Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Heboh Mafia Riset di Denmark, Brian Yuliarto: Pelaku Bukan Dosen Aktif Indonesia

Desain tanpa judul - 2026-05-30T102755.938
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Brian Yuliarto (Foto: Kompas).

Jurnalis:

Kabar Baru, Jakarta – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, akhirnya buka suara terkait dugaan manipulasi riset oleh sejumlah warga negara Indonesia (WNI) di konferensi ilmiah internasional ISPPD 2026.

Brian mengungkapkan bahwa para pelaku yang terlibat dalam skandal tersebut bukan merupakan dosen ataupun peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia.

“Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia,” ujar Brian dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalis Kabarbaru di Jakarta, Sabtu (30/05/2026).

Meski mereka tidak terdaftar di institusi dalam negeri, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berjanji akan tetap mengambil tindakan tegas jika dugaan tersebut terbukti benar.

Menurut Brian, kasus ini sangat penting karena berpotensi merusak citra dan persepsi publik terhadap ekosistem riset nasional secara global.

Pemerintah Selidiki Afiliasi Pelaku

Saat ini, Kemdiktisaintek sedang melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait untuk mendalami fakta yang sebenarnya.

Pemerintah ingin memastikan status hukum pelaku, bentuk afiliasi yang mereka gunakan, hingga kemungkinan adanya keterkaitan dengan lembaga riset atau kampus di Indonesia.

Namun, Brian juga meminta semua pihak untuk tetap tenang dan mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam melihat persoalan ini.

“Semua pihak perlu diberikan ruang klarifikasi, dan setiap dugaan perlu diverifikasi secara objektif berdasarkan bukti serta mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian,” tambah Brian.

Ia menegaskan bahwa praktik buruk seperti fabrikasi data, falsifikasi, ataupun penyalahgunaan afiliasi akademik merupakan tindakan yang melanggar hukum dan tidak memiliki ruang di dunia pendidikan.

Kendati demikian, masyarakat harus melihat kasus ini secara proporsional karena mayoritas peneliti, dosen, dan mahasiswa Indonesia tetap bekerja secara profesional dan menjunjung tinggi kode etik.

Terbongkarnya Riset di Kopenhagen

Skandal dugaan pemalsuan riset ini pertama kali mencuat ke publik setelah dua peneliti Indonesia, Wa Ode Dwi Daningrat dan Ida Bagus Mandhara Brasika, membongkar kejanggalan tersebut.

Kasus ini bermula dari pelaksanaan konferensi ilmiah internasional ISPPD 2026 yang berlangsung di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026 lalu.

Dalam acara bergengsi tersebut, sekelompok periset asal Indonesia yang terdiri dari Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti mempresentasikan sejumlah hasil penelitian yang terlihat sangat impresif.

Namun, setelah pengamat melakukan penelusuran lebih mendalam, muncul kecurigaan kuat bahwa data penelitian tersebut merupakan hasil fabrikasi alias fiktif dan tidak pernah mereka lakukan secara nyata.

Melalui akun Threads pribadinya pada Senin (25/05/2026), Mandhara Brasika menumpahkan kekhawatirannya mengenai dampak fatal dari tindakan memalukan ini.

“Dampaknya fatal. Bukan hanya ke pelaku, tapi semua peneliti dari Indonesia kena getahnya. Kredibilitas Indonesia dipertanyakan,” tulis Mandhara.

Hingga berita ini naik, pihak-pihak yang mendapat tuduhan belum memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan pemalsuan riset yang mencoreng nama baik komunitas ilmiah Indonesia tersebut.

Kabarbaru Network

About Our Kabarbaru.co

Kabarbaru.co menyajikan berita aktual dan inspiratif dari sudut pandang berbaik sangka serta terverifikasi dari sumber yang tepat.

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store