataan Koordinator Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman, yang menyebut Riza Chalid telah menjalin ikatan kekeluargaan dengan salah satu kesultanan di Malaysia.
“Sultan itu kalau tidak dari negara bagian J, atau dari negara bagian K,” ungkap Boyamin.
Hingga kini, publik menanti ketegasan pemerintah RI untuk mengekstradisi Riza Chalid.
Meskipun ia memiliki jaringan kuat di tingkat regional, komitmen Presiden Prabowo dalam memberantas mafia migas menjadi ujian krusial untuk menuntaskan kerugian negara yang mencapai angka fantastis tersebut.
Insight NTB
Suara Time
Lens IDN
Daily Jogja
Jalan Rakyat
Idealita News
AYO Nusantara
Seedbacklink

